HomeInspirasiAspirasi DamaiPsikologi Memaafkan (Bag. 4-Terakhir)

Psikologi Memaafkan (Bag. 4-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Pada bagian terakhir ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang kunci dasar memaafkan sebagaimana disarankan oleh Robert Enright dalam buku 8 Keys To Forgiveness. Selain memahami pentingnya memaafkan, forgivingly fit mengatasi rasa sakit hati.

Ada lima kunci lagi untuk mampu menjadi pribadi yang memaafkan. Kunci keempat adalah mengembangkan pikiran memaafkan melalui empati. Para ilmuwan telah mempelajari apa yang terjadi di otak ketika orang berpikir tentang memaafkan. Ketika orang membayangkan tentang memaafkan, muncul peningkatan aktivitas di sirkuit saraf yang bertanggung jawab atas empati. Ini menunjukkan bahwa empati terhubung dengan memaafkan, sekaligus langkah penting dalam proses memaafkan.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 1)

Jika Anda memeriksa beberapa detail dalam kehidupan orang yang menyakiti kita, mungkin dapat ditemukan kelemahan fisiknya, masalah masa lalunya, trauma psikologis, hingga kita memahami nilai-nilai kemanusiaan yang sama dengan yang kita miliki. Anda mungkin mengenalinya sebagai orang yang rentan terluka dan bisa memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekeliruan.

Kunci kelima, temukan makna dalam penderitaan kita. Ketika kita sangat menderita, penting bagi kita untuk menemukan makna dari apa yang telah kita alami. Tanpa melihat makna, seseorang bisa kehilangan tujuan yang dapat menyebabkan keputusasaan. Penderitaan adalah ujian hidup yang mengubah kita menjadi lebih arif dan bijak.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 2)

Menemukan makna bukan untuk memunafikkan rasa sakit yang diterima, namun memilih untuk lebih fokus pada keindahan dunia. Bisa pula untuk berperilaku baik kepada orang lain agar tidak merasakan seperti yang kita rasakan. Kita harus menggunakan penderitaan kita untuk lebih mencintai dan memberikan cinta itu kepada orang lain. Menemukan makna, dalam dan dari diri sendiri, sangat membantu menemukan arah dalam memaafkan.

Kunci keenam, ketika memaafkan terasa sulit, maka mintalah kekuatan lain. Memaafkan selalu sulit ketika kita berhadapan dengan ketidakadilan yang mendalam. Hal tersebut normal. Memaafkan adalah proses yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan tekad. Cobalah untuk tidak bersikap keras pada diri sendiri. Bersikaplah lembut dan melatih rasa tenang, serta menerima kondisi luka batin terhadap diri sendiri.

Baca juga Psikologi Memaafkan (Bag. 3)

Bila saatnya kita ingin memaafkan dan merasa sulit, mungkin perlu meminta bantuan orang lain. Misalnya mencari orang-orang baik dan bijak yang mendukung dan memiliki kesabaran untuk memberi waktu kesembuhan bagi kita. Cobalah untuk mengembangkan keberanian dan kesabaran dalam diri untuk membantu kita memaafkan. Bisa pula berlatih dengan menerima penghinaan kecil terhadap kita tanpa menyerang balik. Kita memberikan hadiah kepada semua orang, termasuk orang yang mungkin melukai perasaan kita.

Kunci ketujuh, maafkan diri sendiri. Diakui atau tidak, sebagian besar dari kita cenderung lebih keras pada diri sendiri daripada kepada orang lain. Jika kita tidak bisa mencintai diri karena pilihan yang kita lakukan di masa lalu, kita mungkin perlu berusaha untuk memaafkan diri sendiri, menawarkan perasaan berharga, terlepas dari tindakan yang sudah dilakukan. Banyak di antara orang yang memendam amarah akhirnya bisa melepas amarahnya setelah mampu memaafkan diri sendiri.

Baca juga Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim (Bag. 1)

Kunci kedelapan, menebarkan semangat damai. Ketika mengatasi penderitaan, kita memperoleh pemahaman yang lebih matang tentang apa artinya menjadi rendah hati, berani, dan memberikan kasih sayang. Kita mungkin tergerak untuk menciptakan suasana yang penuh kompromi di rumah dan tempat kerja, bahkan bersedia untuk membantu orang lain yang dirugikan, atau untuk melindungi orang-orang terdekat dari lingkaran kebencian dan kekerasan. Semua pilihan tersebut dapat meringankan hati dan membawa kebahagiaan dalam hidup seseorang. Itulah 8 kunci untuk menjadi manusia pemaaf yang disarankan oleh Robert Enright.

Akhiran, beberapa orang mungkin percaya bahwa mencintai orang lain yang menyakiti kita adalah hal mustahil. Tetapi penulis menemukan, banyak orang yang memaafkan akhirnya menemukan cara untuk membuka hati dan dirinya sebagai duta perdamaian bersama orang yang menyakitinya. Salah satunya penyintas aksi terorisme yang menjadi duta perdamaian bersama mantan pelaku ekstremisme kekerasan. Mereka tumbuh untuk mencintai lebih luas dan mendalam, sekaligus menciptakan warisan cinta yang akan hidup lama di hati banyak orang dalam wujud perdamaian.

Baca juga Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim (Bag. 2-terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...