HomeBeritaKadisdik Wilayah IX Jabar:...

Kadisdik Wilayah IX Jabar: Pelajar Harus Teliti Sebelum Bertindak

Aliansi Indonesia Damai- Kepala Dinas Pendidikan Wilayah IX Jawa Barat, Dewi Nurhulaela, mewanti-wanti para pelajar agar berpikir panjang dan mendalam sebelum bertindak. Apakah tindakannya akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain atau malah sebaliknya. Terlebih jika itu berupa tindak kekerasan.

Hal itu disampaikan oleh Dewi usai menghadiri kegiatan ”Diskusi Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang dilaksanakan AIDA di SMAN 1 Tukdana, Indramayu, awal Agustus 2023 lalu.

Baca juga Kepala Disdik Wilayah IX Jabar: Anak-Anak Harus Tangguh

Dalam kegiatan itu, AIDA menghadirkan kisah para korban aksi teror bom serta mantan pelaku terorisme yang telah bertobat. Para penyintas terorisme berhasil bangkit dari keterpurukan akibat peristiwa terorisme dan berdamai dengan kenyataan. Sementara mantan pelaku menunjukkan ketangguhan dengan pertobatannya dari jalan kekerasan.

Belajar dari kehidupan korban terorisme yang mengalami derita dalam waktu panjang, Dewi mengambil pelajaran bahwa setiap tindak kekerasan berdampak besar bagi siapa pun yang terkena. Tak hanya cedera fisik namun trauma psikis yang lama.

Baca juga Menabur Bibit Ketanggguhan di SMAN 1 Kandanghaur

Dalam konteks generasi pelajar kini, Dewi prihatin dengan maraknya geng-geng motor yang melakukan aksi kriminal, terutama penganiayaan. Akhirnya banyak korban yang jatuh bergelimpangan karena perilaku buruk itu.

”Contoh, kemarin itu ada anak SMA di Majalengka, ada juga yang di Indramayu, mereka masuk geng motor, orang yang tidak berdosa di pinggir jalan, ibu-ibu yang lagi belanja di pasar disabet pakai celuritnya dia. Itu kan mereka tangannya jadi buntung,” ujarnya mencontohkan.

Baca juga Kepala SMAN 1 Sukagumiwang: Orang Beriman Tak Suka Kekerasan

Menurut Dewi, pelaku jelas tidak punya rasa empati karena tidak memikirkan dampak pada diri korbannya. ”Mereka kehilangan masa depan. Walaupun mungkin mereka juga harus bangkit dari keterpurukannya. Cuma ’kan rasa malu, rasa sedih kehilangan tangannya, kemudian kehilangan harapan, dan sebagainya,” katanya.

Masih dari kisah kehidupan korban terorisme, Dewi mengambil pelajaran tentang pentingnya menghapus dendam dan mengubahnya menjadi energi maaf. Para mantan pelaku menyesal telah bergabung dengan kelompok terorisme dan meminta maaf kepada korbannya. Pada saat bersamaan para korban berjiwa besar untuk memaafkan.

Baca juga Menjaga Sekolah dari Perilaku Nirdamai

”Ini contoh juga ketika kita berselisih dengan kawan, jangan pernah dendam. Ada ’kan yang pendendam. Kalau kita lihat di TV itu karena di-bully oleh teman-temannya kemudian akhirnya membakar sekolah. ’Kan rugi, orang lain tidak bisa sekolah akhirnya. Jadi, yang rugi orang banyak,” ucapnya.

Memungkasi testimoninya, Dewi menyampaikan empati dan simpati sebesar-besarnya kepada korban terorisme. ”Mudah-mudahan mereka juga diberikan umur yang panjang, sehat selalu, anak-anaknya juga bisa melanjutkan kehidupannya. Dan, kita harus menjadi orang yang pemaaf, dan jangan menjadi pendendam,” tuturnya mengakhiri. [MS]

Baca juga Pribadi Tangguh Menolak Tawuran

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...