HomeBeritaMenyingkap Akar Terorisme

Menyingkap Akar Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Dalam kegiatan “Diskusi dan Bedah buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya” yang digelar AIDA secara daring bersama mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya, Kamis (6/8 2020) lalu, salah seorang peserta bertanya, “Apa sebenarnya gen atau akar dari terorisme? Apakah sosio-ekonomi, ketimpangan kelas, politik atau ada faktor lainnya?”

Menanggapi pertanyaan tersebut, Solahudin, peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi UI yang menjadi salah satu narasumber kegiatan, mengungkapkan bahwa pelaku tindak terorisme tidak dipengaruhi oleh faktor tunggal.

Baca juga Menjaga Kampus dari Ekstremisme

Jika problem ekonomi dianggap sebagai faktor pendorong individu terlibat terorisme, faktanya banyak narapidana terorisme yang tidak tergolong miskin. “Ada banyak pelaku justru tergolong orang-orang mampu,” katanya.

Begitu pula faktor pendidikan. Solah, sapaan akrab Solahudin, mencontohkan salah satu pelaku Bom Bali, Dr. Azhari, yang berpendidikan tinggi dan menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Malaysia. Namun nyatanya, jenjang pendidikan tidak menjamin seseorang kebal dari virus terorisme.

Baca juga Mewaspadai Propaganda Daring Ekstremis

Dalam pandangannya, seseorang bisa tertarik ke dalam jaringan terorisme lantaran satu faktor, namun kemudian ada faktor lanjutan lain yang mengikutinya. “Misalnya seseorang mempunyai masalah ekonomi maupun masalah lainnya. Setelah itu dia memutuskan bergabung dengan kelompok teror karena merasa kelompok tersebut berhasil menyelesaikan masalah yang ia alami,” ujarnya.

Pengalaman pribadi Ali Fauzi, mantan anggota Jamaah Islamiyah yang pernah terlibat dalam pertempuran bersama kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF) di Filipina menunjukkan variasi faktor pendorong yang lain. Dalam kesempatan yang sama, Ali mengungkapkan bahwa dirinya bergabung jaringan ekstremisme lebih karena faktor kekeluargaan (kinship) dan faktor pertemanan (friendship). “Saya diajak kakak-kakak saya yang lebih dulu bergabung,” katanya.

Baca juga Elemen Utama Propaganda Ekstremisme

Sosok yang dimaksud Ali adalah tiga orang pelaku Bom Bali, yaitu Ali Ghufron alias Mukhlas, Amrozi, dan Ali Imron.

Berdasarkan pengalaman Ali, Solah mengingatkan agar mahasiswa cermat memilih kelompok pertemanan agar tidak terjerumus pada aksi-aksi yang merusak dirinya sendiri maupun kehidupan sosial. [SWD]

Baca juga Mewaspadai Penganut Takfiri Kekerasan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair)...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...