HomeBeritaBerbagi Ketangguhan kepada Siswa...

Berbagi Ketangguhan kepada Siswa SMKN 1 Tulung Klaten

Aliansi Indonesia Damai-Prinsip kesabaran saat menghadapi musibah dan ketangguhan melewati masa-masa sulit sangat penting dalam menjalani hidup. Terlebih dalam situasi pandemi seperti sekarang.

AIDA berupaya menghadirkan semangat ketangguhan kepada puluhan siswa SMKN 1 Tulung, Klaten, Jawa Tengah, melalui kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang dilaksanakan secara daring pada Rabu (21/10/2020). Dalam kegiatan ini, dua orang anggota Tim Perdamaian AIDA, Nanda Olivia Daniel (Korban Bom Kuningan 2004) dan Choirul Ikhwan (mantan narapidana terorisme), membagikan kisahnya kepada para peserta.

Baca juga Menghindari Doktrin Kekerasan

Nanda Olivia menuturkan bahwa peristiwa ledakan di depan kantor Kedutaan Besar Australia, 16 tahun silam, membuatnya menjadi difabel. Ibu jari tangannya mengalami cedera fatal sehingga kini tak bisa berfungsi lagi. Nanda mengaku sempat lama memendam amarah dan dendam kepada para pelaku terorisme. “Saya merasakan marah dan dendam, campur aduk, saat pertama kali dipertemukan dengan mantan pelaku. Namun saya memaafkan, tapi bukan untuk mereka, untuk (kebaikan; red) diri saya sendiri,” ucapnya.

Ia teringat kepada pesan ibunya, bahwa Tuhan tidak akan menguji seseorang di atas dari kemampuan hamba-Nya. “Ini yang selalu diajarkan oleh ibu saya. Agar tidak menyerah dan Tuhan tidak akan menguji di atas ambang batas kemampuan hamba-Nya,” ujarnya.

Baca juga Kepala SMKN 1 Klaten Dorong Siswanya Terlibat Perdamaian

Sementara Choirul Ikhwan telah menginsafi kesalahannya bergabung dalam kelompok terorisme. Ia mengungkapkan permintaan maafnya kepada para korban bom. “Saya merasa sangat rendah di hadapan mereka. Apa yang dahulu diyakini kelompoknya, ternyata berdampak besar bagi para korban,” tuturnya.

Menurut Irul, sapaan akrab Choirul Ikhwan, pertemanan dan film-film tentang peperangan menjadi pintu masuknya ke dalam jaringan ekstremisme kekerasan. Hal yang tak disadari oleh kelompoknya dahulu adalah aksi-aksi kekerasan ternyata berdampak besar pada kehidupan orang-orang tak bersalah. Ia dan teman-temannya tak pernah membayangkan jatuhnya korban-korban yang tak bersalah.

Baca juga Tak Cacat Ilmu

Dalam kesempatan yang sama, aktivis perdamaian, Farha Cicik Assegaf, mengajak generasi muda untuk terus menggali nilai-nilai yang terdapat dalam diri penyintas untuk disebarkan kepada lingkungan terdekat seperti keluarga dan teman sebaya. Cara yang sederhana adalah memberikan perasaan damai kepada orang-orang terdekat.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Pengurus AIDA, Hasibullah Satrawi. Kisah penyintas dan mantan pelaku memberikan pelajaran bahwa memaafkan adalah langkah terbaik. Praktiknya tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. “Dari kisah mantan pelaku, kita bisa belajar bahwa berbuat kesalahan adalah sifat manusia. Namun sebaik-baik mereka adalah yang mau mengubah dirinya menjadi lebih baik,” katanya. [FS]

Baca juga Semangat Damai dalam Perbedaan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....