HomeBeritaSuara Perdamaian dari Bumi...

Suara Perdamaian dari Bumi Pasundan

Aliansi Indonesia Damai – “Apa pun musibah yang kita dapatkan dari orang lain, apa pun kejahatan yang kita terima dari orang lain, kunci awal untuk bisa memaafkan dan mencapai perdamaian adalah berdamai dengan diri sendiri. Karena nafsu amarah yang berada pada diri sendiri adalah penghalang terbesar untuk memaafkan orang lain.”

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh siswa SMAN 1 Padalarang, Jawa Barat, dalam kegiatan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan AIDA pada Rabu (26/08/2020). AIDA menghadirkan Kurnia Widodo (mantan pelaku terorisme) dan Sucipto Hari Wibowo (korban Bom Kuningan 2004) sebagai narasumber. Pernyataan siswa tersebut merupakan pembelajaran dari kisah hidup keduanya.

Baca juga Meneladani Pertobatan Mantan Ekstremis

Kurnia Widodo berkisah perjalanannya bergabung dengan kelompok ekstremisme kekerasan hingga akhirnya bertobat dan memilih jalan perdamaian. Ia mengaku pernah terlibat dalam kelompok kekerasan karena pengaruh lingkungan pergaulan. Kini ia telah menemukan titik balik hidupnya dan mantap meninggalkan kelompok ekstrem. Ia bahkan bergabung dengan Tim Perdamaian AIDA.

“Agama itu mengajarkan kebaikan. Islam mengutamakan dakwah dengan baik, uswatun hasanah, dengan kelembutan. Jangan berpikir sempit dalam memahami Agama. Kita harus bisa membandingkan dengan pemikiran berbeda lainnya, sehingga wawasan kita bertambah,” ujarnya.

Baca juga Tidak Menjadi Generasi Rebahan

Sedangkan Sucipto membagikan kisah perjuangannya melampaui masa-masa pahit usai menjadi korban Bom Kuningan 2004 silam. Tak mudah baginya menghilangkan trauma juga memulihkan kondisi fisiknya seperti sedia kala. Ia mengaku, untuk bisa menerima musibah yang menimpanya membutuhkan waktu yang lama. Namun berkat motivasi dari keluarga dan orang tua, ia bisa sampai pada titik sekarang. “Kalau tidak berdamai dengan diri sendiri, komunikasi nggak enak, menempatkan diri serba nggak enak karena masih menyimpan dendam dan trauma. Setelah memaafkan, memang berdampak luar biasa. Komunikasi dengan lingkungan kembali baik dan trauma lama-lama menghilang,” ujarnya.

Baca juga Milenial Harus Berpikiran Terbuka

Di akhir sesi, fasilitator kegiatan, Farha Ciciek berpesan kepada para siswa yang mengikuti kegiatan daring ini. “Sampaikan suara perdamaian di mana pun, karena hanya dengan perdamaian kita bisa menikmati kehidupan,” katanya.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh AIDA dalam rangka mengampanyekan perdamaian di kalangan remaja. 59 siswa dari 3 sekolah di Bandung, yaitu SMAN 1 Ngamprah, SMAN 1 Padalarang, dan SMAN 8 Bandung terlibat aktif dalam kegiatan ini. [LADW]

Baca juga Belajar Dari Ketangguhan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...