07/08/2023

Trauma dan Rasa Sakitnya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada pena dan tinta yang mampu menggambarkan luka batin maka mata pun tidak akan sanggup melihatnya. Jika ada obat yang bisa diresepkan untuk menyembuhkannya, entah sebanyak dan selama apa obat itu mesti dikonsumsi.

Menatap luka batin bak melihat luka fisik tanpa bisa menyentuhnya atau seperti menyaksikan sebuah tragedi mengerikan tanpa bisa menolongnya, meskipun rasanya sangat ingin menjadi pahlawan. Luka batin sangat rumit dan tidak sesederhana diksinya. Jenisnya pun amat sangat beragam, tapi rasa sakitnya tak cukup digambarkan hanya dengan kisah yang didengar atau visual yang dilihat. Sebab sumber luka batin sangat sulit ditelusuri dan diidentifikasi.

Baca juga Melawan Ketakutan demi Masa Depan

Ada luka yang tumbuh sejak kecil lalu terpatri. Tanpa disadari, luka itu terasa lebih menyakitkan saat diingatkan oleh orang lain ketika beranjak dewasa. Bertahun-tahun lamanya pemilik luka batin menganggap dirinya baik-baik saja. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Ada pula luka batin yang dipicu oleh tragedi saat dewasa. Merasa sudah punya kapasitas, pemilik luka berusaha mengatasi dengan cara mengabaikan dan menyembunyikannya saat rasa sakit mulai mereda. Hidupnya terus berjalan bertahun-tahun lamanya, seolah ia baik-baik saja, sampai tiba muncul pemantik yang mengorek luka itu.

Baca juga Kesabaran Tak Bertepi Penyintas Bom

Keduanya seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Bagi yang tidak mengerti akar persoalannya, ledakan itu mungkin dianggap sebagai keganjilan.

Bulan Cristanti, penyintas Bom Kuningan tahun 2004 yang saya kenal di awal tahun 2023. Ia baru bergabung dengan komunitas penyintas bom, Yayasan Penyintas Indonesa (YPI), dan kemudian mengikuti kegiatan kampanye perdamaian bersama AIDA. Nama Bulan ditemukan pengurus YPI, Nanda Olivia, yang juga penyintas Bom Kuningan, melalui dokumentasi salah satu surat kabar yang memberitakan peristiwa Bom Kuningan 2004.

Ke mana Bulan Cristanti selama 19 tahun?

Ia tidak ke mana–mana. Tetap berdomisili di rumah yang ditinggalinya sejak sebelum tragedi. Hanya saja setelah peristiwa pengeboman di depan kantor Kedubes Australia pada 9 September 2004 itu, Bulan berusaha menyembuhkan luka fisik dan luka batin secara mandiri tanpa sempat teridentifikasi sebagai korban.

Seperti korban serangan teror pada umumnya, yang menjadi perhatian utama adalah apa yang terlihat di depan mata, yaitu luka fisik. Bulan fokus terhadap pemulihan fisiknya. Luka yang mengering dan jahitan-jahitan bekas operasi yang tak lagi terasa sakit meskipun meninggalkan bekas.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 1)

Bulan mengabaikan luka batinnya hingga 19 tahun lamanya. Padahal itu bisa teridentifikasi dari rasa takutnya melintasi kawasan Jalan Rasuna Said Jakarta Selatan, titik serangan bom yang melukainya. Ia mengalami kecemasan berlebih ketika mendengar suara dentuman, juga tidak sanggup melihat luka robek dan darah yang menetes.

Tapi semua indikasi itu diabaikannya. Ia menghindari segala hal yang berkaitan dengan tragedi. Caranya dengan berusaha menguatkan diri dan “mengunci” luka batin itu di sebuah ruang tanpa sekali pun menengoknya lagi. “Kunci” ruangan pun dibuang entah ke mana agar Bulan bisa melanjutkan hidup tanpa merasakan sakit.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 2)

Selama bertahun-tahun, hidup Bulan berjalan seolah tanpa beban dan bayang–bayang tragedi masa lampau. Tapi Bulan lupa jika ruang itu bisa saja terbuka lagi jika ”kuncinya” ditemukan atau terdobrak oleh hal yang tidak diinginkan. Faktor terakhir akan lebih menyakitkan.

Setelah 19 tahun berlalu, ruang trauma itu terbuka karena ”kunci” yang ditemukan, yaitu bertemu dengan sesama penyintas terorisme, berbagi cerita, dan saling menguatkan melalui kegiatan AIDA. Awalnya seperti ledakan emosi yang tidak terbendung. Ceritanya pun urung terungkap, yang ada hanya tangis kesal dan rasa sakit dalam hati yang sulit diungkapkan, hingga fisik pun terdampak.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. Terakhir)

Dalam beberapa hari kegiatan AIDA, aku berusaha mendampinginya untuk berbagi cerita dari sudut berbeda dan kemudian saling menguatkan. Perlahan Bulan mulai bisa menyelesaikan kisahnya. Ia seperti dianugerahi kekuatan meski rasa sakit di hati terus mendesak, pun tangis tidak henti mengalir hingga akhir kegiatan.

Jika kita tidak tahu tentang luka itu, maka menjaga sikap adalah bagian dari kepedulian yang berarti. Tapi jika kita tahu tentang luka itu, maka memahami adalah bagian dari solusi sebelum melibatkan diri untuk menolong jiwa yang mungkin rasanya hampir mati. [LH]

Baca juga Pasang Surut Kehidupan Penyintas

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *