HomeOpiniBeda Idul Fitri Muhammadiyah...

Beda Idul Fitri Muhammadiyah dan NU Garis Lucu

Oleh : Nashih Nasrullah
Jurnalis Republika.co.id

Suatu saat almarhum KH Slamet Effendy Yusuf, tokoh Nahdlatul Ulama yang duduk sebagai salah satu pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI), pernah berkelakar soal bagaimana menyikapi perbedaan Idul Fitri antara ketetapan Muhammadiyah, NU, dan pemerintah. Kelakarnya sederhana, “Bukannya malah enak ada ketupat segar dan lezat dua kali?”

Ada banyak aspek yang bisa kita sentuh, daripada sekadar pendekatan fikih an sich ataupun dimensi politik yang diakui atau tidak, berada di balik munculnya perbedaan Idul Fitri di Indonesia. Jika kedua pendekatan tersebut ditempuh, ya ungkapan sepakat untuk tidak sepakat sudah tepat untuk jadi solusi, sembari kita memberikan pemahaman kepada umat, perbedaan tersebut sangat dibolehkan dan mempunyai acuannya dalam agama dan beragama.

Baca juga Jihad Kesantunan Berbahasa Era Demokrasi

Kita sudah banyak mengalami progress yang luar biasa dibandingkan dengan beberapa dekade lalu, menyikapi qunut atau tidak qunut. Bahwa ada satu dua tiga kasus yang muncul itu biasa, anggap saja itu dinamika biasa dalam hidup dan mustahil pula menyamakan isi kepala setiap manusa, ungkapan Arab tepat sekali menggambarkannya likulli ra’sun ra’yun.

Dalam selorohan almarhum KH Hasyim Muzadi, bahwa di era sekarang ini tidak perlu lagi memperdebatkan shalat subuh qunut atau tidak qunut. Bagi saya yang lahir dan dibesarkan dari rahim NU dan pernah aktif sebagai pengurus di Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPTNU), sekilas mendengar selorohan Abah (sapaan kami para wartawan terhadap beliau), ya agak sedikit reaktif. Apalagi background pesantren saya, adalah Pesantren Denanyar yang didirikan KH Bisri Syansuri, kental dengan corak fikihnya.

Baca juga Kekerasan Pemuda, Cermin Asuhan Keluarga

Tapi dalam perspektif yang lebih makro, kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara, selorohan itu pun membuat perut kaku, karena kata Abah, kader-kader NU dan Muhammadiyah kini sudah tidak pernah meributkan qunut shalat subuh, sebab tak sedikit dari mereka yang bolong-bolong shalat subuhnya. Kami pun tertawa lepas, begitu juga para hadirin yang datang.

Ada lagi sebuah kisah yang cukup populer dirawikan para aktivis, tentang candaan almarhum Gus Dur saat didapuk almarhum Soeharto untuk jadi imam shalat tarawih. Apa kata Gus Dur ke Pak Harto? “Mau versi Muhammadiyah, NU tulen, atau NU diskon?”

Pak Harto Heran, apa maksud Gus Dur. Gus Dur menjawab enteng. Versi Muhammadiyah 8 rakaat, NU tulen 20 rakaat, NU diskon cukup 8 rakaat juga. Pak Harto pun tertawa.   

Baca juga Ramadhan dan Kesalehan Negara

Sudah saatnya memang kita membaca dan menempatkan perbedaan ini dengan riang gembira. Apalagi sebenarnya, bangunan fikih kita sejatinya memberikan ruang luas juga untuk kita berbeda. Di antara karakter fikih yang tak bisa ditanggalkan begitu saja adalah al-murunah, fleksibelitas. Karakter ini yang mendasari ragam pendapat fikih. Paling masyhur adalah munculnya qaul qadim (pendapat lama) Imam Syafii sewaktu masih berada di Irak dan qaul jadid (pendapat baru) beliau saat berdomisili di Mesir. Perubahan ini tidak bisa dibaca parsial sebagai inkonsistesi Imam Syafii, tetapi, justru menunjukkan kebesaran berfikih tokoh kelahiran Gaza, Palestina itu. Al-fatwa yataghayyar bi taghayyuri az-zaman wa al-makan. Ringkasnya, fatwa hukum fikih itu sah-sah saja berubah sesuai perkembangan zaman dan tempat.

Inilah mengapa, Ibnu al-Qayyim, menyebut kaidah ushul fiqih ini sangatlah penting sebab memberikan manfaat mendasar dan luas, serta bukti betapa syariat Islam ini memberikan deretan kemudahan untuk umatnya. Ini juga sekalis menunjukkan betapa esensi syariat dipenuhi nilai-nilai adil, kasih sayang, dan hikmah-hikmah baik yang tampak atau tersembunyi itu. Saking pentingnya kaedah ini, Ibnu Qayyim membuat bab khusus dalam mahakaryanya I’lam al-Muwaqi’in dengan tajuk “Fashlun fi Taghayyur al-Fatawa bi Hasabi al-Amkinah wa al-Azminah wa al-Ahwal wa an-Niyyat wa al-Awaid (Bab Perubahan Fatwa Berdasarkan Tempat, Waktu, Kondisi, Motif, dan Tradisi).”

Baca juga Kekerasan Budaya

Begitulah fikih kita, sekali lagi memberikan ruang kita untuk berbeda, sehingga perbedaan ini pun sudah sepatutnya, dan tidak boleh tidak, harus dikelola dengan riang gembira. Bukankah syariat kita diturunkan ya untuk memberikan busyra, berita gembira? Maka, riang gembiralah kita dalam beragama. 

Idul Fitri 1444 H/ 2023 M yang diprediksi kuat berbeda ini pun, seyogianya juga dibaca dan disikapi dengan suka ria. Akan ada dua kali sajian opor di tetangga kita, anak-anak juga  dua kali menerima uang angpau lebaran,  akan ada shalat dua kali yang membuka nilai ekonomis buat para pedagang dadakan, dan seterusnya.

Baca juga Manusia Digital dan Ke(tidak)bebasan

Tinggal kemudan tugas kita memberikan pemahaman soal adab menyikapi perbedaan itu dan mengajak segenap umat untuk riang gembira. Bersuka cita menyambut Idul Fitri, sebagaimana sunnah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau menyongsong hari raya umat Islam tersebut. Penulis merasa, seringkali ternyata hidup itu lebih indah jika dimaknai dengan pendekatan kasih sayang, dari sekadar perspektif fikih atau politik. Bukankah ada yang jauh lebih mahal yang harus kita jaga, yakni  hangatnya persaudaraan sesama Muslim dan sesama anak bangsa?

Selamat Idul Fitri 1444 H/2023, ja’alanallahu minal aidin wal faizin, taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim.

*Artikel ini terbit di Republika Online pada Rabu 19 April 2023

Baca juga Pendidikan Tanggung Jawab Bersama

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...