HomePilihan RedaksiMeresapi Hikmah di Balik...

Meresapi Hikmah di Balik Musibah

Aliansi Indonesia Damai- Sebuah tragedi besar pernah menimpa Syamsi Fahrul 19 tahun silam. Pria kelahiran Jakarta itu menjadi salah satu korban serangan teror bom di depan gedung Kedutaan Besar (Kedubes) Australia, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004.

Peristiwa yang kerap disebut Bom Kuningan ini menambah catatan luka bagi bangsa Indonesia. Sebelum serangan ke Kedubes Australia di Jakarta, telah terjadi rentetan aksi teror bom di sejumlah tempat. Di antaranya aksi teror Bom Natal pada tahun 2000 yang menyasar gereja-gereja di beberapa kota, Bom Bali tahun 2002, dan bom yang menyasar Hotel JW Marriott Jakarta tahun 2003.

Baca juga Trauma dan Rasa Sakitnya

Bagi Syamsi, ledakan Bom Kuningan yang hampir membuat nyawanya melayang tak ubahnya kiamat kecil. “Sembilan belas tahun yang lalu itu masih melekat di kepala saya, seperti kiamat kecil yang terjadi di hidup saya,” ujarnya dalam sebuah kegiatan AIDA di Samarinda beberapa waktu lalu.

Saat peristiwa terjadi, dalam benak Syamsi belum terbayangkan apakah ledakan kencang yang muncul bersumber dari ban bus yang meletus, atau kecelakaan lalu lintas, atau sebab lain. Yang dia rasakan, seketika tubuhnya terpental dari titik semula berdiri. Hempasan kuat mendorong badannya hingga kehilangan keseimbangan gravitasi. Sesaat kemudian rasa sakit luar biasa meliputi sekujur tubuhnya, terutama di bagian perutnya. Saat melihat kondisi perutnya, dia langsung menyadari ada luka serius yang merobek ususnya.

Baca juga Melawan Ketakutan demi Masa Depan

Syamsi menjelaskan detail kronologi perutnya tertembus serpihan benda asing akibat ledakan tersebut. Gedung tempatnya mencari nafkah letaknya berseberangan dengan kantor Kedubes Australia yang disasar bom oleh kelompok teroris. Waktu itu ia diamanahi bekerja sebagai petugas sekuriti Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil & Menengah. Tugasnya pada hari kejadian adalah menjaga keamanan di gerbang depan. Praktis dia harus betul-betul berjaga di tepi Jl. HR Rasuna Said Kuningan, Jakarta, tepat di seberang titik ledakan bom.

Tanggal 9 September 2004 sekira pukul 10 pagi, Syamsi mengingat beberapa menit sebelum ledakan ia baru saja mengatur lalu lintas agar mobil Menteri keluar menuju Jl. HR Rasuna Said dengan aman. Duarrrr. Sebuah mobil boks berisi bom meledak di seberang tempatnya berdiri. Kendati mengalami cedera berat akibat ledakan, Syamsi masih mengucap syukur bahwa masa terkapar tak berdaya yang dilaluinya tak sampai menghilangkan nyawanya.

Baca juga Kesabaran Tak Bertepi Penyintas Bom

Tidak berapa lama ada orang yang menolongnya. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit (RS) terdekat, RS MMC yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari kantornya. Sampai di RS tersebut, Syamsi melihat sudah banyak korban yang senasib dengannya. Sebagian besarnya berseragam polisi. Belakangan ia ketahui korban-korban tersebut merupakan anggota Brimob yang ditugaskan menjaga keamanan objek vital, dalam hal ini Kedubes Australia. Sempat gelisah beberapa waktu menanti tindakan medis sambil menahan sakit, Syamsi bersyukur kepastian operasi terhadap lukanya akhirnya datang. “Komandan saya datang untuk tanda tangan jaminan persetujuan tindakan,” katanya.

Dokter memutuskan untuk memotong ususnya yang terinfeksi akibat tertembus serpihan bom sepanjang 10 cm. Pascaoperasi, dia menjalani masa perawatan di RS selama dua pekan. Sejak ususnya dipotong, ia hanya dibolehkan mengonsumsi makanan yang serba halus, seperti bubur dan jus buah.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 1)

Tiga bulan berselang Syamsi kembali merasakan sakit di bagian yang sama. Ia pun memeriksakan keluhannya ke RS. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian ususnya masih mengalami infeksi. Lagi-lagi, ia terpaksa menjalani operasi pemotongan usus sepanjang 10 cm untuk kedua kalinya.

Walaupun banyak penderitaan bertubi-tubi datang, Syamsi tak kendat dalam mengucap syukur. Seiring waktu lukanya berangsur pulih. Ia pun mengaku banyak mengambil pelajaran dari tragedi Bom Kuningan yang menimpanya. “Alhamdulillah Allah kasih rejeki, di tahun 2009 saya diangkat menjadi pegawai negeri sipil sampai saat ini. Bagi saya, percayalah setiap musibah Allah memberikan hikmahnya,” kata dia.

Ketika ditanya apakah menyimpan dendam terhadap pelaku terorisme, Syamsi menuturkan pada awalnya memang sempat marah. Namun, ia sadar bahwa kemarahan membuat mentalnya semakin terpuruk. Dia memilih berdamai dengan keadaan dan masa lalu yang telah terjadi. Dia pun berpesan kepada rekannya sesama penyintas aksi terorisme agar terus belajar ikhlas menjalani takdir kehidupan. “Berdamailah sama diri sendiri, kita akan bisa memaafkan orang lain,” ujarnya.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 2)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengikhlaskan Masa Lalu

Setiap waktu yang kita lewati dalam perjalanan hidup ini tak bisa...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...