HomeOpiniMencari Kita di Tengah...

Mencari Kita di Tengah Aku

Oleh Alissa Wahid
Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia

”The Great Reset”. Inilah istilah yang banyak digunakan untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya perubahan tatanan dunia dan masyarakat yang kita yakini dan jalani akibat pandemi Covid-19.

Lurah Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Wahyudi Anggoro Hadi menggambarkannya dengan baik. Katanya, melalui pandemi ini kita belajar bahwa puncak relasi sosial adalah keluarga, puncak relasi ekonomi adalah kerja sama, dan puncak relasi politik adalah musyawarah.

Pandemi memaksa kita lebih banyak tinggal di rumah. Orang tua berinteraksi 24 jam dengan anak-anaknya. Suami dan istri pun hidup bersama tanpa memiliki identitas dan ruang personal di pekerjaan dan aktivitas pribadinya.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 1)

Kita meninggalkan kompetisi ekonomik untuk bahu-membahu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. Kehidupan politik relatif sepi dari keramaian yang tak memberdayakan. Ego sektoral melebur dalam satu padu kerja bareng mengatasi persoalan.

Polarisasi

Namun, apakah ketiga perubahan itu berlaku permanen dan membawa perubahan berkelanjutan? Tampaknya tak secara otomatis demikian. Kita melihat di tahun ini, sebagian relasi ini kembali ke pola-pola sebelum pandemi. Kepentingan dan agenda masing-masing kembali menyeruak, baik pribadi maupun kelompok, baik tingkat nasional maupun global.

Kita melihat polarisasi yang semakin membesar dalam berbagai hal, tidak hanya di dalam konteks politik praktis.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 2)

Kualitas kesejahteraan warga menjadi titik kesenjangan yang terdampak langsung. Usaha kecil menengah yang ambruk dan korporasi yang mengurangi tenaga kerjanya berdampak pada angka kemiskinan yang meningkat. Sementara itu, selepas restriksi perjalanan, keluarga kelas menengah ke atas menikmati revenge travel yang telah dua tahun ini ditinggalkan.

Merujuk buku The Spirit Level: Why More Equal Societies Almost Always Do Better yang ditulis Wilkinson dan Pickett (2009), jika kesenjangan ini tak tertangani dengan baik, beberapa dekade ke depan kita akan panen masalah kualitas hidup, seperti tingkat kejahatan, kesejahteraan anak dan perempuan, angka harapan hidup dan tingkat kesehatan, serta tingkat dan kualitas pendidikan.

Saat ini pendidikan berkualitas lebih dapat diakses oleh warga kelas menengah ke atas dan pendidikan berbasis digital pun mudah diadaptasikan.

Baca juga Psikologi Memaafkan (Bag. 3)

Sementara bagi warga menengah ke bawah, terutama yang tinggal di wilayah perdesaan dan daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), pandemi membawa kesulitan berlapis. Ketimpangan akses internet, ketidakmampuan finansial untuk menyediakan gawai, serta literasi digital yang rendah pada guru dan murid membuat learning loss yang lebih besar bagi mereka.

Kita juga melihat polarisasi corak keberagamaan di Indonesia, terutama pada umat Islam yang merupakan kelompok umat beragama terbesar. Meminjam pandangan Syafii Anwar, polarisasi terjadi antara paradigma beragama yang substantif inklusif dan eksklusif legal formalistik.

Yang pertama memandang bahwa setiap individu memiliki hak kewargaan yang setara, karena itu kehidupan keberagamaan pun harus dijaga agar inklusif. Yang kedua memandang bahwa demokrasi berarti mayoritaslah yang berkuasa, karena itu adalah wajar melakukan formalisasi aturan agama kelompok mayoritas.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag.1)

Alhasil, sikap eksklusif umat beragama atas nama kelompok mayoritas di berbagai tempat pun mendorong hilangnya hak konstitusi kelompok warga negara beragama minoritas.

Teknologi informasi pun mencatatkan dampak polarisasinya. Kita melihat kecenderungan warga bangsa yang semakin saling terhubung melalui platform jejaring dan media sosial.

Di satu sisi, ini membuat warga bangsa lebih mudah saling menolong atau beramai-ramai mengangkat sebuah isu yang krusial. Berbagai kasus ramai di media sosial dan berujung perubahan kebijakan atau penyelesaian kasus yang terkawal. Ketika ada warga bangsa yang membutuhkan, netizen tidak segan bertindak atau merogoh kantong untuk membantu orang yang bahkan tak dikenalnya. Untuk itu, bangsa kita diganjar peringkat 1 dalam World Giving Index 2019.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag. Terakhir)

Sebaliknya, media sosial juga menjadi tempat penghakiman yang luar biasa kejam. Doxxing (berburu dan membuka identitas pribadi) dilakukan dengan cepat. Perisakan daring pun terjadi dengan riuh rendah. Ini membuat Indonesia mendapat predikat bangsa yang paling kurang beradab menurut Digital Civility Index 2020 yang dilansir Microsoft.

Dan tentu saja, polarisasi akibat politik praktis yang berkelindan dengan politik identitas. Dalam masyarakat yang sosiosentrik, identitas menjadi sentimen yang paling mudah untuk mendapatkan dukungan politik. ”Kampret” dan ”cebong” pun menjadi label yang merendahkan kemanusiaan pendukung lawan politik. Tak heran keluarga bisa retak karena perbedaan pilihan politik.

Semangat persaudaraan

Setiap polarisasi ini bisa berdampak jauh, setidaknya relasi antarmanusia pun bisa rusak karenanya. Karena itu, kita perlu segera melakukan berbagai upaya dengan sengaja karena hampir tidak mungkin gejala-gejala ini bisa sembuh dengan sendirinya.

Baca juga Pendidikan dan Ketenangan Jiwa

Kita perlu kembali ke semangat senasib-sepenanggungan sebagai bangsa dan negara. Membangun semangat persaudaraan kebangsaan dengan nation building.

Gotong royong adalah prinsip hidup bersama yang nyata dalam setiap kelompok masyarakat Indonesia dan mengalami penguatan sepanjang pandemi. Karena itu, kita perlu meneguhkan gotong royong sebagai nilai dasar maupun pendekatan pembangunan bangsa.

Namun, gotong royong tidak bisa diharapkan tumbuh begitu saja, apalagi hanya dijadikan slogan. Meminjam teori Otto Scharmer dalam buku The Essence of Theory U (2018), gotong royong sebagai pendekatan kolaboratif generatif/produktif hanya bisa terwujud apabila kita mampu melepaskan diri dari tiga penghambatnya, yaitu Voice of Judgement, Voice of Cynicism, dan Voice of Fear.

Baca juga Ancaman Ekstremis-Radikalis di Era Disrupsi

Suara-suara ini membuat kita sibuk berkompetisi, berdebat untuk memaksakan kepentingan, bukan berdialog, apalagi berkolaborasi. Kita terjebak polarisasi cebong-kampret, menciptakan blunder penyelenggara negara yang mengabaikan persoalan rakyat, juga meningkatkan ketidakpercayaan rakyat kepada pemerintah dan parpol.

Mental set bahwa kelompok kita perlu menjaga diri dari ancaman kehadiran kelompok lain membuat kita bercuriga pada agenda kelompok lain, dan berupaya merebut dan mempertahankan kekuasaan. Tak bisa dimungkiri, paradigma relasi kuasa saat ini mendominasi mulai dari kekerasan berbasis jender di dalam keluarga sampai pada kepentingan ekonomi dan kekuasaan negara.

Gotong royong menurut Scharmer mensyaratkan tiga sikap mental yang tampak trivia, yaitu Pikiran Terbuka, Hati Terbuka, dan Tekad Terbuka (Open Mind, Open Heart, dan Open Will). Dengan tiga hal ini, pendekatan hierarkis struktural serta kompetisi bisa digantikan dengan kerja sama sejati karena ia akan menumbuhkan mental set adil dan welas asih serta bertanggung jawab.

Baca juga Menghentikan Kebiasaan Buruk

Kalau kita selami, ketiga hal ini bukanlah nilai baru dalam masyarakat kita. Sayangnya, perjalanan hidup bangsa yang tidak dilengkapi dengan pembangunan kebangsaan yang kuat yang membuat kita menyisihkan nilai-nilai ini untuk pencapaian material.

Bangsa kita dipenuhi dengan berbagai filosofi yang kuat. Tri Hita Karana, misalnya, menjadi falsafah masyarakat Bali untuk membangun kehidupan yang bermakna dan sejahtera melalui harmoni dengan Tuhan, harmoni dengan sesama manusia, dan harmoni dengan alam.

Hal ini senada dengan konsep Islam tentang tiga dimensi hubungan yang harus dibangun setiap manusia: hablum min Allah (hubungan dengan Tuhan), hablum min an-nas (hubungan dengan sesama manusia), serta hablum min al-alam (hubungan dengan alam).

Baca juga Manfaat Pemaafan

KH Ahmad Siddiq melengkapi dengan tiga persaudaraan (ukhuwah): ukhuwah diniyah (persaudaraan umat seagama), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga bangsa), dan ukhuwah basyariah (persaudaraan sesama manusia).

Untuk itulah kita membutuhkan kepemimpinan yang kuat. Kepemimpinan yang meneladankan (ing ngarso sung tulodo), kepemimpinan yang selaras dengan derap langkah bangsanya (ing madyo mangun karso), dan kepemimpinan yang tut wuri handayani.

Dalam tulisannya di tahun 2012, Gus Dur menyebutkan sebagian besar negara di dunia mencita-citakan kemerdekaan dan kemakmuran sebagai tujuan berdirinya negara, berbeda dengan Indonesia. Beliau mengingatkan, bangsa kita telah menetapkan tujuan berdirinya negara Indonesia adalah keadilan dan kemakmuran. Keduanya mensyaratkan kita mengikatkan diri pada kebersamaan kita, membangun hubungan utuh dan saling memperkuat, bergerak bersama.

Baca juga Membangun Religiositas Humanis, Menuju Altruisme

Apabila kita berhasil membangun kembali jembatan-jembatan hubungan antarpenghuni bumi nusantara ini, niscaya Recover Together Recover Stronger tak hanya menjadi slogan belaka dan akan berwujud nyata menjadi kebangkitan bangsa yang adil dan makmur.

*Artikel ini terbit di Harian Kompas, 28 Juni 2022

Baca juga Hati Nurani dan Jiwa Pemaaf

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pentingnya Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Berdamai dengan diri sendiri merupakan hal yang sangat...

Substansiasi Hijrah

Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute Artikel ini berasal dari mediaindonesia.com...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku...

Pentingnya Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Berdamai dengan diri sendiri merupakan hal yang sangat penting karena apabila tidak bisa berdamai dengan diri sendiri maka tidak akan bisa berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan. Pernyataan tersebut disampaikan penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama...

Substansiasi Hijrah

Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute Artikel ini berasal dari mediaindonesia.com yang terbit pada 19 Juni 2026 MUHARAM kembali hadir. Seperti biasa, media sosial pun dipenuhi narasi tentang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Komunitas-komunitas keagamaan mengajak masyarakat memperbarui komitmen spiritual mereka. Fenomena itu tentu menggembirakan. Itu...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...