HomeBeritaSpirit Damai Korban dan...

Spirit Damai Korban dan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Kisah pertobatan mantan pelaku terorisme dan ketangguhan korbannya diharapkan menjadi pembelajaran bagi generasi remaja Indonesia. Kesediaan meminta dan memberikan maaf dari kedua belah pihak menjadi potret dari perdamaian yang sejati. Generasi remaja dapat menyerap nilai-nilai ketangguhan dari kisah-kisah mereka.

Lida Hawiwika, perwakilan AIDA, menyatakan hal itu saat memberikan sambutan dalam Diskusi Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Bululawang, Malang (17/3/2022). Lida menjelaskan, kegiatan itu dalam rangka mengajak generasi remaja untuk mewujudkan Indonesia yang lebih damai melalui peran korban dan mantan pelaku terorisme yang telah insaf.

Baca juga Belajar Ketangguhan di SMK Cendika Bangsa Malang

Sejak pertama berdiri, demikian Lida menerangkan, AIDA telah mengunjungi sekolah-sekolah di berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan itu untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya perdamaian bagi kehidupan bersama. “Kegiatan kita mulai dari Sumatera sampai Nusa Tenggara Barat. Semoga silaturahmi kita bisa terus berjalan untuk memberikan banyak manfaat dan menciptakan Indonesia yang lebih damai,” katanya.

Perempuan asal Jawa Tengah itu menegaskan bahwa korban terorisme adalah cerminan pribadi yang tangguh. Sebab di tengah-tengah rasa sakit, mereka mampu bertahan hidup dan berdamai dengan keadaan untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Padahal tak sedikit di antara mereka yang harus kehilangan anggota tubuh dan bahkan ditinggal oleh anggota keluarga untuk selamanya.

Baca juga Mewujudkan Mimpi Indonesia Damai

“Mereka para korban bisa bangkit dari keterpurukan, bisa menerima keadaan mereka dan juga bisa berdamai dengan diri dan memaafkan orang yang sudah mengubah hidupnya. Kami berharap melalui kegiatan ini kita menyerap pembelajaran dari kisah-kisah korban,” ujarnya.

Menurut Lida, dampak yang ditimbulkan oleh aksi-aksi kekerasan sangat buruk terhadap para korbannya. Para korban bahkan harus terus menjalani pengobatan meski peristiwanya sudah lama berlalu. “Mereka yang tadinya bahagia, menjadi tidak bahagia, tadinya punya tubuh yang lengkap menjadi tidak lengkap,” tuturnya.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Malang (Bag. 1)

Lida juga mengajak para siswa untuk menyerap pembelajaran dari kisah pertobatan pelakunya. Mereka mengaku salah, bertobat dan memilih terlibat dalam kampanye perdamaian dengan harapan tidak ada lagi orang-orang yang terjerumus ke dalam jalan kekerasan seperti mereka. “Mereka bisa berbesar hati mengakui kesalahannya dan juga meminta maaf terhadap orang yang sudah dicelakakan,” kata perempuan yang sering mendampingi korban dan mantan pelaku terorisme itu.

Pembelajaran dari kisah-kisah mereka diharapkan mampu diserap oleh remaja sebagai bekal ketangguhan, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi kekerasan, terutama yang banyak muncul di media sosial. Informasi harus diserap secara proporsional sehingga para pelajar mampu memilih dan memilah informasi yang baik dan buruk.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Malang (Bag. 2)

“Karena di era kini, banyak sekali informasi yang kita terima dari media sosial. Teman-teman pelajar harus bisa memilih dan memilah mana informasi yang harus kita serap dan disebarluaskan, dan mana informasi yang tidak perlu kita serap,” katanya memungkasi sambutan. [AH]

Baca juga Buah Kesabaran Penyintas Bom

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...