HomeBeritaKisah Korban Menginspirasi Pelajar...

Kisah Korban Menginspirasi Pelajar Sixtam untuk Tangguh

Aliansi Indonesia Damai- Ni Kadek Ardani, korban Bom Bali pada 1 Oktober 2005 silam, mengisahkan sepenggal pengalaman hidupnya di hadapan 50 pelajar SMAN 6 Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, dalam Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang  dilaksanakan AIDA, Rabu (31/1/2024).

Kadek, sapaan akrabnya, mengaku kejadian tersebut merupakan kenangan pahit yang tak pernah terlupakan. Dia tidak hanya mengalami luka berat di sebagian anggota tubuhnya, tetapi juga harus rela kehilangan pekerjaan, sumbernya menafkahi keluarga. Meskipun demikian, dengan semangat hidup yang tersisa, dia terus berjuang untuk bangkit dari keterpurukan.

Baca juga Tangguh Menyikapi Masalah

“Saya tidak bisa bekerja selama delapan bulan karena saya harus fokus dengan perawatan. Selama delapan bulan itu saya tanpa penghasilan. Tetapi, bagaimana pun juga saya harus menghidupi keluarga saya,” ucap perempuan asal Jimbaran, Bali ini.

Kini Kadek telah bangkit dan melanjutkan hidup. Ia sempat bekerja lagi di beberapa kafe sebelum akhirnya kini membuka toko kelontong. Selain itu, ia berkomitmen untuk aktif mengampanyekan perdamaian agar tidak ada lagi orang yang menjadi korban sepertinya. Kadek memutuskan untuk menjalin rekonsiliasi dengan mantan pelaku terorisme yang telah bertobat dan bersatu menjadi Tim Perdamaian AIDA demi masa depan Indonesia yang lebih damai.

Baca juga Pendidikan “Menyelamatkan” Mantan Ekstremis

“Saya bergabung di Tim Perdamaian bersama AIDA menjadi duta perdamaian,” ujarnya mantap.

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta dari Kelas XI Sixtam, julukan SMAN 6 Tambun Selatan, berdialog dengan Kadek. Ia menanyakan apakah Kadek memiliki trauma pasca kejadian bom dan bagaimana caranya mengatasi trauma tersebut.

Kadek menyatakan memang sempat merasakan trauma. Dia mengaku sempat takut bila mendatangi tempat kejadian yang telah membuatnya terluka. Namun, dukungan dari keluarga dan rekan-rekannya sesama korban menguatkannya. “Terutama Ibu. Beliau sangat mendukung saya, memberi semangat untuk bangkit. Saya juga dibantu teman-teman kerja, teman-teman sesama korban, kita saling menyemangati melawan trauma tersebut,” katanya.

Baca juga Penyintas: Kita Harus Memikirkan Masa Depan

Beberapa siswa mengapresiasi ketangguhan Kadek dalam berjuang untuk bangkit pascakejadian mengerikan tersebut. Di antaranya ialah peserta perwakilan Kelas XI IPS 4. Ia mengatakan, kisah Kadek membuatnya belajar untuk tidak mudah patah semangat dan tidak membalas dendam.

Peserta lain mengatakan bahwa kegiatan Dialog Interaktif membuatnya paham bahwa sebagai manusia harus senantiasa berupaya menjadi tangguh. “Menjadi manusia tangguh adalah ketika kita bisa mengubah diri kita menjadi lebih baik lagi, ketika dihadapkan oleh ketidakadilan jangan membalas dengan ketidakadilan lagi,” ujar siswi Sixtam asal Kelas X.4 tersebut.

Baca juga Siswa SMAN 2 Bogor: Jangan Puas dengan Satu Sudut Pandang

Yuliana, Kepala Sekolah SMAN 6 Tambun Selatan, dalam sambutannya menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, langkah AIDA ini mampu menguatkan kekompakan, toleransi, dan kebersamaan anak-anak didiknya. Terlebih lagi, di sekolah yang dipimpinnya banyak siswa-siswi yang berasal dari berbagai daerah dan bermacam agama. “Kedatangan AIDA membuat saya berpikir untuk membuat Duta Perdamaian di sekolah, sehingga menjadi kader-kader perdamaian hasil kegiatan kita ini,” ujarnya.

Ketua Pengurus AIDA, Hasibullah Satrawi, menyebut kegiatan ini dilaksanakan AIDA sebagai ajakan untuk belajar bersama-sama menguatkan diri menghadapi tantangan zaman dan kerapuhan yang merajalela. “Tangguh menghadapi tantangan zaman dan kerapuhan yang merajalela, jangan menyerah dengan keadaan apa pun, sampai melakukan aksi kekerasan, termasuk kekerasan yang membahayakan eksistensi kita sebagai pribadi maupun negara,” pungkasnya. [MSH]

Baca juga Kepsek SMAN 2 Bogor: Nilai Perdamaian Perlu Ditanamkan sejak Dini

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...