HomeBeritaEkstremisme: Puncak Ketidaktahuan

Ekstremisme: Puncak Ketidaktahuan

Aliansi Indonesia Damai- Diskusi ilmiah penting dilakukan dalam rangka membuka cakrawala pengetahuan. Mitra diskusi sejatinya teman dalam berpikir, meski pandangannya saling bertolak belakang. Melalui diskusi, orang dapat menyadari bahwa pemikirannya tidak benar sendiri karena ada pandangan berbeda yang juga mengandung kebenaran. Proses seperti ini penting agar orang tidak terjerumus dalam ekstremisme.

“Karena belum tahu atau belum baca, orang membawa sesuatu yang belum pernah dia dengar, disebutnya sesat. Minimalnya dia menyalahkan. Puncak dari ketidaktahuan itu adalah ekstremisme,” ujar Ahmad Mas’ari, Dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau dalam acara Pengajian dan Diskusi “Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” yang diselenggarakan AIDA di Kampus UIN Sultan Syarif Kasim Riau, beberapa waktu silam.

Baca juga Tragedi Terorisme Luka Bangsa Indonesia

Mas’ari mengutip ucapan Almarhum KH. Hasyim Muzadi, mantan angggota Dewan Pertimbangan Presiden RI, bahwa orang bisa merasa paling benar karena lemahnya ilmu, stock of knowledge-nya kurang.

Menurut dia, ketika orang berpemikiran ekstrem maka tinggal satu tangga menuju terorisme. Karena merasa paling benar sementara yang lain sesat, maka harus dibasmi. Mirisnya sebagian orang berdalih memerjuangkan agama sebagai landasan aksi tersebut.

Baca juga Moderasi Beragama Tangkal Ekstremisme

Dalam hematnya, nilai-nilai yang terkandung dalam agama tentu sangat baik. Tetapi, ketika salah pemahaman atau berlebihan, maka yang terjadi seolah-olah agama membenarkan kejahatan. Dalam konteks terorisme di Indonesia, para pelaku mengklaim aksinya sebagai jihad. Padahal dampak dari aksi tersebut justru kerusakan.

“Agama apa pun tidak ada yang mengajarkan kejahatan seperti itu. Kalau ada yang bilang itu jihad, saya jamin itu orang salah paham terhadap konsep jihad itu sendiri. Peperangan bisa terjadi dalam konteks dulu, itu umat Islam dan non-Islam sedang berkonfrontasi, saling serang. Maka umat Islam harus mempertahankan diri. Jadi peperangan itu hanya salah satu unsur kecil dari jihad,” ujarnya menerangkan.

Baca juga Menebar Perdamaian di kalangan Ulama Riau

Bagi Mas’ari, ekpresi jihad selain perang jauh lebih banyak. Orang yang ikhlas dan serius ingin menuntut ilmu demi kebaikan dirinya, namun meninggal dalam perjalanan menuju majelis pengetahuan bisa dikategorikan sebagai syahid. [MS]

Baca juga Islam Menghormati Hak Dasar Manusia

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....