HomeOpiniMembangun Religiositas Humanis, Menuju...

Membangun Religiositas Humanis, Menuju Altruisme

Oleh: Syamsul Maárif
Guru Besar dan Dekan FPK UIN Walisongo

Banalitas kekerasan dan konflik, atas nama apa pun, tidaklah dibenarkan dan perlu dilawan. Terlepas perdebatan yang terjadi di antara para ahli —apakah kekerasan disebabkan oleh ketimpangan sosial-politik antarkelas yang menganga lebar atau sebagai manifestasi fanatisme, rasialisme, dan salah tafsir agama— jelas sekali keduanya sama-sama sangat berpotensi menyulut dan melestarikan berbagai bentuk kekerasan.

Munculnya tren narasi kebencian, saling menghina, dan suka menghakimi antarkelompok menyeruak di ruang-ruang publik belakangan ini. Semua itu dibalut dengan baju agama dan menggunakan stempel kebenaran masing-masing. Benar-benar bisa jadi malapetaka, penyebab ambruknya modal sosial, kultural, dan merosotnya kehidupan demokrasi.

Fenomena ekspresi beragama yang kasar dan cenderung emosional ini semakin mengerikan dan seram jika diikuti ingsutan nilai lain, seperti menjamurnya budaya korupsi, menurunnya kepercayaan masyarakat ke pemerintah, meningkatnya kriminalitas dan kekerasan seksual pada perempuan.

Baca juga Hati Nurani dan Jiwa Pemaaf

Memang, harus ada keberanian mengakui kurang optimalnya agama yang diharapkan memiliki peran strategis dalam merespons masalah sosial kemanusiaan yang terjadi di masyarakat selama ini. Pendidikan agama pun masih gagal memproduksi manusia-manusia bermoral-etik. Bahkan masih sering terjadi manipulasi religius dan politisasi agama untuk kepentingan pragmatis dan kerakusan akan kekuasaan.

Agar segera bangkit dan keluar dari kondisi paradoks yang bisa menyebabkan kebangkrutan dan kehancuran, semua pihak tak cukup berdiam diri, acuh tak acuh, sekadar meratapi atau mengkritik tanpa memberi solusi. Kita perlu membangun kesadaran mendalam melakukan refleksi dan perubahan secara kolektif pada tatanan kehidupan keagamaan.

Beberapa langkah transformasi dan rekonstruksi yang bisa dilakukan segera, antara lain, pendidikan atau pengajian agama yang sering disampaikan guru, ustaz, atau pemuka agama perlu memberi penyadaran bagi bangsa yang telah didera multikrisis atau demoralisasi. Orientasinya tak sebatas menjejalkan materi agama semata.

Baca juga Kembali ke Fitrah Perdamaian

Bukan berlomba-lomba mencari keuntungan materi atau pengikut sebanyak-banyaknya, melainkan secara tulus menjalankan proses pengajaran atau pengajian yang bisa mengoptimalkan berbagai kecerdasan, memanusiakan manusia, dan membentuk manusia pembelajar. Senantiasa mencerahkan dan bermanfaat bagi diri, masyarakat, alam semesta.

Mengajarkan rasionalitas

Pengajaran agama harus menawarkan berbagai pemikiran keagamaan yang bisa dikaji secara sistematis, konseptual, dan rasional dari sudut pandang berbagai disiplin keilmuan sehingga mampu menghadirkan pencerahan dan pengayaan spiritual (spiritual enrichment and enlightenment). Memberikan kesadaran akan keberadaan dan kehadiran Tuhan yang selalu mengawasi manusia. Kemudian bisa merefleksikan citra dan etika ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih dari itu, setiap pemeluk agama harus menghayati agama secara kritis dan pengayaan intelektual yang terbuka. Tak terjebak sektarianisme dan kultusisme yang eksklusif. Spritualitas agama harus dihayati dan memberikan makna hidup, menuntun pada sebuah keyakinan bahwa manusia diberi anugerah oleh Tuhan berupa akal untuk digunakan berpikir mengatasi berbagai problematika kehidupan.

Baca juga Hikmah Puasa bagi Perdamaian

Tepat sekali pernyataan KH Hasyim Asyari: ”Khairu al-mawahib al-aqlu wasyarru al-mashaib al-jahlu” (sebaik-baiknya anugerah adalah akal dan seburuk-buruknya musibah adalah kebodohan). Melalui kekuatan akal, manusia punya dimensi khusus yang membedakan dengan makhluk lain.

Manusia diharapkan bisa merawat dan menjaga keseimbangan ekosistem. Setiap persoalan, serumit apa pun, termasuk perbedaan kepentingan dan politik, harus jadi tantangan serius bagi siapa pun—apalagi yang mengaku beragama—untuk selalu mengedepankan akal sehat. Bukan nafsu kepentingan kelompok. Lebih memprioritaskan pergulatan intelektual, kompetisi untuk kesejahteraan, dan kemaslahatan bersama. Memungkinkan memilih jalan kebaikan yang diselimuti cinta kasih, daripada harus saling membenci dan bermusuhan.

Menjadi masyarakat religius, seharusnya lebih peka dan cerdas, bisa menimbang setiap persoalan, melalui timbangan yang selaras dengan ajaran agama, tidak bertentangan dengan akal, dan moralitas universal.

Baca juga Puasa: Meraih Hidup Bermakna

Punya potensi psikologis yang seimbang antara kemampuan berpikir, kesucian jiwa, dan kemuliaan budi. Mempunyai kekuatan emosi dan keyakinan bahwa memilih jalan kekerasan dalam menyelesaikan masalah bukanlah jalan Tuhan, melainkan sebuah keputusan yang diselimuti amarah dan mencederai ajaran agama.

Setiap insan yang mengaku beragama dalam realitas kehidupan sehari-hari seharusnya lebih dewasa, toleran, dan humanis. Lebih-lebih yang berpendidikan tinggi. Meminjam pendapat Gus Dur, ”the higher a person’s knowledge, the greater his sense of tolerance” (semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar rasa toleransinya).

Semua pikiran, ucapan, dan gerak langkahnya senantiasa ditimbang kontribusi dan manfaatnya bagi persatuan. Menghindari pertikaian, provokasi, perdebatan tak bermakna, apalagi berorientasi melemahkan dan membelah masyarakat.

Baca juga Membaca Pikiran Teroris

Masyarakat agama yang berpendidikan tinggi jangan terjebak fanatisme buta. Diharapkan dalam menghadapi perbedaan tafsir dan kebenaran di masyarakat, tak melampaui wewenang Tuhan. Mudah memvonis sesat, kafir, dan klaim-klaim sepihak, penuh kebencian, dan saling merendahkan.

Sering meributkan kebenaran dalam bayang-bayang kepentingan sendiri. Kurang bisa menghargai kebenaran dalam perspektif masing-masing.

Padahal, sejatinya tak ada kebenaran monolitik di dunia ini. Bukankah tindakan manusia itu kadang unpredictable dan irreversible sekaligus? Di sinilah pentingnya berpikir lentur, toleran, dan dinamis. Semisal memandang seseorang yang berbuat kejahatan. Maka, perlu menggunakan logika hukum yang berprinsip keadilan. Agar tetap menjaga kemuliaan sebagai manusia dan tidak sampai terjadi pelanggaran HAM, perlu pendekatan lunak dan keras secara logis dan proporsional.

Baca juga Ramadhan Bulan Membaca

Terkadang penegakan hukum diperlukan sebatas memberi sanksi sesuai hukum yang berlaku. Namun, karena perspektif agama, setiap manusia pasti tak luput dari kesalahan (no body’s perfect), perlu ruang ampunan. Perlu diberi kesempatan memperbaiki kesalahan.

Eksoterisme-esoterisme

Dalam kerangka membangun inklusivitas beragama, manusia pemaaf, dan mengedepankan solidaritas, siapa pun yang berani menampilkan eksoterisme agama di ruang publik seharusnya juga diikuti dengan nilai esoterisme—sehingga lebih serius merealisasikan ajaran Tuhan, terbiasa mencari kebenaran, kebaikan, cinta kasih, pemuliaan terhadap sesama manusia, dan alam semesta.

Pada titik ini, harapannya spiritualitas dapat membawa pada sikap mencintai, kunci menuju altruisme. Membuat semua umat beragama mampu memandang semua manusia hakikatnya adalah satu keluarga. Memiliki cakrawala luas, mampu melintas batas kelompok etnis atau tradisi budaya dan agama masing-masing, sehingga masyarakat agama mampu melihat kemanusiaan sebagai sebuah keluarga yang memiliki perbedaan ataupun kesamaan cita-cita.

Baca juga Puasa sebagai Emansipasi

Dalam Islam, berteologi secara inklusif dan altruistik sangat dianjurkan, dengan menampilkan wajah agama secara santun, ramah, tak perlu saling menyalahkan dan menghina kelompok lain. Lebih indah lagi jika bisa mempertemukan beragam kepentingan. Saling menghormati, membantu, dan memuliakan (mutual love). Prinsipnya, keanekaragaman itu desain Tuhan (sunnatullah). Kebenaran dan pintu hidayah hak prerogatif Allah semata.

Islam memerintahkan umat Islam dapat berinteraksi dengan agama lain dan bisa menggali nilai-nilai keagamaan melalui diskusi dan dialog intelektual/teologis bersama-sama dan dengan cara sebaik-baiknya. Tentu saja tanpa harus menimbulkan prejudice atau merendahkan satu sama lain.

Dalam perspektif khazanah pemikiran dan praktik keagamaan Islam, model keberagamaan kaum sufi sangat inklusif, lebih substantif, dan tak membuat demarkasi antara in group dan out group. Memungkinkan dialog dan kerja sama antaragama yang membumi dan memperkuat integrasi bangsa.

Baca juga Puasa, Mosaik Spiritualitas Luhur

Gerakan kaum sufi telah memberikan sumbangan sangat berharga dan memberikan dimensi spiritual yang kaya. Kemunculan mistisisme, meminjam ungkapan Annemarie Schimmel (2003), membawa karakter khusus. Memperkenalkan sebuah gerakan orisinalitas karakter asketis. Abdul Qodir al-Jilani dalam kitab Al-Ghunyah li Thalibi Thariqi al-Haq Ázza wa jalla menyatakan, penekanan sufisme pada aspek pengabdian kepada Allah SWT.

Sementara, menurut Sayyed Hossein Nasr dalam buku Living Sufisme (1980), ”jalan tasawuf telah memberi contoh bagaimana mendekatkan diri kepada Allah, lewat berbagai zikir, penyucian jiwa dan hati melalui kontemplasi (al-Kasf), menghayati ajaran sampai ke tingkat kedalamannya (al-Ma’rifah), sikap zuhud dan wira’i, dan melakukan amalan kebajikan yang murni”.

Pendek kata, jika semua masyarakat agama memiliki keseimbangan antara esoteris dan eksoterisme beragama, ini memungkinkan beragama lebih humanis; berhati bersih, lembut, dan penuh kasih. Senantiasa sabar, santai, merangkul, dan membimbing ke jalan-jalan kemuliaan. Jauh dari sikap kekerasan, baik yang bersifat verbal atau nonverbal. Akhirnya, semua manusia bisa bertemu pada jalinan kemanusiaan dan persahabatan sejati, bukan?

Baca juga Pembangunan dan Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...