HomeBeritaMembina Napiter dengan Narasi...

Membina Napiter dengan Narasi Korban

Aliansi Indonesia Damai – Ekstremisme kekerasan yang mengarah pada terorisme telah mengancam hak masyarakat atas rasa aman. Oleh karena itu, diperlukan strategi komprehensif agar tercipta langkah yang sistematis dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan kelompok masyarakat.

Dalam konteks pembinaan narapidana terorisme (napiter), perspektif korban diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran atas dampak negatif akibat pemahaman dan aksi yang telah dilakukan, sehingga tidak mengulangi tindak pidananya.

Baca juga Dialog Petugas Lapas dengan Penyintas Terorisme

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Thurman SM Hutapea, Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi Ditjen Pemasyarakatan, saat membuka Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Petugas Pemasyarakatan secara Daring, yang digelar AIDA bekerjasama dengan Ditjen Pas Kemenkumham, pada Selasa (13/07/2021). Kegiatan diikuti 35 orang petugas dari puluhan Lapas di Indonesia.

Menurut Thurman, perspektif korban dapat memainkan peran penting sebagai narasi alternatif dan kontranarasi dalam penanganan terorisme. Narasi alternatif menawarkan pandangan dunia yang lebih positif untuk melawan paham kekerasan yang dianggap sebagai kebutuhan oleh pelaku terorisme. Sedangkan kontranarasi mendelegitimasi argumen yang umumnya digunakan untuk membenarkan aksi terorisme.

Baca juga Direktur Pemasyarakatan Dorong Penguatan Kapasitas Petugas Lapas

“Pendekatan korban ini sudah dilakukan di Indonesia sejak tahun 2012 dan bahkan sudah digunakan oleh banyak negara sebagai salah satu model praktik terbaik dalam menangani terorisme yang dikenal dengan victims’ voice. Oleh karena itu, pelatihan ini penting untuk memberikan wawasan baru bagi peserta pelatihan,” katanya.

Lebih jauh, dalam hematnya, pendekatan ini sejalan dengan semangat revitalisasi penyelenggaraan pemasyarakatan yang menghendaki adanya program pembinaan khusus bagi narapidana berisiko tinggi, termasuk di dalamnya adalah napiter. Program tersebut dapat berjalan dengan baik jika para petugas dibekali dengan keterampilan yang dibutuhkan.

Baca juga Dirjen Pemasyarakatan: Sinergi Korban, Pamong, dan Mantan Napiter

“Untuk mendukung jalannya rehabilitasi dan reintegrasi sosial tersebut, dibutuhkan kemampuan dan keahlian khusus, yang mana dengan kegiatan hari ini diharapkan dapat memfasilitasi kebutuhan kita dalam melaksanakan tugas pembinaan napiter yang komprehensif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Thurman menyadari bahwa petugas yang menangani napiter dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus agar bisa menjaga hubungan baik dengan napiter, karena dapat berkontribusi secara signifikan terhadap keberhasilan program pembinaan.“Hubungan baik juga memfasilitasi terbangunnya trust untuk meruntuhkan penghalang kami (petugas lapas: red) versus mereka (napiter: red), serta ketidakpercayaan dan kecurigaan terhadap aparat hukum,” ucapnya. [WTR]

Baca juga Kemenkumham Beri Penghargaan Kepada AIDA

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal,...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair)...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...