HomeInspirasiAspirasi DamaiBerdamai dengan Ketidaksukaan

Berdamai dengan Ketidaksukaan

Manusia adalah makhluk dinamis. Kita bisa menyetujui suatu pendapat, namun di kemudian hari bisa berubah sikap terhadap pendapat yang sama. Begitu pula ketidaksukaan pada seseorang bisa jadi suatu hari dapat berubah. Seperti yang dialami Nanda Olivia, salah seorang penyintas aksi Bom Kuningan 2004, kepada Ali Fauzi yang pernah berkecimpung dalam kelompok terorisme.

”Saya tidak ada masalah lagi dengan kondisi fisik dan psikis saya. Sampai satu hari saya bertemu dengan teroris, adik Amrozi, Ali Fauzi, dalam kegiatan bersama AIDA. Saya marah,” ucap Nanda mengenang perasaannya saat pertama kali bertemu dengan Ali Fauzi.

Baca juga Falsafah Bugis untuk Perdamaian Bangsa

Namun seiring upaya Nanda untuk bisa berdamai dengan keadaan, penolakan itu perlahan berubah menjadi pemaafan, bahkan lebih jauh berkolaborasi mengampanyekan perdamaian di Indonesia.

Kisah Nanda dan Ali Fauzi yang awalnya tak harmonis lalu menjadi mitra juru kampanye perdamaian menunjukkan bahwa sikap dinamis membuat manusia dapat mengubah keyakinan, perasaan, bahkan kesetujuannya pada kehadiran orang lain/kelompok yang tidak disukainya.

Baca juga Siri’: Filosofi Perdamaian Bugis-Makassar

Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Kristin Laurin, Associate Professor Psikologi di Universitas British Columbia, menjelaskan interaksi unik dalam riset yang dilakukannya tentang perubahan pikiran seseorang.

Dalam salah satu penelitiannya di bidang psikologi sosial terkait interaksi antarkeyakinan dan ideologi, Laurin menemukan bahwa pikiran manusia akan berubah ke arah lebih positif ketika kejadian telah terjadi. Hal tersebut didorong oleh proses mental yang berusaha membuat individu merasa baik-baik saja, sehingga bisa melanjutkan hidup walaupun harus dengan hal yang tidak disetujuinya.

Baca juga Kritik Diri Bekal Pertobatan Ekstremis

Dorongan merasa baik-baik saja dan hidup bersama dengan yang tidak disetujui bukan berarti menerima atau sepakat seutuhnya, namun setidaknya lebih menerima kenyataan. Hal ini bukan terkait kita yang jadi terbiasa dengan situasi yang tidak disukai, tetapi kita mengubah cara menyikapi ketidaksukaan yang hadir. Sederhananya, kita tak sanggup marah atau merasa risih secara terus menerus, sehingga tanpa sadar mencari cara untuk meyakinkan diri bahwa semua tidak seburuk yang kita bayangkan.

Menurut Lauren, ini bukan sesuatu yang sengaja dilakukan. Sebaliknya, ini adalah cara yang terjadi secara natural untuk melepaskan beban pikiran dan melanjutkan kehidupan. Pendek kata, kita tak punya waktu untuk marah terus menerus.

Baca juga Fase-Fase Hijrah; Belajar dari Mantan Ekstremis

Tentu saja proses psikologis ini ada dampak buruknya, seperti mendorong orang untuk menoleransi perilaku yang tak mereka setujui. Apa yang disampaikan Lauren sejalan dengan apa yang dirasakan Nanda saat memutuskan menerima permintaan maaf Ali Fauzi.

”Saya memaafkan diri saya sendiri dan berdamai dengan masa lalu, ikhlas. Bukan untuk Mas Ali Fauzi, atau orang lain. Akan tetapi untuk kehidupan saya supaya saya bisa menjalani kehidupan ini dengan lebih baik lagi ke depan,” tutur Nanda dalam sebuah kegiatan AIDA.

Baca juga Isra’ Mi’raj dan Spirit Kedamaian

Nanda dan para penyintas aksi kekerasan lainnya wajar emosinya meledak-ledak di awal pertemuannya dengan anggota jaringan ekstremis. Namun pada suatu titik, kesadaran bahwa emosi negatif perlu dibuang muncul sebagai jalan menuju kebangkitan agar bisa fokus menjalani kehidupan yang lebih baik. Kebangkitan sekaligus obat yang ampuh terbebas dari beban psikologis yang menguras mental dan fisik.

Terlepasnya beban psikologis akan membawa kita pada perasaan yang lebih tenang sehingga merasa lebih baik. Hal ini karena pikiran kita tidak menjadi overthinking. Kecemasan karena merasa terancam perlahan hilang.

Fase selanjutnya kita akan berdamai dengan hal yang tadinya kita lihat sebagai hal yang negatif. Memang tidak sepenuhnya mampu mengubah segalanya atau menghilangkan ketidaksukaan, namun berdamai dan berhenti memersoalkan hal yang tidak kita setujui mungkin akan menjadi bagian penting menjaga perdamaian di lingkungan sekitar kita.

Baca juga Mencintai Diri Kunci Kebangkitan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....