HomeBeritaMemahami Pentingnya Perdamaian dari...

Memahami Pentingnya Perdamaian dari Kisah Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menggelar kampanye perdamaian bertajuk Dialog Interaktif: “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 11 Bekasi, akhir Januari lalu. Kegiatan diikuti oleh 50 pelajar sekolah tersebut dari lintas kelas dan organisasi. Tujuan penyelenggaraan kegiatan tersebut adalah meningkatkan ketahanan generasi muda terhadap pengaruh ideologi kekerasan.

Salah satu narasumber dari kegiatan ini adalah Sucipto Hari Wibowo, korban dari aksi serangan teror Bom Kuningan tahun 2004. Pada saat kejadian, Sucipto mendapat tugas untuk mengambil dan mengantarkan dokumen penting dari tempat kerjanya. Saat melintas di depan Kedutaan Besar Australia di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, sebuah mobil boks berwarna putih meledak hingga menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya. Sucipto mengingat, dirinya beserta motor yang ia kendarai terempas akibat ledakan itu. Dia terluka dan motornya pun ringsek, tapi ia tidak sempat menyadarinya di awal. Yang diprioritaskannya malah tugas dari kantornya. Sambil menahan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, dia meraih motornya yang tergeletak rusak. Dia paksakan agar kendaraannya bisa berjalan lagi.

Baca juga Kisah Korban Menginspirasi Pelajar Sixtam untuk Tangguh

Dengan usaha keras akhirnya Sucipto berhasil menyalakan motor. Ia pun bergegas menuju tempat tujuan untuk mengambil dokumen, kemudian segera kembali ke kantornya untuk menyerahkan dokumen pekerjaan itu kepada atasannya. Saat selesai menjalankan amanah itulah Sucipto mulai merasakan sakit kepala yang luar biasa. Sudah beristirahat berjam-jam di kantornya, sakitnya tak berkurang. Sampai dirumah hingga keesokan harinya pun dia masih merasa kesakitan. Keluarganya terkejut saat mengetahui ternyata dirinya menjadi salah satu korban bom. Akibat peristiwa itu, Sucipto merasakan luka di beberapa bagian tubuhnya. Yang paling parah adalah luka di bagian gendang telinga, yang membuat dirinya beberapa kali merasakan pusing dan sempoyongan.

Seiring waktu, Sucipto berhasil pulih dari penderitaan akibat terorisme, kendati rasa sakit di kepala terkadang datang sewaktu-waktu hingga saat ini. Namun, hambatan itu tak menghentikannya untuk bertransformasi dari korban menjadi penyintas. Fitrahnya seorang penyintas, ia telah berdamai dengan keadaan, melampaui penderitaan yang pernah membuatnya terpuruk akibat bom. Tak hanya bangkit menjadi penyintas, Sucipto juga menggalang persatuan di antara sesama korban terorisme di seluruh Indonesia dengan maksud saling menguatkan. Dia juga memutuskan untuk berekonsiliasi dengan mantan pelaku terorisme yang telah bertobat demi tujuan mulia, yakni mewujudkan Indonesia yang lebih damai. 

Baca juga Tangguh Menyikapi Masalah

Salah seorang siswa SMAN 11 Kota Bekasi mengaku salut akan ketangguhan yang ditunjukkan oleh Sucipto. Siswa tersebut memuji sifat amanah dan profesionalisme yang diteladankan oleh Sucipto, yang tetap menjalankan tugasnya, meskipun kondisinya saat itu sedang tidak baik-baik saja. “Pelajaran yang dapat saya ambil, kita harus saling menghargai sesama, dan jangan membalas kekerasan dengan kekerasan. Pak Sucipto mengajarkan kalau misal pernah mengalami pengalaman buruk, terus sudah survive, maka itu namanya jadi penyintas. Tapi ada syaratnya, yaitu harus sudah ikhlas sama diri sendiri, sama apa yang dialami di masa lalu, dan mampu memaafkan orang-orang yang sudah berbuat ketidakadilan,” ujar siswi berkerudung tersebut.

Siswa lainnya mengaku mendapat pembelajaran penting dari Dialog Interaktif: “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh.” Dia berpikiran, inisiatif AIDA sangat bagus sebab menguatkan pendidikan karakter bagi anak-anak muda seperti dirinya dan rekan-rekannya siswa SMAN 11 Bekasi. “Di sini kita belajar tentang perdamaian. Banyak banget sharing pengalaman dari pemateri-pemateri yang mengajarkan kita apa itu perdamaian, keikhlasan. Terutama pentingnya memahami pemahaman dan pergaulan di zaman sekarang. Dan, juga tentang bagaimana memperbaiki diri dan membangun lingkungan dengan penuh perdamaian,” ungkap siswa tersebut. [FAH]

Baca juga Pendidikan “Menyelamatkan” Mantan Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...