HomeBeritaTak Cacat Ilmu

Tak Cacat Ilmu

“Surya tenggelam ke arah barat
Senja hari merah cahayanya
Jika ingin dapat dunia akhirat
Ilmu dan amal adalah kuncinya”

Aliansi Indonesia Damai- Sepenggal pantun disampaikan oleh Hasyim Asyari, Kepala Madrasah Aliyah Negeri 2 Klaten, dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan AIDA secara daring pada Kamis (15/10/2020).

Hasyim menasehati siswa-siswinya agar tekun dalam mencari ilmu serta melakukan amal saleh. Karena keduanya adalah bekal hidup di dunia dan akhirat. Pesan tersebut selaras dengan inspirasi yang disampaikan oleh Susi Afitriyani alias Pipit, korban Bom Kampung Melayu 2017, yang menjadi narasumber kegiatan.

Baca juga Pesan Ketangguhan SMAN 1 Gemuh Kendal

Pada 24 Mei 2017 malam, Pipit hendak pulang ke indekosnya selepas mengikuti kuliah. Karena berniat pulang kampung ke Brebes Jawa Tengah, ia bersama seorang temannya mampir ke minimarket di kawasan Terminal Kampung Melayu Jakarta Timur untuk membeli tiket kereta. Setelahnya ia menunggu angkutan umum di dekat halte bus Transjakarta. Namun tiba-tiba ledakan keras terjadi.

Pipit mengalami luka parah di bagian lengan kanannya. Walhasil ia harus menjalani serangkaian perawatan cukup lama. Meskipun luka-lukanya telah sembuh, tangan kanannya tak berfungsi normal seperti sedia kala.

Baca juga Meneladani Kisah Korban Bom Bali

Meski sempat terpuruk karena kondisi fisiknya yang tak lagi sempurna, Pipit bertekad melanjutkan apa yang menjadi cita-citanya sejak lama: meraih gelar Sarjana. “Saya boleh cacat fisik, tapi saya tidak boleh cacat ilmu,” ujarnya.

Semangat Pipit bangkit dari keterpurukan memancing pertanyaan beberapa peserta. Salah seorang siswa menanyakan tentang hal-hal yang dilakukan Pipit untuk bangkit dari keterpurukannya.

Pipit menjelaskan bahwa ia selalu berusaha menjadi orang yang bersyukur, tidak menyimpan amarah dan dendam. Lebih dari itu ia mengisi hidup dengan kegiatan-kegiatan yang positif, seperti membagikan pengalamannya sebagai korban kekerasan, agar semua orang mengetahui dampaknya yang merusak, sehingga dapat menghindari jalan kekerasan.

Baca juga Semangat Damai dalam Perbedaan

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengurus AIDA, Hasibullah Satrawi, menggarisbawahi pernyataan Pipit ‘tidak mengapa cacat secara fisik asal tidak cacat secara ilmu’. Menurut dia, ilmu yang paling cacat adalah ilmu yang tidak memberikan manfaat sama sekali, namun justru menyengsarakan banyak orang. Misalnya ilmu yang diajarkan oleh organisasi terorisme yang menghasilkan serangkaian aksi-aksi kekerasan yang merusak peradaban.

“Bukan justru membawa manfaat, namun justru membuat orang terluka bahkan kehilangan nyawa, membuat seorang anak jadi yatim, membuat seseorang harus kehilangan sosok yang mereka kasihi,” katanya.

Hasib berpesan agar para siswa menjauhi kelompok-kelompok yang gemar menggunakan kekerasan atas nama apa pun. [FL]

Baca juga Motivasi Kebangkitan dari Korban Bom

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso,...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...