HomeBeritaCerdas Bermedia Sosial

Cerdas Bermedia Sosial

Aliansi Indonesia Damai- Nilai-nilai perdamaian seyogianya bisa dimulai dari mana saja. Mulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, pertemanan sebaya, hingga lingkungan yang lebih besar, seperti lembaga pendidikan. Tak hanya di dunia nyata, nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, keluhuran moral juga harus dipraktikkan di jagat maya, terutama media sosial. Semua itu merupakan modal penting untuk membangun perdamaian dunia.

Demikian salah satu pesan yang muncul dari kegiatan kampanye perdamaian “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang digelar AIDA di SMAN 3 Serang, Banten, beberapa waktu silam. Wakil Kepada Sekolah mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurut dia, setiap kisah yang disampaikan narasumber akan memberikan pembelajaran bagi peserta didiknya.

Baca juga Semarak Dialog Damai di SMAN 1 Pringsewu, Lampung

Ia menegaskan pentingnya menjadikan pengalaman-pengalaman inspiratif narasumber untuk membangun karakter generasi muda Serang. “Kami berharap dari kisah-kisah inspiratif ini nantinya akan menjadikan siswa di sini bisa menjadi generasi yang religius dan berakhlak mulia,” ucapnya.

Perwakilan AIDA, Laode Arham mengatakan, literasi digital dan penguatan karakter begitu penting bagi para pelajar. Laode mencermati fenomena media sosial yang banyak digunakan tidak secara positif. Generasi muda harus menggunakan media sosial dengan baik dan benar.

Baca juga Makna Damai di Mata Siswa SMAN 6 Cirebon

Di era mutakhir, kecepatan informasi di media sosial menjadi keniscayaan. Sayangnya tak jarang seseorang ingin mencapai keinginan tertentu dengan cara cepat dan instan pula. Menurut Laode, cara-cara semacam ini bila tidak diimbangi dengan kecerdasan dan kebijaksanaan, berpotensi dapat menghalalkan segala cara.

Laode mengungkapkan, paham-paham kekerasan terkadang bermunculan di media sosial dan bisa berdampak negatif bagi penggunanya, terutama kalangan generasi muda. Oleh karenanya, dia mengajak generasi muda untuk cerdas bermedia sosial. “Akhlak bermedia sosial, akhlak kepada teman, akhlak kepada guru dan pikiran positif akan menentukan masa depan kita yang lebih baik,” tuturnya.

Baca juga Harapan Guru Pandeglang pada Generasi Remaja

Dia juga mengajak generasi muda untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian. “Nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, akhlak yang baik kepada sesama itu akan menentukan masa depan yang lebih baik. Pendidikan pembangunan karakter itu,” kata Deputi Direktur AIDA tersebut.

Mantan pelaku ekstremisme kekerasan yang dihadirkan AIDA, Kurnia Widodo, mengatakan bahwa pertemanan dan lingkungan sangat menentukan dalam pembentukan karakter seseorang. Ia mengutip hadis Nabi Saw, ‘Berteman dengan orang yang menjual minyak wangi maka akan terkena aroma wangi, namun berteman dengan pandai besi akan terkena bau asapnya.’

Baca juga Gema Perdamaian dari SMK Sunan Ampel Malang

Kurnia mengajak generasi muda untuk hati-hati menggunakan media sosial. “Di dalam Islam kita diajarkan untuk membandingkan satu pendapat dengan pendapat yang lain. Ada banyak perbedaan pendapat sehingga tidak terjebak dengan satu paham saja. Begitu juga dengan informasi. Jangan telan mentah-mentah informasi dan pendapat dari satu golongan dan kelompok saja,” katanya berpesan. [FS]

Baca juga Pelajar Klaten Belajar dari Mantan Pelaku Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...