HomeOpiniMelindungi Anak dari Pornografi...

Melindungi Anak dari Pornografi dan Narkoba

Oleh Ayu Mela Yulianti
Guru SMA; Pemerhati Generasi dan Kebijakan Publik

Hingga hari ini, pornografi dan narkoba adalah dua hal yang paling menakutkan bagi para orang tua. Sebab, para pakar menyebutkan kedua hal tersebut memiliki daya rusak yang sangat besar bagi sirkuit otak dan perkembangan mental anak.

Tingkat kerusakan otak dan mental pada anak akibat paparan pornografi dan narkoba adalah sama besar. Hanya saja, kerusakan otak dan mental akibat pornografi lebih bersifat menetap dan sulit dihilangkan dibandingkan dengan kerusakan yang ditimbulkan narkoba yang masih memungkinkan untuk dihilangkan dengan cara didetoksifikasi.

Baca juga Literasi Digital sebagai Pelindung dari Ancaman Nyata Dunia Maya

Oleh karena itu, harus ada upaya tersistematis untuk melindungi anak dari pengaruh buruk pornografi dan narkoba. Upaya yang dapat dilakukan haruslah secara terstruktur dan terintegrasi antara keluarga, masyarakat, dan negara, yang harus dilakukan secara serempak dan bersama-sama.

Keluarga adalah unsur terkecil dalam sistem sosial masyarakat. Setiap anggota keluarga inti, baik ayah, ibu, maupun anak, memiliki tanggung jawab yang berbeda, tetapi berkaitan satu dengan yang lain. Begitu pula dengan keluarga besar, nenek, kakek, paman, bibi, sepupu, keponakan, juga akan saling berhubungan satu dengan yang lain dan akan saling memengaruhi, baik pengaruh positif maupun negatif.

Baca juga Memperkuat Rekoneksi Damai

Karena itu, perlu satu pemahaman yang sama tentang kebutuhan bersama untuk menjaga anak dari pengaruh pornografi dan narkoba. Dengan demikian, anak tidak hanya menemukan tempat yang bersih dari pornografi dan narkoba di dalam rumahnya saja, tetapi anak juga menemukan tempat serta lingkungan yang bersih dari pornografi dan narkoba di lingkungan keluarga besarnya; di rumah neneknya ataupun di rumah paman dan bibinya.

Jika anak berada di lingkungan yang bersih dari pornografi dan narkoba di dalam rumahnya dan di dalam rumah keluarga besarnya, maka satu langkah menjaga anak dari paparan pornografi dan narkoba telah bisa dilampaui.

Baca juga Mencari Kita di Tengah Aku

Namun, lingkungan yang bersih dari paparan pornografi dan narkoba tidak cukup hanya di dalam lingkungan rumahnya dan rumah keluarga besarnya. Perlu pula membersihkan lingkungan masyarakat dari pornografi dan narkoba. Sebab, anak tidaklah bisa mencukupkan diri bergaul di dalam rumah saja. Anak pun akan hidup bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat di mana ia tinggal. Lingkungan sekolah serta lingkungan tempat ia bergaul dan bersosialisasi dengan teman sebayanya di lingkungan rumah di masyarakat.

Karena itu, masyarakat pun harus memiliki satu kebutuhan yang sama untuk menjaga anak-anak dari pengaruh negatif pornografi dan narkoba. Kebutuhan akan kebersihan lingkungan dari pengaruh negatif pornografi dan narkoba ini akan mewujudkan aksi bersama untuk menolak segala hal yang berbau pornografi dan narkoba hadir di lingkungan masyarakatnya.

Peran negara

Namun, lagi-lagi tak cukup hanya sampai membersihkan lingkungan keluarga dan masyarakat saja dari berbagai hal berbau pornografi dan narkoba. Ada peran sentral yang tak kalah penting, yaitu peran negara dalam upaya menjadikan negerinya bebas dari berbagai pengaruh negatif dari pornografi dan narkoba. Sebab, negara memiliki peran yang sangat krusial dalam melindungi anak sebagai aset bangsa dari berbagai macam hal yang dapat merusaknya.

Karena itu, negara pun memiliki kebutuhan untuk membentuk generasi muda yang kuat dan berpengaruh, yang hanya bisa diraih dengan menjauhkan anak dari ancaman nyata pornografi dan narkoba.

Baca juga Pendidikan dan Ketenangan Jiwa

Banyak upaya yang bisa dilakukan oleh negara dalam melindungi anak dari pornografi dan narkoba. Yang paling efektif adalah membuat undang-undang yang bisa dijadikan sebagai patokan untuk memberikan hukuman bagi siapa pun yang memproduksi, menyebarluaskan, dan mengonsumsi segala hal yang berbau pornografi dan narkoba.

Sementara di tingkat masyarakat dengan melakukan upaya saling menasihati dan tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, tidak saling cuek, tetapi saling peduli antar-anggota masyarakat. Dengan demikian, setiap geliat kebaikan bisa terus dilaksanakan dan dibudayakan dalam kehidupan lingkungan masyarakat serta setiap geliat kerusakan bisa dicegah dan diberantas sedini mungkin. Ada kontrol sosial di dalam masyarakat bagi sesama anggota masyarakat dan bagi negara.

Baca juga Ancaman Ekstremis-Radikalis di Era Disrupsi

Pun di tingkat keluarga, bisa dengan cara menghidupkan suasana lingkungan rumah selalu dalam suasana religius, ketakwaan individu-individu anggota keluarga yang baik, saling menasihati antar-anggota keluarga, menghilangkan setiap fasilitas yang dapat menghadirkan hal-hal buruk di dalam keluarga, semisal menghilangkan tontonan yang tidak baik untuk anak, dan menghadirkan tontonan yang baik yang dapat membangun kecerdasan mental dan spiritual anak, juga selalu menjalin komunikasi serta keterbukaan di antara anggota keluarga.

Hubungan dekat antar-anggota keluarga akan memudahkan untuk mengomunikasikan segala hal yang merupakan kebutuhan pokok dalam keluarga. Mendudukkan fungsi dan peran ayah, ibu, dan anak-anak sebagaimana mestinya. Dan, yang lebih penting adalah selalu menghadirkan nilai ruh, yaitu kesadaran hubungan kita dengan Allah SWT, bahwa Allah SWT Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui Segala Hal.

Baca juga Menghentikan Kebiasaan Buruk

Nilai ruh inilah yang paling efektif menjadi rem dalam sikap dan perbuatan setiap anggota keluarga sehingga pergaulan di dalam keluarga menjadi pergaulan yang baik, yang dapat menjadi salah satu jalan dalam melindungi anak dari pengaruh jahat pornografi dan narkoba.

*Artikel terbit di kompas.id, edisi 23 Juli 2022

Baca juga Manfaat Pemaafan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...