HomeOpiniMembaca Pikiran Teroris

Membaca Pikiran Teroris

Oleh Ali Usman
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam; Peneliti Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara (PSPBN) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Terorisme merupakan fenomena yang tampak di permukaan. Namun, di balik yang tampak itu terdapat bongkahan narasi yang perlu dimengerti dan dipahami sehingga solusi yang ditawarkan bisa tepat.

Meski para pelaku dan atau orang-orang yang diduga sebagai teroris telah banyak ditangkap oleh aparat keamanan —baru-baru ini dokter Sunardi yang ditembak mati, kemudian pada 3 April 2022 Densus 88 Antiteror kembali meringkus lima terduga teroris Negara Islam Indonesia (NII) di Tangerang— naluri kita tetap mempertanyakan: mengapa mereka memilih menjadi teroris? Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh kelompok teroris itu? Tidak adakah secuil kasih sayang antarsesama manusia sehingga mereka sampai tega melakukan tindakan nekat yang menyebabkan hingga pada kematian orang lain?

Baca juga Ramadhan Bulan Membaca

Terorisme, apa pun motifnya, jelas merupakan tindakan barbar dan biadab, yang mengacaukan keharmonisan serta kedamaian dalam sebuah negara, termasuk di Indonesia. Karena itu, John Horgan dalam The Psychology of Terrorism (2005) mengungkapkan hal yang menarik.

Kita, menurut Horgan, dihadapkan pada drama peristiwa teror bom. Drama peristiwa dapat sedemikian dahsyat sehingga kita berubah dari penonton menjadi pelibat aktif di dalamnya (personalization of event). Horgan mengingatkan agar jangan berhenti pada drama tragedi. Kita perlu beranjak dari drama tragedi ke uraian sistematis untuk memahami terorisme.

”Iceberg analysis”

Pertama-tama, perlu dimengerti bahwa terorisme merupakan fenomena yang tampak di permukaan (events). Namun, di balik yang tampak itu terdapat bongkahan narasi yang perlu dimengerti. Sigmund Freud dan generasi para psikolog setelahnya, seperti Ernest Hemingway, menyebut dengan istilah ”gunung es” (iceberg). Dalam hal ini, setiap fakta, termasuk terorisme, dapat dipahami melalui beberapa elemen teori iceberg, atau iceberg analysis berikut.

Baca juga Menguatkan Pengendalian Diri dari Tindak Kekerasan

Pertama, patterns of behavior, mengacu pada pola, tren, dan kecenderungan yang terjadi dalam masyarakat terkait langsung dengan fenomena terorisme. Di bagian ini ada banyak berita yang membingkai, seperti peristiwa terorisme diduga bermula dari indoktrinasi yang dilakukan melalui pengajian-pengajian oleh dai atau penceramah yang memiliki paham eksklusif, seolah pemahamannya paling benar, sementara yang lain salah.

Kedua, systems structure, yang mencerminkan karena pengaruh tradisi, budaya, dan kebiasaannya (habitus), serta termasuk pula kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil. Di sini, terdapat sistem sosial yang turut membentuk perilaku terorisme, dari pola pemahaman keagamaan yang cenderung absolut, konservatif, hingga pada kesenjangan sosial akibat kebijakan pemerintah yang cenderung diskriminatif, apalagi dugaan diskriminasi itu menyangkut golongan keagamaan tertentu.

Baca juga Puasa sebagai Emansipasi

Ketiga, mental models, berupa paradigma, perspektif, dan cara pandang pelaku/elemen sistem yang menyebabkan struktur dan sistem sosial bertahan, mengendap di kepala, seperti anggapan tidak ketaatan pada negara tagut, dan membenarkan penyerangan dalam sebuah negara yang tidak menjadikan agama sebagai ideologi bangsa. Di level ini, informasi yang diserap melalui systems structure dan patterns of behavior menggumpal menjadi sebuah keyakinan sehingga saat memperoleh momentum, terjadilah events berupa teror bom, kekerasan, persekusi, dan lain sebagainya.

Yang tidak disadari oleh kalangan teroris adalah pemahamannya tentang agama sesungguhnya merupakan tafsir terhadap agama, bukan agama itu sendiri. Ada ungkapan, the map is not the territory (jalan bukanlah wilayah/teritori).

Baca juga Puasa, Mosaik Spiritualitas Luhur

Jadi, tafsir itu adalah jalan, sedangkan agama merupakan wilayah. Hal ini penting diinternalisasi, termasuk kita semua, untuk melakukan semacam ”udar asumsi”, agar tidak hanya sekadar secara egoistik menyeleksi informasi (selected data) berdasarkan kepentingan pribadi, lalu memberi makna (added meaning), muncul asumsi (assumption), dan penyimpulan (conclusion), hingga menjadi sebuah keyakinan (beliefs).

Moderasi beragama dan ”u-process”

Dari mental models itulah, keyakinan yang mengakar kuat, jelas tidak mudah untuk mengubahnya. Butuh waktu yang disertai dengan refleksi diri. Dan di antara strategi untuk keluar dari paham radikalisme agama sebagaimana ditunjukkan oleh kelompok teroris dengan cara memoderasi beragamanya.

Di sini, yang dimoderasi adalah cara ia beragama, bukan agama itu sendiri. Sebab agama, secara universal mengandung nilai-nilai moderatisme, yaitu kemanusiaan, keadilan, kasih sayang, perdamaian, dan lain sebagainya.

Baca juga Pembangunan dan Perdamaian

Argumen tekstual moderasi beragama, perspektif Islam, diartikulasikan sangat baik oleh Sahiron Syamsudin (2022), yang mengacu pada QS 1:6 (al-sirat al-mustaqim) (al-Razi, Mafatih al-Ghayb, 1: 258); QS 2:143 (ummat wasat) (al-Tabari, Jami‘ al-Bayan, 2:627); QS 49:13 (ta‘aruf) (al-Razi, Mafatih al-Ghayb, 28: 138); QS 2:111-113 (antiklaim kebenaran eksklusif) (al-Tabari, Jami‘ al-Bayan, 2:431-435); QS 5:48 (pluralitas agama) (Ibn Kasir, Tafsir, 5: 249); QS 2: 256 (tidak ada paksaan dalam beragama).

Bagi Sahiron Syamsudin, moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan perilaku beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan, membangun kemaslahatan umum, berdasarkan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

Baca juga Perjalanan Moralitas yang Terseok

Dalam konteks penanganan kasus terorisme, mereka para pelaku, simpatisan, ataupun kalangan yang terpapar perlu dipulihkan. Tidak hanya dilakukan oleh segelintir orang, tetapi melibatkan semua elemen, yang secara konseptual disebut teori sistem, dan oleh Otto Scharmer dipopulerkan sebagai teori U (u-process). Pendekatan ini fokus pada bagaimana melakukan transformasi ke arah yang lebih baik, dari negatif ke positif.

Berdasarkan iceberg analysis di atas, teori U memungkinkan untuk menyelam ke dasar laut pada permasalahan yang dihadapi kelompok teroris dan sekaligus berusaha menawarkan solusi, misalnya dengan melakukan rethinking, redesigning, reframing, dan reacting.

Baca juga Hukum dan Keadaban Publik

Rethinking yang bergerak di level mental models mengubah paradigma dan keyakinan, dari pandangan Pancasila yang dianggap sebagai tagut menjadi Pancasila yang sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran agama. Itulah moderasi beragama. Di level systems structure perlu redesigning, dari sinisme terhadap kebijakan pemerintah karena dianggap diskriminatif ke arah agar ke depan pemerintah melahirkan kebijakan yang lebih adil.

Sementara reframing, mengubah tren dan pola, dari yang semula pemahaman keagamaannya absolut-eksklusif menjadi moderat-inklusif. Terakhir, di level reacting, melakukan pembiasaan moderasi beragama dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, tempat kerja, hingga masyarakat umum.

Semoga.

*Artikel terbit di Kompas.id pada 13 April 2022

Baca juga Kemerosotan Keadaban Publik dan Agama

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....