HomeBeritaBelajar Tak Terbatas di...

Belajar Tak Terbatas di Kelas

Aliansi Indonesia Damai- Aktivitas belajar dan mengajar tak melulu dilakukan di ruang kelas, bisa di mana saja. Asalkan materinya memberikan manfaat dan bermasalahat, itulah kegiatan belajar yang harus diikuti dengan baik.

Pesan ini disampaikan oleh Rini Sundari, Waka Kurikulum SMKN 6 Bandung, saat membuka kegiatan “Diskusi Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang digelar AIDA di sekolahnya, awal Agustus 2023 lalu. Kegiatan diikuti oleh 85 siswa perwakilan pengurus kelas dan organisasi kesiswaan.

Baca juga Siswa SMA BPPI Baleendah: Kekerasan Jangan Dibalas Kekerasan

Rini menilai kegiatan ini sesuai dengan prinsip bahwa belajar itu bisa di mana saja, tidak terbatas pada ruang kelas. “Hidup itu sangat luas. Yang namanya belajar itu tidak terbatas pada ruang. Ilmu kehidupan itu sangat banyak dan bisa ditemukan di sekitar kita, termasuk dari kegiatan ini,” tuturnya.

Rini berpesan kepada para peserta agar ikut memperhatikan lingkungan sekitar, barangkali ada teman atau sahabat yang terlibat dalam kegiatan yang menjurus pada hal-hal negatif. Dalam hematnya, para siswa bisa saling mengingatkan sesama. Bagi mereka yang mengetahui ciri-ciri orang yang terpapar paham kekerasan, hendaknya bisa membantu temannya untuk menjauhi gerakan tersebut.

Baca juga Madrasah Ramah Anak

“Kesempatan usia kalian adalah masa-masa emasnya, jadi jangan disia-siakan. Kalau kalian salah melangkah, rugi akibatnya ke depan. Harapan orang tua pupus, cita-cita kalian tidak tercapai, orang-orang di sekitar kalian tidak nyaman dengan keberadaan kalian,” ujarnya tegas.

Dalam kesempatan kali ini, para peserta mendapatkan materi tentang ketangguhan dari kisah korban dan mantan pelaku terorisme. Dari sisi korban, para peserta menyimak kisah bagaimana dampak aksi kekerasan terorisme pada korban dan bagaimana para korban mampu bangkit dan berdamai dengan luka yang mereka terima.

Baca juga Kepala MA As-Salam Baleendah: Orang Tangguh Tak Masuk Geng Negatif

Sementara dari sisi mantan pelaku, para peserta mempelajari bagaimana awal mula para pelaku bisa terjerumus ke dalam jaringan teror, proses perubahan hingga pertobatan, dan rekonsiliasi dengan para korban.

Usai kegiatan, salah seorang peserta mengaku merasakan adanya perubahan dalam dirinya. Ia mengaku jadi lebih sensitif dan peduli dengan perasaan korban yang terkena dampak dari peristiwa tersebut. “Peperangan itu bukan cara untuk menyelesaikan masalah. Utamakan untuk berpikir lebih logis lagi dan supaya dapat memandang permasalahan dari berbagai sisi,” terangnya.

Peserta lainnya menyampaikan pesan ketangguhan kepada generasi muda. Ia berpesan tentang pentingnya berhati-hati dalam bergaul. “Untuk teman-teman generasi muda, berhati-hatilah dalam memilih komunitas, agar terhindar dari bahaya dan hal-hal yang merugikan,” ucap siswa tersebut. [FAH]

Baca juga Kepala SMAN 1 Baleendah: Jadilah Seperti Santan Kelapa

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...