HomeBeritaBerbagi Pengalaman Bertemu Korban...

Berbagi Pengalaman Bertemu Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Gita Apriati, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto, berbagi kisah pengalamannya bertemu dan mendengarkan kisah hidup mantan pelaku terorisme dan korbannya. Hal itu disampaikannya di hadapan seratus lebih peserta Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, Senin (19/4).

Gita adalah alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang digelar AIDA beberapa waktu bulan sebelumnya. Dalam kegiatan kali ini, Gita menyampaikan pembelajaran dari kisah hidup kedua belah pihak. Menurut Gita, kisah hidup korban dan pelaku teroris memberikan ibroh tentang pentingnya perdamaian di Indonesia.

Baca juga Dialog Mahasiswa Unsoed dengan Mantan Napiter

“Saya mendapatkan pengalaman luar biasa. Bagaimana seseorang dapat terjerumus ke dalam kelompok ekstrem dan bagaimana nasib para korbannya,” ujarnya dalam kegiatan yang digelar AIDA bekerjasama dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Hasyim Asy’ari UNU Purwokerto itu.

Dari kisah hidup mantan pelaku, Gita mengaku lebih menjiwai makna perbedaan. Menurut dia, perbedaan pandangan dan kelompok di kalangan masyarakat merupakan keniscayaan. Sayangnya kelompok ekstrem acapkali memvonis pandangan dan kelompok yang berbeda sebagai kafir, bahkan mereka menganggap halal darahnya. Ia lantas mengajak mahasiswa untuk lebih arif dalam melihat perbedaan.

Baca juga Merangkul Mereka yang Bertobat

“Setelah mengikuti kegiatan-kegiatan AIDA saya dapat tercerahkan. Ibroh yang bisa kita ambil dari perspektif mantan pelaku bahwa kita harus berhati-hati dalam keadaan apa pun dan saling menghargai orang lain. Kalau ada perbedaan, hadapi dengan bijak, bukan dengan kekerasan,” tuturnya.

Sementara dari kisah hidup korban, ia merasa banyak mendapatkan pembelajaran tentang keikhlasan, ketangguhan, dan pemaafan. Menurut dia, korban adalah cermin dari kebesaran jiwa seseorang yang mau memaafkan pelaku kejahatan di tengah penderitaan yang mereka alami. Kisah korban penting disebarluaskan untuk menjadi narasi-narasi pembangunan perdamaian.

Baca juga Menyerap Ibroh dari Kehidupan Penyintas Bom Bali I

“Saya mendengar langsung kisah hidup para korban. Mereka mengingatkan agar jangan melawan kekerasan dengan kekerasan. Melupakan kejadian dan maafkan. Padahal para korban harus berjuang melawan trauma,” ungkap Gita.Kegiatan sendiri dihadiri oleh sejumlah narasumber, di antaranya mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan, Korban Bom Kuningan 2004 Nanda Olivia Daniel, Peneliti Kajian Terorisme Universitas Indonesia Solahudin, dan Penulis Buku La Tay’as Hasibullah Satrawi. [AH]

Baca juga Menumbuhkan Iklim Perdamaian di Kampus

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...