HomeBeritaOptimalisasi Pemenuhan Hak Korban...

Optimalisasi Pemenuhan Hak Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai – Menurut UU No. 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, korban terorisme masa lalu (peristiwanya terjadi sebelum beleid ini terbit) berhak mendapatkan kompensasi, rehabilitasi medis, psikis, dan psikososial. Namun dalam perkembangannya, hak-hak selain kompensasi tak berjalan mulus.

Sucipto Hari Wibowo, Ketua Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), mengungkapkan, saat para korban masa lalu diasesmen oleh lembaga yang berwenang, mereka telah mencantumkan hal-hal yang dibutuhkan selain kompensasi. “Namun implementasi terhadap kebutuhan-kebutuhan itu tidak ada follow up lagi,” ujarnya dalam Diskusi Kelompok Terfokus secara Daring “Mengawal Implementasi Pemenuhan Hak-Hak Korban Terorisme” yang dihelat AIDA, akhir Juni lalu.

Baca juga Tantangan Pemenuhan Hak Korban Terorisme

Sucipto berharap, lembaga yang berwenang harus lebih proaktif terhadap para korban karena masih banyak korban yang hingga sekarang masih harus menjalani pengobatan baik secara fisik maupun psikis. Ia menekankan pentingnya sinergi yang kuat antara LPSK dan BNPT dalam menangani korban terorisme. “Untuk BNPT harus meningkatkan diri dalam memosisikan diri sebagai pengayom dari para korban. Semakin ke sini, korban merasa program BNPT semakin menghilang. BNPT dan LPSK harus bekerja sama dalam membantu korban terorisme,” ucapnya.

Raden Supriyo Laksono, korban Bom Bali 2002, menyoroti perihal bantuan psikososial. Menurut dia, pemberian bantuan psikososial harus disertai dengan bimbingan dalam hal pengelolaannya, sehingga bantuan tersebut manfaatnya bisa berkelanjutan. Ia juga menanyakan perihal kelanjutan program bantuan-bantuan dari BNPT.

Baca juga Layanan Kesehatan Jangka Panjang Bagi Penyintas

Menanggapi pertanyaan Sony terkait bantuan psikososial, Tenaga Ahli LPSK, Rianto Wicaksono, mengatakan bahwa sudah ada desain kelangsungan bantuan bagi para korban sehingga tidak hanya terbatas pada modal usaha. “Korban bisa mengajukan bantuan pendampingan atau training keberlangsungan usaha. LPSK menerima masukan dari para korban terkait bentuk bantuan psikososial yang dibutuhkan oleh para korban,” katanya.

Baca juga Aksesibilitas Data Kompensasi Korban Terorisme

Sementara Kasi Pemulihan Korban BNPT, Muhammad Lutfi, menjelaskan, selama ini ada program-program bantuan untuk para korban terorisme yang diselenggarakan oleh beberapa Kementerian. Di antaranya, bantuan usaha ekonomi produktif oleh Kemensos dan Beasiswa Pendidikan Indonesia Pintar oleh Kemendikbud dan Kemenag.

“Walaupun ada banyak program, namun seringkali anggaran menjadi pertimbangan dan keterbatasan di masa pandemi seperti ini. Ke depannya kami berkomitmen untuk lebih bersinergi dengan para korban,” katanya. [LADW]

Baca juga Memastikan Kehadiran Negara bagi Korban

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...