HomeOpiniMemperkuat Rekoneksi Damai

Memperkuat Rekoneksi Damai

Oleh Azyumardi Azra
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tahun-tahun politik mencemaskan. Banyak kalangan merasa khawatir bakal terjadi perjumpaan keras (hard encounters) yang berpotensi membelah koneksi dan jaringan kelompok warga berbeda yang terlibat dalam kontestasi pada tahun-tahun politik panjang.

Meski penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) masih cukup lama, yakni pada 14 Februari 2024, dan pemilihan kepala daerah (pilkada) pada 27 November 2024, tahun-tahun politik dalam kenyataan sudah bermula sejak 2022. Tahun politik bisa berlanjut ke 2025 ketika ada gugatan hasil pemilu dan pilkada ke Mahkamah Konstitusi.

Hard encounters dalam bidang politik dalam kadar berbeda hampir selalu terjadi menjelang dan sesudah pemilu atau pilkada pada masa silam. Sebagian residu diskoneksi, perjumpaan keras dan polarisasi yang muncul, seperti dalam pilkada atau Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 dan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019, sampai saat ini masih bertahan. Residu itu, bahkan, bisa berlanjut sepanjang tahun-tahun politik ke depan.

Baca juga Mencari Kita di Tengah Aku

Agar agenda Pemilu dan Pilkada 2024 dapat berjalan aman, tidak meninggalkan berbagai ekses dan residu, perlu penguatan (kembali) perjumpaan damai. Penguatan perjumpaan damai itu penting demi terbangunnya rekoneksi yang lebih kuat sehingga residu semacam politik populisme atau politik identitas dapat dihilangkan.

Namun, perlu diingat, perjumpaan keras hanya sebagian cerita. Bagian cerita yang lebih banyak lagi adalah perjumpaan damai (peaceful atau soft encounters) walaupun masih ada perjumpaan keras antarnegara, seperti agresi Rusia terhadap Ukraina. Perjumpaan keras semacam itu mesti diakhiri untuk memperkuat kembali rekoneksi dan relasi penghuni bumi seperti dilaporkan Kompas secara kolosal untuk memperingati ulang tahun ke-57 (27-28/6/2022).

Baca juga Pendidikan dan Ketenangan Jiwa

Di tanah air Indonesia, berbagai bentuk dan aspek koneksi, rekoneksi, dan jaringan tercipta dalam waktu sangat panjang di antara warga atau kelompok warga Indonesia yang berbeda ideologi dan politik, ras, suku, agama, tradisi sosial-budaya, dan kelas ekonomi-sosial. Pada masa kontemporer, peningkatan perjumpaan damai, koneksi, dan rekoneksi di Tanah Air terjadi lebih intens sejak paruh kedua 1980-an ketika pembangunan mulai menunjukkan hasil. Secara signifikan ada kemajuan infrastruktur jalan raya; peningkatan alat transportasi penerbangan komersial; pertumbuhan ”kemakmuran” ekonomi yang menambah barisan kelas menengah; serta pemantapan stabilitas politik dan keamanan.

Semua kemajuan ini memungkinkan warga dengan latar belakang beragam mengadakan perjalanan dari satu daerah ke daerah lain. Sepanjang proses tersebut, mereka berperan penting meningkatkan perjumpaan damai, interaksi, koneksi-rekoneksi, dan jaringan di antara warga dengan melintasi banyak perbedaan primordial sesama mereka. Hasilnya, keindonesiaan kian menguat. Indonesia bukan lagi sekadar ”komunitas-komunitas terimajinasikan” (imagined communities), seperti argumen Indonesianis Benedict Anderson (1983), melainkan benar-benar terwujud aktual.

Baca juga Ancaman Ekstremis-Radikalis di Era Disrupsi

Peaceful atau soft encounters yang menciptakan koneksi-rekoneksi dan jaringan terjadi bukan hanya di antara warga dan komunitas aktual di Tanah Air. Liberalisasi ekonomi dan politik meningkatkan globalisasi sejak awal milenium baru, membawa Indonesia dan sebagian warganya ke kancah kosmopolitanisme—terkoneksi dan terintegrasi ke dalam jaringan kosmopolitan.

Selama satu setengah dasawarsa di awal abad ke-21, melalui aktor pemerintah dan tokoh warga, Indonesia dengan ”diplomasi lunak” (soft diplomacy) berhasil menjadi salah satu aktor penting yang menciptakan koneksi dan rekoneksi internasional lewat demokrasi serta Islam yang kompatibel dengan demokrasi, modernitas, HAM, dan kesetaraan jender.

Baca juga Menghentikan Kebiasaan Buruk

Namun, sayangnya, perjumpaan damai dengan koneksi dan rekoneksi di tingkat global dan nasional juga mengalami kemunduran, terutama akibat kemunculan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme yang dilakukan aktor masyarakat sendiri. Banyak negara, termasuk Indonesia, cenderung mengambil pendekatan keras pre-emptive dan represif.

Perjumpaan damai yang menciptakan koneksi, rekoneksi, dan jaringan kosmopolitan secara signifikan mendadak menjadi jauh lebih sulit jika tidak bisa disebut ambyar. Dunia internasional dengan batas negara-bangsa tidak lagi menjadi borderless. Pandemi Covid-19 membuat kian memburuknya koneksi, rekoneksi damai, dan jaringan antarmanusia kosmopolitan.

Baca juga Manfaat Pemaafan

Dengan terjadinya pergeseran pandemi menjadi endemi Covid-19 dan mulai berlangsungnya pemulihan ekonomi, sudah waktunya pemerintah, lembaga masyarakat, dan media meningkatkan usaha pemulihan relasi, koneksi, rekoneksi damai, serta jaringan kosmopolitan di tingkat nasional dan global. Upaya pemulihan kini mempunyai peluang lebih besar karena peningkatan kembali perjalanan melintasi batas negara—hambatan dan kendala akibat pandemi Covid-19 juga terus berkurang.

Pada tingkat nasional dan lokal, pemerintah bersama kepemimpinan sosial dan masyarakat sipil dapat menghindari perjumpaan keras sepanjang tahun-tahun politik yang bisa membuat ambyarnya koneksi-rekoneksi, kohesi sosial, dan stabilitas negara-bangsa yang baru mulai pulih kembali.

Baca juga Membangun Religiositas Humanis, Menuju Altruisme

Untuk itu, para pejabat publik (eksekutif, legislatif, yudikatif) dan elite politik perlu lebih menekankan narasi damai dan rekonsiliatif; memberi gestur penguatan perjumpaan damai untuk pengukuhan kohesi sosial. Mereka seyogianya tidak mengambil kebijakan dan membuat pernyataan yang dapat memicu kegaduhan serta perjumpaan keras yang dapat merusak kehidupan kebangsaan secara keseluruhan.

*Artikel ini terbit di Harian Kompas, 30 Juni 2022

Baca juga Hati Nurani dan Jiwa Pemaaf

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....