HomeOpiniJihad untuk Perdamaian

Jihad untuk Perdamaian

Oleh Fahmi Suhudi
Alumni Universitas Islam Negeri  Syarif Hidayatullah Jakarta

Jihad dalam pengertian usaha mengalahkan musuh dengan cara berperang kerap digunakan oleh beberapa kelompok untuk membenarkan aksi-aksi kekerasan di luar zona perang. Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad Saw digunakan sebagai pembenaran aksi-aksi brutal atas nama jihad tersebut. Padahal setiap ayat Al-Qur’an maupun hadis memiliki konteks sosial yang variatif sehingga makna jihad misalnya, juga tidak tunggal.

Kata جهاد  adalah derivasi dari akar kata جاهد yang secara etimologis berarti bersungguh-sungguh atau melakukan kemampuan yang terbaik. Dalam Al-Qur’an, kata جاهد dan turunannya disebutkan setidaknya sebanyak 31 kali dengan beragam makna dan konteksnya. Sebagian di antaranya memang berbicara tentang peperangan, tetapi hanya berlaku dalam kondisi mendesak/darurat. Itu hanya cara/pilihan paling terakhir dalam mempertahankan diri, jiwa, dan harta. Pasalnya banyak ayat yang berbicara tentang kewajiban menjaga kehidupan yang bernilai universal (Ziauddin Sardar, 2017). Dalam kajian Ulumul Qur’an, ayat yang bermakna umum dan universal lebih diprioritaskan ketimbang ayat bermakna khusus.

Baca juga Negara Madinah: Potret Ideal Pemerintahan Islam

Bisa dikatakan bahwa ekplorasi makna jihad secara serampangan itulah, yang seakan membuat makna jihad dipersepsikan dengan ekstrim. Tanpa mengenali arti bersamaan dengan konteks jihad, maka perjuangan atau pembelaan atas ajaran agama Islam dengan cara yang tidak tepat bahkan kekerasan mungkin akan terus berlanjut.

Setidaknya ada dua poin kenapa makna jihad harus dikembalikan kepada konteks dan pendapat para ulama. Pertama, bahwa memang di dalam al-Quran terdapat beberapa ayat yang menyebutkan secara eksplisit makna jihad yaitu berusaha secara sungguh-sungguh, mengerahkan kemampuan yang ada, berperang di jalan Allah. Akan tetapi, perbedaan pendapat terjadi di antara para ulama salaf mulai dari aspek niat hingga tujuan dan maksud jihad. Dari kalangan mazhab Hanafi menyatakan bahwa ayat-ayat jihad kebanyakan turun ketika berada di periode Madinah yang bertujuan memecah kesatuan dan mengalahkan pasukan kaum musyrikin yang ingin menyerang umat beragama di Madinah (Al-Syarakhsi, 2009, 30). Seorang ulama salaf Ibnul Mubarok (118-181 H/736-797 M)  dalam Kitabul Jihad (t.t, 162) mendefenisikan mujahid sebagai “man jahada nafsahu binafsihi, yaitu orang yang menahan dirinya dari dorongan nafsunya.”

Baca juga Terapi Pemaafan

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa kewajiban berjihad akan selalu ada hingga hari akhirat. Pendapat ini didasarkan atas sebuah hadis Nabi yang menyebutkan, bahwa kewajiban jihad sebagai perang tidak akan pernah dihilangkan, bahkan hingga hari kiamat datang (H.R. Ibnu Hibban no. 7307). Perlu dimengerti bahwa kewajiban jihad dalam hadis sini bersifat terbatas (takhshis), dan bukan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap orang dan dalam keadaan setiap waktu. Sedangkan tujuan jihad bukanlah memerangi orang yang berbeda agama melainkan untuk mempertahankan diri (difa’iyah).

Adapun jihad yang dilakukan dengan cara kekerasan dan upaya balas dendam, hanya akan menimbulkan korban yang tak bersalah. Jihad yang disalahgunakan tersebut kerap menjadikan orang-orang non-muslim sebagai target. Namun tidak sedikit justru korban berjatuhan dari kalangan muslim sendiri. Oleh karena itulah, kita harus memahami jihad dengan makna sebenarnya.

Para ulama klasik menegaskan bahwa orang yang berbeda agama (non-Muslim) itu sendiri mendapatkan jaminan dan perlindungan untuk melaksanakan ibadat dan dijamin hartanya tanpa boleh dirusak (Al-Syarakhsi, 2009, 3). Menurut Ibnu Taimiyah (1998), kewajiban jihad bisa menjadi gugur karena beberapa faktor, antara lain karena tidak adanya orang yang memerangi umat Islam. Sebagaimana Rasulullah Saw tidak memerangi orang yang tidak melanggar perjanjian atau melakukan serangan terhadap umat muslim.

Baca juga Pemuda dan Dakwah di Media Sosial

Dalam menghadapi lawan-lawannya, Nabi dan pengikutnya lebih mengedapankan upaya diplomasi melalui dialog dan proses perundingan. Di Madinah, beliau menyampaikan ajaran Islam dengan mengajak keselamatan dan kedamaian, bukan perpecahan dan perseteruan di antara kelompok dan umat beragama. Jihad dalam arti perang, “terpaksa” dilakukan Nabi untuk membela umat Islam, mempertahankan diri, dan melindungi warga lain di Madinah.

Jihad Untuk Perdamaian

Di Indonesia, beberapa mantan ekstrimis yang pernah meyakini dan memahami jihad sebagai aksi kekerasan dan upaya balas dendam atas umat Islam yang dizalimi telah menyadari kesalahannya, dan karenanya bertaubat dari pemahaman tersebut. Mereka sadar bahwa para “mujahid” telah melawan kezaliman dengan cara menciptakan kezaliman yang baru, baik zalim terhadap agama, diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas.

Dahulu, mereka meyakini bahwa kebencian dan melawan ketidakadilan dengan cara melakukan kekerasan adalah cara terbaik. Bagi orang yang pernah terlibat dengan kelompok teror,  mereka memiliki kesadaran dan keyakinan untuk membantu umat Islam yang dizalimi atau diperangi di daerah lain dengan melakukan aksi pembalasan di tempat yang berbeda. Sebagai misal, penderitaan umat Islam di Palestina, Irak, Suriah dan Afganistan, mereka balas dengan melakukan pengeboman serta aksi teror lain di Indonesia.

Baca juga Pendidikan Perdamaian (Tarbiyah Silmiyah): Memaknai Kembali Tujuan Jihad

Para mantan teroris kemudian menyadari bahwa  aksi-aksi tersebut mendatangkan korban yang tidak bersalah serta sederet dampak buruk bagi korban terorisme. Ada yang mengalami luka bakar, kehilangan anggota tubuh, bahkan kehilangan anggota keluarga yang disayangi. Padahal mereka tidak ada salah sama sekali dengan pelaku. Bahkan jika tujuan mereka dalam rangka membantu umat Islam, akan tetapi yang menjadi korban justru dari umat Islam sendiri.

Sebagai bagian dari upaya pertaubatan mereka, sejumlah mantan teroris kemudian meminta maaf kepada para korban-penyintas terorisme. Mereka ingin menjadi pribadi yang lebih baik dengan bergandengan tangan bersama para penyintas dalam keyakinan yang baru yaitu jihad perdamaian (jihad silmi): berusaha bersungguh-sungguh untuk membangun perdamaian.

Baca juga Analisis Budaya: Halalbihalal

Kita bisa melihat pengamalan hakikat jihad dalam diri korban dan mantan pelaku tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh ulama salaf Ibnul Mubarok (118-181 H) di atas. Para mantan teroris berjihad dengan menghilangkan emosi kebencian, dendam, menyadari kesalahan dan bertaubat, adapun para korban terorisme juga berjihad dengan menekan dan menghilangkan rasa amarah, trauma, dendam serta keinginan untuk membalas perbuatan pelaku.

Keduanya memiliki dorongan untuk bisa memercayai dan saling mengenal lebih jauh, sehingga mereka bisa bersama-sama mengamalkan arti jihad yang lain yaitu berusaha sungguh-sungguh dalam membangun perdamaian (jihad silmi). Kedunya bisa menjadi contoh paling ideal dari suatu pengamalan jihad. Karena sikap saling memercayai dan rasa persaudaraan akan menumbuhkan cinta dan kedamaian bagi sesama umat manusia.

Baca juga Memaafkan dan Membangun Peradaban

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....