HomePilihan RedaksiNaluri Menolong Sesama Insan

Naluri Menolong Sesama Insan

Aliansi Indonesia Damai- Malam itu umat Islam akan kedatangan bulan yang dinanti-nantikan, bulan suci Ramadan tahun 2017. Di sekitar Terminal Kampung Melayu sudah banyak aparat kepolisian yang sedang bertugas dalam rangka pengamanan Pawai Remaja Muslim menyongsong Ramadan. Tepatnya pada hari Rabu, 24 Mei 2017 pukul 21.00 WIB, tiba-tiba terdengar ledakan, seperti suara dentuman ban bus yang pecah.

Pada saat itu saya seperti biasa sepulang kerja dari daerah Greenville, Jakarta Barat melewati kolong fly over Terminal Kampung Melayu. Dengan spontan saya mendekat ke suara dentuman tersebut. Di sana sudah banyak aparat kepolisisan yang lari tunggang langgang pada minta pertolongan. Ada beberapa aparat kepolisian yang tergeletak di samping musala dan toilet umum di Terminal Bus Kampung Melayu. Muka mereka berlumuran darah tak berdaya.

Baca juga Kedamaian di Dalam Diri

Saya bersama beberapa anggota polisi menolong salah satu polisi yang tergeletak tak berdaya. Sekejap berikutnya terjadi lagi ledakan yang kedua sekitar pukul 21.05 WIB. Pada saat itu badan saya terasa panas. Saya raba lengan kanan saya, berlumuran darah. Telinga kanan mendengung kencang, baju dan jaket compang-camping. Seketika itu juga saya menyelamatkan diri minta pertolongan kepada orang yang berada di sekitar kolong fly over Terminal Kampung Melayu.

Pertolongan pertama, saya diantar tukang ojek pangkalan di sekitar Kampung Melayu, dibawa ke klinik terdekat dengan menaiki motor saya. Di atas motor darah saya terus bercucuran. Sampai di klinik saya ketemu dengan dokter jaga, tapi karena lukanya parah dokter menyarankan dirujuk ke rumah sakit. Sebagai pertolongan pertama, lengan saya yang luka diperban untuk menghambat darah yang mengalir deras.

Baca juga Mensyukuri “Hidup Kedua”

Dengan diantar tukang ojek, saya dibawa menuju ke arah Cawang, yaitu ke RS. Budi Asih Cililitan. Tapi, saat itu kondisi Jl. Otista sangat padat dan macet. Tukang ojek tersebut tidak bisa menembus. Pada saat itu ada petugas polisi yang sedang berada di jalan lalu saya minta tolong beliau. Akhirnya saya dibawa naik motor oleh polisi tersebut menuju RS. Budi Asih. Saya langsung dibawa ke intalasi gawat darurat dan langsung ditangani oleh dokter.

Setelah ditangani tim dokter, dibersihkan luka-luka saya, dirontgen, lalu dijahit. Di kaki ada 10 jahitan, dan luka di punggung saya ada 14 jahitan. Yang parah luka di lengan kanan saya. Keesokan harinya saya dioperasi untuk menangani luka lengan saya. Operasi tersebut kurang lebih hampir 4 jam. Menurut dokter luka saya cukup parah, yaitu putus otot tendon.

Baca juga Mengikis Kebencian Menuai Perkawanan

Selama dalam perawatan di RS Budi Asih, saya dikunjungi Plt Gubernur DKI Jakarta, yaitu Bp. Djarot Syaiful Hidayat; Ketua DPRD DKI Jakarta; Kapolres Jakarta Timur; Direktur Bank Mandiri, Bp. Heri Gunardi; kemudian Bp. Aquarius, Kepala Bank Mandiri Wilayah Jakarta Kota dan jajarannya; Pengurus Serikat Pekerja Bank Mandiri Kantor Wilayah Jakarta Kota; serta teman-teman saya perwakilan pegawai Bank Mandiri Cabang Area Jakarta Greenville. Mereka men-support dan mendoakan saya agar tetap tabah dan sabar menghadapi cobaan ini.

Saya bersyukur bisa sembuh dari luka akibat ledakan bom, juga masih bisa kembali bekerja untuk menafkahi keluarga saya. Meskipun bekas luka kadang masih terasa sakit sampai saat ini, saya sangat bersyukur atas nikmat dan anugerah Allah SWT. Trauma pastinya iya, tapi saya berusaha sedikit demi sedikit mengalahkan rasa itu.

Baca juga Merajut Hubungan Menggenggam Harapan (Bag. 1)

Demikian sedikit cerita dari saya, korban langsung serangan teror bom di Terminal Kampung Melayu, Jakata Timur yang dilakukan oleh orang-orang yang hatinya tidak baik. Semoga kejadian ini tidak terjadi lagi. Cukup kami yang menjadi korban terakhir. Saya berdoa semoga terorisme di bumi Indonesia khususnya, dan di dunia pada umumnya, dapat dimusnahkan. Amin.

Baca juga Merajut Hubungan Menggenggam Harapan (Bag. 2-Terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...