HomeBeritaRisalah Islam dan Kehidupan...

Risalah Islam dan Kehidupan yang Baik

Aliansi Indonesia Damai- Agama Islam dirisalahkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. sebagai rahmat bagi sekalian alam. Merujuk pada Al-Quran Surat Al-Anbiya: 107, ajaran yang dibawa oleh Rasulullah mengandung rahmat yang berlaku universal, atau dikenal dengan rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam).

Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, KH. Dr. Hamim Ilyas, menerangkan bahwa pewahyuan Islam bukan tanpa kebutuhan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan. Dalam hal ini, kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan objek dalam ayat tersebut, yakni al-’alamin atau sekalian alam. “Kebutuhannya al-‘alamin itu apa? Untuk makhluk hidup, kebutuhannya adalah hidup baik. Dalam Al-Quran disebut hayah tayyibah.”

Baca juga Tragedi Terorisme Luka Bangsa Indonesia

Demikian Hamim mengatakan dalam Halaqah Alim Ulama: Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh di Samarinda, Kamis (9/3/2023). Kegiatan yang diselenggarakan AIDA bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) tersebut dihadiri 113 tokoh agama dari kalangan pesantren, majelis taklim, dewan kemakmuran masjid, dan akademisi kampus Islam.

Hamim menjabarkan, kata rahmat dalam rahmatan lil ‘alamin, merujuk pada kitab Mufradat Alfadz Al-Quran karya Al-Asfahani, didefinisikan sebagai perasaan lembut atau cinta kasih yang mendorong untuk memberikan kebaikan nyata yang masuk akal bagi pihak yang dicintai. Mengingat umat manusia adalah bagian dari al-’alamin, maka dengan kata lain, Islam dirisalahkan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan baik (hayah tayyibah) bagi manusia.

Baca juga Moderasi Beragama Tangkal Ekstremisme

Dosen UIN Sunan Kalijaga tersebut kemudian menjelaskan tiga kriteria hayah tayyibah berdasarkan pendapat para sahabat. Pertama, rezeki halal, berdasarkan gagasan Ibnu Abbas dalam satu riwayat. Kedua, qana’ah atau kepuasan, yang didasarkan pada pendapat Ali bin Abi Talib. Ketiga, kebahagiaan, merujuk pada pendapat Ibnu Abbas dalam riwayat yang lain. “Tafsir sahabat ini menunjuk sebagian perolehan iman dan amal saleh yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 62, yaitu lahum ajruhum ‘inda rabbihim wa la khawfun ‘alayhim wa la hum yahzanun (bagi mereka ganjaran di sisi Tuhan, tidak ada ketakutan atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati),” ungkapnya.

Oleh sebab itu, ukuran hayah tayyibah dalam Al-Quran, lanjutnya, juga ada tiga kriteria. Pertama, sejahtera sesejahtera-sejahteranya/ar-rafahiyah kulluha sebagai konsekuensi dari lahum ajruhum ‘inda rabbihim. Yang kedua, damai sedamai-damainya/as-salamu kulluha sebagai konsekuensi dari wa la khawfun ‘alayhim. Ketiga, bahagia sebahagia-bahagianya/as-sa’adatu kulluha yang merupakan konsekuensi dari wa la hum yahzanun.

Baca juga Menebar Perdamaian di kalangan Ulama Riau

Ukuran-ukuran hayah tayyibah tersebut semestinya diwujudkan oleh umat Islam sebagai pewaris risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. “Sejahtera sesejahtera-sejahteranya, damai sedamai-damainya, dan bahagia sebahagia-bahagianya di dunia dan di akhirat. Yang di dunia ini adalah sesuai dengan kemampuan manusia untuk mewujudkannya,” tuturnya. [F]

Baca juga Islam Menghormati Hak Dasar Manusia

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....