HomePilihan RedaksiBerdamai dengan Trauma: Kebangkitan...

Berdamai dengan Trauma:
Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. Terakhir)

Andin mengaku minder dengan kondisi dirinya. Akibat musibah pengeboman yang menimpanya,  ia tak bisa menjadi pribadi mandiri. Jangankan kembali bekerja,  untuk berjalan saja susah. Tidur pun harus ditemani. Tubuhnya yang penuh luka akan terlihat berbeda dengan perempuan-perempuan lain.

“Saya akhirnya ke psikiater. Saya ingat, diminta untuk minum obat, karena ini sudah bahaya, nggak bisa tidur dan pernah melakukan percobaan bunuh diri. Ini berbahaya,” ujar Andin mengenang saat dirinya berkonsultasi dengan psikiater.

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. 1)

Obat-obatan penenang diberikan kepada Andin sebagai solusi awal. Ia pun mematuhi instruksi dokter kejiwaan itu. Andin mengonsumsi obat secara rutin yang ternyata mampu membantunya untuk tertidur. Namun trauma yang dihadapi Andin belum menghilang.

Ia mengaku kasihan dengan orang tuanya yang terus-menerus menjadi support system dirinya. Menurut Andin, hidupnya yang sebenarnya sudah berakhir di 14 Januari 2016, hari peristiwa serangan Bom Thamrin. Sisanya adalah penderitaan.

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. II)

Kebangkitan Andin dimulai pada saat terbangun di malam hari. Ia menjalankan salat malam dan setelahnya berdoa kepada Tuhan. “Saya nggak minta dibuat cepat sembuh. Saya cuma minta, Ya Allah satu malam saja, saya ingin tidur. Bagaimana saya bisa sembuh kalau tidur saja nggak bisa?” ujarnya seraya terisak.

Doa tersebut dikabulkan oleh Allah. Ia tertidur pulas dengan mukena masih melekat di tubuhnya. Saat terbangun ia merasa tubuhnya lebih segar. Ia lantas bertekad agar mampu lepas dari trauma psikisnya. Andin merasa doa yang dikabulkan oleh Allah memicunya untuk tidak larut apalagi kalah oleh sakit yang dirasakannya.

Baca juga Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

“Ayo bisa, bisa, bisa. Kekuatan dari pikiran dan apa yang kita rasakan ternyata bisa membuat saya bangkit. Pertama saya mulai dengan memaafkan diri saya sendiri,” katanya.

Pascakejadian Andin mengaku sering menyalahkan dirinya. Ia sering menghakimi pilihannya yang memilih ke coffee shop daripada menyelesaikan kewajiban perkerjaannya di kantor. Setelah memaafkan dirinya sendirinya, Andin pun mulai mengikhlaskan kejadian yang menimpanya.

“Tanggal 14 Januari itu mungkin emang sudah takdir saya kena (bom). Emang saya korbannya, ya mau apa? Saya mempercayai itu jalan Allah untuk saya,” ujarnya.

Baca juga Afirmasi Diri: Kisah yang Menjelma Makna dan Kata-kata

Setelah melalui dua hal tersebut, ia pun melapangkan hatinya untuk sesuatu yang lebih besar. Andin mencoba untuk memaafkan pelaku. Menurut Andin, pelaku bom Thamrin memang sudah meninggal di tempat. Namun Andin memaafkan mereka tanpa perlu dimintai maaf. Pemaafan menjadi hal penting, bahkan menjadi faktor utama kebangkitannya. Andin memaafkan pelaku untuk dirinya agar bisa melepaskan semua beban.

“Saya menikmati prosesnya. Sampai 8 bulan akhirnya mampu memutus obat penenang. Padahal prediksi dokter itu obat 2 tahun saya minum. Saya pikir, sembuhnya saya itu 20 persen dari obat dan 80 persen dari saya sendiri,” tutur Andin.

Baca juga Berdakwah di Era Digital

Kondisi fisik Andin memang tak lagi normal seperti sebelumnya. Sisa-sisa trauma masih ada. Buktinya saat bercerita tentang musibah yang menimpanya, ia masih sering menangis. Namun ia memilih berdamai dengan traumanya.

Selain faktor keikhlasan, dukungan dari orang-orang sekitarnya sangat berguna dalam proses pemulihan. “Pesan saya, siapa pun yang sedang mengalami trauma, depresi, dan masalah mental, jadilah support system terbaik. Karena alhamdulillah support system obat yang paling berguna,” ujar Andin yang mengaku pernah mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari rekan kerja terkait kondisi traumanya.

Baca juga Mengenal Simbol-Simbol Perdamaian

Kini Andin masih berjuang meraih kesembuhannya. Meski kejadian yang menyakitinya sudah terjadi 6 tahun lalu. Pengalaman pahit dan hal-hal yang ditinggalkan dari kekejaman bom Thamrin tidak menghalanginya untuk mengingatkan bahaya akan aksi kekerasan atas nama apa pun.

“Trauma saya belum hilang, nggak masalah. Karena menurut saya, trauma bukan salah saya, tapi untuk sembuh itu tanggungjawab saya,” ujarnya mengakhiri cerita dengan tersenyum.

Baca juga Membaca Ayat-Ayat Kauniyah Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....