1 week ago

Memupuk Perjuangan Damai di Kalangan Mahasiswa Lampung

Aliansi Indonesia Damai- “Apakah ada cara sebagai mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, berpikir analitis agar terhindar dari doktrin terorisme, misalnya dalam membedakan antara fakta dan hoaks, atau antara informasi yang valid dan tidak?”

Demikian Fauziyah, mahasiswa Universitas Lampung, menyampaikan kegelisahannya dalam acara Diskusi Indonesia Tangguh: “Belajar dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” pada Desember 2023 lalu. Kegiatan terselenggara berkat kerja sama AIDA dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung (FISIP Unila).

Baca juga Bersama Mengampanyekan Indonesia Damai

Mendapatkan pertanyaan tersebut, para narasumber, yakni Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama FISIP Unila, Dedy Hermawan, dan Hasibullah Satrawi, Ketua Pengurus AIDA, mengutarakan pemikirannya.

Dedy mengatakan, masalah terorisme di Indonesia muncul karena doktrin kekerasan. Doktrin itu muncul bisa bersumber dari agama, ideologi, atau keyakinan. Menurut pengamatannya, alasan seseorang termakan oleh doktrin karena tidak melakukan check and re-check atau proses periksa ulang. Maka, lanjutnya, doktrin harus dikritisi, walaupun dalam alam demokrasi setiap pandangan mempunyai kebebasan. Membaca buku apa pun, bergabung dengan kelompok apa pun, kata dia, pada dasarnya dilindungi konstitusi namun harus dipastikan tidak bertentangan dengan norma atau aturan yang ada di Indonesia.

Baca juga Dosen Unila: “Anak Muda Harus Bisa Memfilter Informasi”

Maksud dari kebebasan membaca pemikiran-pemikiran beragam, Dedy melanjutkan, hanya untuk konteks diskusi. Tapi, ketika melangkah pada tindakan-tindakan yang konkret apalagi jelas melanggar hukum yang ada, maka muncul masalah dan wajib ditinggalkan.

Ia menganjurkan setiap untuk selalu membuka ruang diskusi dan tidak menutup diri dalam aspek doktrin, apa pun itu. Agar tidak terpengaruh doktrin yang sesat, kata dia, mahasiswa harus berdiskusi dengan banyak pihak, termasuk dosen ketika mengajar. Dia menyarankan, baiknya mahasiswa membiasakan untuk terjadinya dialog karena akan membuka pemikiran baru.

Baca juga Menggugah Semangat Perdamaian Kaum Aktivis di Unmal

Critical thinking pada mahasiswa yaitu ketika ada suatu pernyataan, maka jangan langsung ditelan mentah-mentah, namun harus dikaji apa paradigmanya, apa logika dasarnya, dan harus dibedah,” ujarnya.

Pada akhir paparannya, Dedy mengingatkan mahasiswa sebagai kaum terpelajar bangsa untuk mewujudkan perdamaian. Cita-cita besar tersebut, katanya, tidak bisa diraih dengan kerja sendiri-sendiri, sebab sumber permasalahannya kompleks.

Baca juga Menumbuhkan Budaya Memaafkan di Kalangan Generasi Muda

Sementara itu, Hasibullah menambahkan penjelasan Dedy dengan mengaitkan titik temu sekaligus titik rawan pada mahasiswa yang bisa dimanfaatkan kelompok teroris. Titik temu sekaligus titik rawan yang dia maksud yaitu status dan sifat umum mahasiswa sebagai pejuang idealisme.

Hasibullah yang juga seorang analis politik Timur Tengah dan dunia Islam itu menyampaikan bahwa kelompok teroris seringkali menggunakan nilai dan idealisme dalam menyebarkan pemahaman mereka. Misalnya, dia mencontohkan, tentang kehidupan bernegara yang ideal. Kelompok teroris, kata dia, berjiwa solider, ingin membela orang yang tertindas, sama seperti kaum mahasiswa. Mereka menggunakan term-term positif, seperti mujahidin yang artinya pejuang.

Baca juga Perdamaian Wajib Diperjuangkan

Mengantisipasi doktrin seperti ini, menurutnya, bisa dilakukan dengan mencermati batas-batas praktiknya. Hasibullah menekankan ada batas konstitusi hukum dan aksi kekerasan. Jika suatu kelompok mengajak memperjuangkan idealismenya menggunakan kekerasan, maka harus berhenti.

“Tidak ada sejarah yang banyak menimbulkan korban dan darah selain sejarah pergantian politik. Sekarang ini kita bisa melihat yang terjadi di Suriah, Irak dan negara-negara Timur Tengah lainnya,” ujar alumni Al-Azhar Kairo ini.

Baca juga Mahasiswa Unila: “Kisah Korban dan Mantan Pelaku Penuh Wawasan”

Hasibullah optimis perdamaian tanpa kekerasan masih mungkin dilakukan di Indonesia. Ia mencontohkan gerakan reformasi yang terbukti tidak banyak memakan korban tapi secara relatif cukup berhasil mengentaskan bangsa dari keterpurukan. Oleh sebab itu, mahasiswa harus berperan dalam memelihara dan mencontoh semangat gerakan reformasi itu untuk mewujudkan perdamaian. [MSH]

Baca juga Mahasiswa Duta Perdamaian Bangsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *