HomeInspirasiAspirasi DamaiSeni Mengelola Dendam

Seni Mengelola Dendam

Ketika dikecewakan atau disakiti oleh seseorang, terkadang kita ingin membalasnya. Perasaan tersebut adalah hal wajar. Balas dendam adalah pengalaman yang normal dirasakan dalam kehidupan manusia sebagai respons terhadap sikap dan perilaku orang lain yang dianggap telah merugikan.

Orang yang memendam rasa dendam memiliki dorongan untuk melakukan tindakan balasan kepada orang lain agar mendapatkan kelegaan. Benarkah membalaskan dendam mampu membawa kita merasakan rasa nyaman?

Baca juga Kesabaran dan Pemaafan

Beberapa ahli psikologi menemukan fakta yang unik bahwa membalaskan dendam kepada orang yang pernah melukai kita memang memunculkan rasa lega, karena terjadi pelepasan/peluapan emosional. Namun rasa itu hanya terjadi saat proses balas dendam dan akan segera berganti dengan rasa bersalah. Walhasil muncul keinginan menghukum diri karena telah melakukan perbuatan yang sama buruknya dengan orang lain. Artinya kelegaan hanya bertahan sesaat.

Membalas dendam ternyata hanya akan memperparah bahkan membuka kembali luka emosional yang dimiliki. Karena setelah dendam terlampiaskan, rasa sakit yang mungkin telah mulai sembuh justru kembali muncul.

Mengelola energi dendam

Dendam mampu melahirkan energi yang melimpah. Alih-alih digunakan untuk melakukan aksi balas dendam yang ujungnya membuat kita melakukan keburukan, lebih baik bila energi yang ada dikelola untuk kegiatan positif. Banyak kisah telah meneladankan bagaimana perasaan dihina dan disakiti menjadi pelecut seseorang meraih kesuksesan.

Bagaimana memulai mengelola rasa dendam agar menjadi lebih positif? Kita butuh kemampuan untuk mengontrol diri. Kontrol diri ini berpusat pada energi, pikiran, dan kemampuan fokus pada harapan terbaik, bukan terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan orang yang menyakiti kita. Meski dendam adalah hal negatif, namun bila ledakan energi itu dialihkan pada aktivitas positif maka hasilnya adalah kemaslahatan baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Baca juga Menjaga Akhlak di Medsos

Setelah mampu mengontrol diri, jadikan rasa sakit hati menjadi motivasi untuk berprestasi. Salah satu cara membangkitkan motivasi berprestasi adalah mengubah cara pandang. Jika sebelumnya ingin disalurkan dengan cara negatif, kali ini berfokus pada hal-hal yang membuat kita mampu membuktikan diri menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Tentu saja, kemampuan kontrol diri, memotivasi diri, dan keinginan untuk membuktikan diri secara tidak langsung akan menggerakkan kita untuk menjadi pribadi yang ingin berkembang dan belajar. Energi membalas dendam teralihfokuskan pada pengembangan potensi diri secara maksimal.

Baca juga ‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...