HomeBeritaMerawat Otak Kritis

Merawat Otak Kritis

Aliansi Indonesia Damai- Dalam otak manusia terdapat critical area atau otak kritis yang berperan menyaring semua informasi yang diterimanya dari pancaindera. Dalam situasi tertentu, otak kritis bisa dimatikan secara sengaja oleh orang lain sehingga orang bertindak di luar kendali dirinya. Caranya adalah dengan memberi kejutan cepat. Hal itulah yang kerap dilakukan oleh praktisi hipnosis.

Otak kritis bisa juga dimatikan melalui proses yang panjang dan intensif melalui relasi kuasa yang tak seimbang. Para pelaku pengeboman bunuh diri adalah contohnya. Nalar kritis mereka terkikis lantaran terus menerus mendapatkan indoktrinasi dari sosok yang dianggapnya superior.

Baca juga Menyeimbangkan Otak Akademis dan Kebijaksanaan

Analisis tersebut disampaikan oleh Nur Wahid, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Samarinda yang juga pengajar Pengajar Anatomi Fisiologi di salah satu perguruan tinggi di Samarinda dalam Pengajian “Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” yang digelar AIDA di Pondok Pesantren (PP) Istiqamah Muhammadiyah, Batu Besaung, Samarinda, beberapa waktu silam.

Nur Wahid merupakan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar di Samarinda sebelumnya. Dalam kesempatan tersebut, ia berjumpa dan berdialog dengan beberapa mantan pelaku terorisme. Dari penuturan mereka, Nur Wahid menyimpulkan ada sejumlah faktor yang membuat orang secara sadar dan sukarela terlibat terorisme.

Baca juga Keluarga Harmonis Kunci Terciptanya Perdamaian

”Jadi, yang terjadi pada para pelaku terorisme itu, berada dalam informasi yang salah. Dalam tauhid, dari sisi pemahaman agama, dia mengklaim yang paling benar versi dia, itu semuanya masuk ke otak dia,” ujarnya.

Paham seperti itu diajarkan oleh sosok-sosok yang dianggap superior. Pada saat bersamaan, orang yang kemudian melakukan aksi terorisme merasa inferior di hadapan guru atau amirnya tadi. Faktor itu lantas terakumulasi dengan fenomena ketidakadilan yang menimpa umat Islam di belahan wilayah lain.

Baca juga Membentengi Generasi Muda dari Paham Kekerasan

”Bosnia, Filipina, Suriah, Afghanistan, apalagi Palestina. Bertahun-tahun kita dengarkan informasi saudara kita di sana itu dijajah dan dibunuh. Secara tidak sadar itu masuk ke memori kita. Sedih memikirkan saudaranya yang dizalimi, dibunuh, disiksa, diusir dari tempat tinggalnya, muncul keinginan untuk menolong,” ucap Nur Wahid.

Hanya saja lanjut Nur Wahid upaya untuk ”membela” saudaranya yang terzalimi itu justru dengan cara mengebom di Indonesia. Walhasil yang terjadi adalah kezaliman baru. Ia lantas mewanti-wanti para santri agar merawat nalar kritis dengan cara membuka diri terhadap referensi lain. “Kalau ada informasi bahwa Islam kamu itu Islam paling benar, Islam tetanggamu dan lain-lain itu tidak benar, Islam kamu itu sudah kafah yang lain belum kafah, kemudian yang lain masuk kategori fasiq, kafir, zalim, berhak untuk dicabut nyawanya atau Anda tidak terkena hukum ketika mencabut nyawanya, maka Anda harus mencari second opinion. Cari ustaz yang lain,” ujarnya tegas. [MLM-MSY]

Baca juga Dinamika Hubungan Korban dan Mantan Teroris

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...