HomeInspirasiAspirasi DamaiSiri’: Filosofi Perdamaian Bugis-Makassar

Siri’: Filosofi Perdamaian Bugis-Makassar

Awal bulan ini, Makassar dikejutkan oleh aksi terorisme yang dilakukan sepasang suami-istri. Hal ini semakin mengejutkan karena pelaku perempuan tengah hamil  4 bulan. Jika menelisik lebih dalam, aksi yang dilakukan oleh pelaku yang berdomisili di Makassar sangat bertolak belakang dengan pemahaman masyarakat Bugis-Makassar yang sangat menjunjung nilai hidup Siri’.

Siri’ secara kebahasaan bermakna rasa malu. Ini adalah ekspresi kebudayaan Bugis-Makassar dalam menghormati kehidupan, baik kehidupannya sendiri maupun orang lain. Meski seringkali Siri’ dihubungkan dengan tindak kekerasan, namun sejatinya filosofi Siri’ pada suku Bugis-Makassar tidaklah sesederhana itu.

Baca juga Kritik Diri Bekal Pertobatan Ekstremis

Siri’ merupakan suatu keadaan di mana jiwa dan raga bersatu untuk mencari cara bagaimana menegakkan dan menjaga rasa malu tetap berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Siri’ dianggap sebagai nilai paling mendasar dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.

Siri’ dapat diterapkan dalam pelbagai situasi dan kondisi. Tidak terkecuali untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang harmonis sesuai norma yang berlaku di setiap tempat. Individu yang memiliki Siri’ pasti memiliki kesadaran diri untuk berbuat sesuai dengan aturan yang telah dibuat.

Baca juga Fase-Fase Hijrah; Belajar dari Mantan Ekstremis

Tidak heran, seringkali orang tua di Sulawesi Selatan sering berpesan kepada para perantau untuk menjaga Siri’. Artinya jangan sampai membuat malu diri, keluarga, dan lingkungan tempat tinggalnya dengan perilaku yang keluar dari moral sehingga menghilangkan harga dirinya sebagai manusia.

Fakta demikian menjadi cerminan bahwa nilai hidup Siri’ di kalangan orang Bugis-Makassar bertujuan agar melahirkan lingkungan sosial yang damai, karena fokus utama Siri’ dalam bermasyarakat secara tidak langsung adalah terciptanya budaya damai.

Baca juga Isra’ Mi’raj dan Spirit Kedamaian

Peran utama Siri’ dalam kehidupan sosial Bugis-Makassar adalah untuk menjaga seluruh anggota masyarakat sehingga mereka dapat hidup dalam keharmonisan. Siri’ adalah jiwa masyarakat Bugis-Makassar untuk saling memanusiakan.

Jika ada orang Bugis-Makassar melakukan kekerasan atas nama apa pun, maka sudah jelas sejatinya dia telah kehilangan identitasnya sebagai orang Bugis-Makassar. Karena Siri’ menganggap, setiap manusia harus dapat saling menghargai dan menghormati. Seorang individu dengan Siri’ di dalam dirinya tidak mengganggu, melanggar norma, dan bersikap saling menghargai kehidupan semua orang.

Baca juga Mencintai Diri Kunci Kebangkitan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...