HomeOpiniPolarisasi dan Pentingnya Akal...

Polarisasi dan Pentingnya Akal Sehat

oleh: Faruq Arjuna Hendroy,
Sarjana Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Indonesia akan menghadapi salah satu momen yang penting. Pada 14 Februari 2024 nanti, masyarakat Indonesia akan mengikuti Pemilu untuk memilih pemimpin baru baik di level eksekutif maupun legislatif. Pemimpin baru ini akan menentukan bagaimana perjalanan Indonesia ke depan dalam menyongsong proyeksi 100 tahun Indonesia merdeka atau biasa disebut Indonesia Emas 2045.

Dalam setiap edisi pemilu ada satu hal yang tidak berubah. Panasnya kontestasi politik ini menimbulkan gejolak sosial yang dahsyat, bahkan sampai ke akar rumput. Ini karena tiap-tiap pendukung, kader, dan simpatisan terlalu bersemangat mendukung calonnya masing-masing, bahkan sampai pada tahap mengkritik dan mendiskreditkan calon lain dan para pendukungnya.

Baca juga Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Sebagian dari para pendukung calon ada yang sampai terbawa suasana. Rivalitas antarcalon membuat mereka juga terbelah, sekalipun sebelumnya mereka adalah teman atau keluarga. Beberapa kasus pada Pemilu 2019 lalu misalnya, menunjukkan insiden di mana dua orang sahabat yang bertetangga, tidak saling tegur sapa saat masa pemilu berlangsung. Bahkan setelah pemilu selesai dan pemimpin baru terpilih, hubungan mereka tetap tidak membaik. Mereka tetap tidak bertegur sapa sampai bertahun-tahun kemudian. Dalam kasus yang paling ekstrem, ada juga kasus di mana sepasang suami istri bahkan sampai bercerai hanya karena berbeda pilihan dalam memilih pemimpin. Ini tentu menjadi masalah yang sangat memprihatinkan.

Keterbelahan atau dalam bahasa politik kerap dikenal dengan istilah polarisasi pada dasarnya adalah sebuah keniscayaan dalam sistem demokrasi. Setiap calon yang maju membawa gerbong pendukungnya masing-masing, dan tidak dapat dipungkiri, kontestasi akan menjadikan mereka berada dalam dua atau tiga posisi yang berseberangan. Masalah timbul ketika para kontestan atau politikus secara umum mengkapitalisasi polarisasi itu untuk meraih ceruk dukungan dan menyolidkannya, tanpa peduli akan efek jangka panjang yang timbul di kalangan masyarakat.

Baca juga Kenapa Orangtua Menganiaya Anaknya?

Argumen ini sejalan dengan teori polarisasi yang dikemukakan oleh McCoy dan Somer. McCoy dan Somer mendefinisikan polarisasi sebagai proses ketika perbedaan dalam masyarakat mendorong mereka untuk mempersepsikan posisi mereka sebagai ‘kami vs mereka’. Lebih jauh McCoy dan Somer menjelaskan, polarisasi tidak selalu disebabkan oleh faktor politik yang mendasar atau susunan institusional tertentu, tetapi justru dipicu oleh aktor politik yang mengejar tujuan politik mereka dengan cara memecah belah, menyebarkan ujaran kebencian, dan mengeksploitasi keresahan masyarakat.

Pandangan McCoy dan Somer ini perlu kita cermati bersama, bahwa masyarakat akar rumput adalah pihak yang paling terdampak dari ‘permainan politik’ yang dilakukan oleh aktor-aktor politik.

Baca juga Perluas Hak Korban dalam Proses Peradilan Pidana

Jika merujuk pada teori polarisasi tersebut, maka tidak heran kerasnya rivalitas politik menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) dan solidaritas yang kuat antara pendukung dan yang didukung. Ketika salah satu calon menyerang calon lainnya, maka para pendukung akan ikut melancarkan serangan. Sedangkan bagi calon yang diserang, akan melakukan serangan balik yang juga diikuti oleh para pendukungnya.

Di situlah polarisasi itu akan terus berputar seperti rantai, melanggengkan kebencian antarkelompok yang berbeda. Bagi sebagian orang, kebencian ini akan berlanjut karena didorong oleh ego, bahkan setelah kontestasi berakhir. Mereka merasa gengsi untuk memulihkan hubungan, dan memilih melanjutkan untuk mempertajam polarisasi itu. Nahasnya, para elit di atas hampir dapat dipastikan juga tidak tahu soal keretakan hubungan yang tercipta di masyarakat.

Baca juga Rekayasa Media Sosial yang Meresahkan

Oleh karena itulah, masyarakat awam perlu memperkuat nalar kritis mereka agar tidak larut dalam suasana kontestasi politik yang memabukkan. Memilih pemimpin memang perkara yang serius. Tapi di atas itu semua, perlu diingat bahwa kontestasi politik dalam bentuk pemilu atau pilkada tidak lebih dari kompetisi biasa. Artinya, ketika kontestasi politik usai, maka segala rivalitas dan persaingan pun ikut berakhir.

Jika masih ada hal-hal yang dirasa tidak adil dalam proses kontestasi politik itu, maka kita bisa menempuh jalur konstitusional yang telah disiapkan oleh negara. Kita tentu tidak ingin, insiden protes Pemilu 2019 akibat ketidakpuasan salah satu calon yang berujung pada hilangnya sejumlah nyawa terjadi kembali. Apapun hasil dari sebuah kontestasi politik tidak sebanding dengan satu nyawa yang hilang.

Baca juga Perspektif Korban untuk Dialog Damai Israel-Palestina

Satu hal yang perlu diingat, dalam dunia politik, tidak ada teman atau musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan. Prinsip itulah yang dianut dalam setiap kontestasi politik. Bongkar pasang koalisi adalah hal yang lumrah. Jangan heran, kalau melihat kontestan A dengan B berkompetisi ketat pada kontestasi saat ini, maka pada kesempatan berikutnya akan berada pada satu gerbong.

Para politikus itu tidak pernah serius dalam menjalin atau memutuskan hubungan di antara mereka. Semuanya didasarkan pada kalkulasi politik yang menguntungkan. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu sampai baperan dalam memberikan dukungan. Jika hubungan antara politikus bisa sangat cair, sebaliknya hubungan masyarakat yang notabene hanya pendukung bisa retak selama-lamanya. Jangan sampai kita menggadaikan persatuan di antara kita hanya demi nafsu politik lima tahunan.

Baca juga Menjadi Guru yang Humanis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....