HomeOpiniMembumikan Perjanjian Al-Mizan

Membumikan Perjanjian Al-Mizan

Oleh: Fachruddin M. Mangunjaya,
Scholar Drafting Team Al-Mizan Covenant, Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian (FBP) Universitas Nasional

Para ulama, cendekiawan, dan aktivis lingkungan muslim baru saja melahirkan Perjanjian Al-Mizan. Upaya menjaga masa depan bumi dan peradaban.

Akhirnya Al-Mizan Covenant atau Perjanjian Al-Mizan resmi diluncurkan di arena global, di United Nation Environmental Assembly ke-6 (UNEA-6), Nairobi, pada 27 Februari lalu. Dokumen ini dibuat sebagai panduan upaya merawat bumi yang sudah sewajarnya dipelihara dengan baik oleh umat manusia. Pedoman tersebut tentu saja berakar pada pesan wahyu Ilahi.

Baca juga Mengurai Rantai Kekerasan di Pesantren

Dokumen ini dirumuskan oleh para sarjana terkemuka dunia Islam, terutama yang bergerak di kancah global dan menyaksikan realitas krisis atau kerusakan lingkungan hidup. Para sarjana yang peduli ini terdiri atas ilmuwan muslim, para alim, cendekia, dan aktivis lingkungan hidup serta perubahan iklim yang selama ini aktif dan peduli. Mereka merenung mencari ajaran moral agama untuk mendapat pelajaran serta pesan nilai ajaran yang tinggi.

Dokumen ini menjalani proses yang panjang. Draf pertama Al-Mizan dibagikan kepada lebih dari 300 lembaga Islam dan mitra internasional untuk memperoleh masukan dan konsultasi. Selanjutnya dilakukan review oleh 28 ilmuwan dan alim dari berbagai negara untuk kemudian mendapat revisi versi bahasa Arab oleh Majelis Hukama Al-Muslimin yang merupakan jaringan ulama Al-Azhar.

Baca juga Puasa, Kedewasaan, dan Korupsi

Kata Al-Mizan diterjemahkan sebagai keseimbangan atau balance dalam bahasa Inggris. Kata ini merujuk pada Surah Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang), yang di dalamnya Allah SWT menggambarkan penciptaan bumi serta alam semesta dalam keseimbangan sempurna: “Yang Maha Penyayang, mengajarkan Al-Quran, menciptakan manusia, mengajarinya kefasihan (berbicara), matahari dan bulan bergerak dengan perhitungan yang tepat, dan bintang-bintang serta pepohonan bersujud, dan lagit Dia angkat dan berikan keseimbangan (mizan), agar kamu tidak melampaui batas (mizan), dan menegakkan keadilan dan tidak mengurangi keseimbangan (mizan).” (Quran 55:1-9).

Perjanjian Al-Mizan untuk bumi yang terdiri atas sekitar 99 halaman ini mengkaji etika di balik pola sosial keberadaan manusia dan menyelidiki bagaimana mereka dapat dihidupkan saat ini dengan bekerja selaras dengan detak jantung alam. Perjanjian ini menyajikan pandangan Islam terhadap lingkungan dalam upaya memperkuat tindakan lokal, regional, dan internasional dalam menanggulangi perubahan iklim serta ancaman lain terhadap planet ini.

Baca juga Putus Sekolah dan Pembangunan Berkelanjutan

Para cendekiawan muslim berjejaring dari berbagai bangsa melihat bahwa secara sains, yang juga mengungkap sunatullah, fitrah semua ciptaan Tuhan di bumi—bahwa planet bumi sedang tidak baik-baik saja. Sekitar 1,8 miliar umat Islam di seluruh dunia tidak berpangku tangan. Karena itulah, mereka yang mempunyai pengetahuan pun telah bergerak. Para saintis dan lembaga-lembaga muslim di seluruh penjuru dunia hendaknya peduli dan mengimplementasikan tindak lanjut dokumen penting ini.

Perawatan lingkungan hidup dan pemuliaan alam sebagai ciptaan Tuhan sewajarnya telah menjadi darah daging dalam peradaban Islam. Dengan ajaran inilah, perilaku pribadi dan praktik ramah lingkungan kiranya terwujud dalam pergaulan kita dengan orang lain. Juga tentang perhatian dalam hubungan kita dengan alam dan makhluk hidup lainnya. Dokumen Al-Mizan mengandung seruan kuat supaya umat Islam terlibat aktif dalam menjaga lingkungan hidup menjadi pendorong yang relevan bagi akademikus, aktivis lingkungan, penggerak sosial, masyarakat, dan pemimpin umat untuk terus meningkatkan kegiatannya.

Baca juga Aksi Perundungan Siswa Semakin Mencemaskan

Dokumen ini secara komprehensif juga merujuk pada studi dan resolusi mutakhir tentang perjanjian berbagai negara dalam perjanjian lingkungan hidup multilateral (MEA), antara lain dituliskan: “… kami senang mengetahui bahwa Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati (CBD) telah mengadopsi kerangka kerja keanekaragaman hayati global baru yang terdiri dari empat tujuan yang harus dicapai pada 2050 dan 23 target spesifik yang harus dipenuhi oleh negara-negara penanda tangan pada 2030. Di antara tujuan-tujuan tersebut sasarannya adalah mengurangi hilangnya kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi, termasuk ekosistem dengan integritas ekologi tinggi, mendekati angka nol pada 2030″.

Dengan demikian, Al-Mizan akan menjadi penyokong penting integrasi sains dan ajaran agama, terutama dalam studi Islam di dunia akademis. Dokumen ini juga menjadi petunjuk aksi praktis bagi gerakan lingkungan di dunia muslim, seperti ekopesantren, ekomasjid, dan green hajj. Karena itu, dokumen ini menjadi relevan untuk diajarkan di universitas Islam di seluruh dunia, pesantren-pesantren, dan majelis-majelis ilmu. Toh, ajaran suri teladan Nabi Muhammad SAW  menggarisbawahi perlunya upaya mendorong pada kebaikan publik, melarang tindakan salah, dan bertindak secukupnya setiap saat: “Hendaklah ada komunitas di antara kamu yang menyeru kepada yang baik, menganjurkan yang saleh, dan mengharamkan yang munkar, merekalah yang berhasil.” (3: 104)

Baca juga Etika Penggunaan AI dalam Jurnalisme

Fazlun Khalid, dari Yayasan Islam untuk Ilmu Ekologi dan Lingkungan (IFEES) Inggris, menyatakan bahwa Al-Mizan dapat tampil sebagai cahaya penuntun, terinspirasi oleh iman dan didorong oleh tanggung jawab, untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan bagi diri kita sendiri dan generasi mendatang. Al-Mizan memuat daftar nilai-nilai Islam yang mengesankan terhadap bumi.

Dokumen ini juga terinspirasi oleh konsep fitrah, hubungan bawaan kita dengan alam, mengejar keunggulan dan perbuatan baik (ihsan) dalam ekologi, membangun kawasan konservasi (hima) guna melindungi lingkungan kita untuk semua generasi. Komitmen terhadap pelindungan sumber daya ekologis mencerminkan keyakinan bahwa pengelolaan lingkungan hidup adalah amanah suci, sebuah kewajiban yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi.

*Artikel ini terbit di tempo.co, Senin, 18 Maret 2024

Baca juga Zaman Ruwaibidhah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...