HomeOpiniBerkah Idul Fitri dan...

Berkah Idul Fitri dan Perubahan Sosial

Oleh: Djoko Santoso,
Guru Besar FK Unair, ahli ginjal Unair, Ketua Badan Kesehatan MUI Provinsi Jawa Timur

Sebentar lagi kita akan mengakhiri bulan suci Ramadan dan menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Setelah sebulan penuh kita berpuasa selama Ramadan dengan segala aktivitasnya, bagaimanakah bisa mengukur keberhasilan kita? Jawaban paling sederhana ialah dianggap berhasil jika tuntas melaksanakan puasa selama sebulan penuh, kecuali bagi yang sakit atau berhalangan. Kemudian, tetap menjalankan ibadah wajib lainnya seperti salat lima waktu, ibadah sunah seperti Tarawih, dan mengeluarkan zakat. Tentu saja, itu ialah jawaban dalam kerangka fiqih (fikih). Melaksanakan semua yang diwajibkan dan sedapat mungkin menjalankan yang disunahkan ialah prinsip dasar beragama, termasuk saat berpuasa pada Ramadan.

Akan tetapi, jawaban di atas belumlah paripurna jika kita menggunakan kerangka sosial atau muamalah. Berpuasa Ramadan bukanlah sebatas menahan makan minum sejak subuh hingga magrib. Jika sebatas itu, berpuasanya memang sah, tidak batal, tetapi kualitasnya sangat minimal, ibaratnya hanya melewati passing grade.

Baca juga Merindukan Kebiasaan Membaca Buku di Mana Saja

Ayat 183 Surah Al-Baqarah menyebut, ‘…diwajibkan atas kamu sekalian untuk berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian menjadi orang yang bertakwa’. Penggalan terakhir, ‘agar menjadi orang yang bertakwa’ itulah yang tafsirnya bisa sangat konstekstual, melewati batas ruang dan waktu.

Arti singkat bertakwa adalah menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan Allah. Dalam tafsir sosial, menjalankan semua perintah agama itu tidak terbatas pada hal-hal yang sifatnya ritual ibadah seperti salat, berpuasa, dan zakat, yang termasuk dalam kategori hubungan manusia dengan Allah. Akan tetapi, itu juga termasuk pada perintah yang berhubungan dengan sesama manusia atau muamalah. Oleh karena itu, untuk berproses agar menjadi bertakwa, kaum muslimin haruslah lengkap menjalankan ibadah pokok dan sekaligus juga ibadah sosial atau muamalah. Di sinilah tafsir ibadah sosial bisa sangat luas, melewati batas ruang dan waktu.

Ramadan dan problem sosial

Ibadah sosial atau muamalah ialah bagaimana kita menerapkan prinsip agama pada berbagai aktivitas sosial sesama manusia. Misalnya, pada ranah hukum, agama memerintahkan untuk berbuat adil dan menegakkan keadilan. Hakim yang mengadili suatu perkara, misalnya, haruslah bisa menjatuhkan vonis yang benar menurut perundangan, sekaligus juga berkeadilan, dan bukan atas dasar pesanan pihak yang kuat dan menekan.

Para pejabat yang sedang merancang suatu undang-undang baru, misalnya, haruslah benar-benar mendengarkan aspirasi dari seluruh pemangku kepentingan dan pandai menerima masukan dan kritik dari berbagai elemen masyarakat. Anggota legislatif, yang nantinya akan membahas dan menyetujui RUU tersebut, haruslah benar-benar mendasarkan persetujuannya pada aspirasi dan kepentingan rakyat, dan tidak tergiur oleh iming-iming dari pihak yang hendak memanfaatkan celah untuk kepentingan bisnis kelompoknya semata.

Baca juga Selepas Ramadhan Berlalu

Ada lagi munculnya gejala memudarnya rasa malu sehingga setiap hari kita disuguhi banyak berita yang paradoksal atau berlawanan. Misalnya, setiap hari kita disuguhi berita tentang tren flexing atau pamer kekayaan dan kemewahan oleh para seleb dan pejabat lewat media sosial, skandal keuangan misterius Rp349 triliun di sebuah kementerian yang dibongkar Menko Polhukam Mahfud MD, dan tertangkapnya para pejabat oleh operasi tangkap tangan KPK. Semuanya itu berkaitan dengan ketamakan, menumpuk kekayaan dengan cara melanggar hukum, dan dengan bangga memamerkannya ke publik tanpa merasa risih. Semua contoh kejadian itu sangat jauh dari nilai-nilai keagamaan.

Sementara itu, pada saat bersamaan kita juga disuguhi berbagai berita yang isinya tentang penderitaan, seperti besarnya jumlah anak penderita stunting atau tengkes, belum menurunnya prevalensi penyakit menular seperti Tb, malaria, dan HIV/AIDS, dan semakin besarnya kecenderungan penyakit katastropik menghabiskan dana jaminan kesehatan. Demikian juga halnya, terdapat berita mengenai masalah/gelombang PHK buruh pabrik, naiknya angka pengangguran, dan minimnya jumlah puskesmas dan dokter di wilayah tertentu sementara di wilayah lain jumlah dokternya berlebih. Itulah deretan penderitaan kaum fakir miskin yang terus saja terjadi hingga hari ini.

Baca juga Publikasi Ilmiah dan Pematangan Intelektual

Pamer kekayaan ke publik atau skandal keuangan pejabat ialah soal ketamakan dan kemewahan, sementara skandal anak stunting ialah soal penderitaan dan kelaparan yang menerpa kaum duafa dan fakir miskin. Keluarga yang memiliki anak stunting hampir bisa dipastikan merupakan keluarga miskin yang tidak mampu untuk mengonsumsi makanan dengan nutrisi yang layak. Jika untuk kebutuhan mendasar saja sudah tidak mampu memenuhi dengan layak, untuk kebutuhan sekunder seperti pendidikan untuk anak-anak mereka dan keperluan berobat jika sedang sakit pastilah juga mengalami kesulitan. Itulah problem nyata yang masih banyak dihadapi saudara kita.

Dua hal yang paradoksal itu terjadi setiap hari, bahkan selama Ramadan yang katanya penuh berkah ini. Akan tetapi, begitulah sifat naluriah manusia. Sekali celah batas etika dan kepatutan dilanggar dan tidak ada sanksi dari komunitas maka celah pelanggaran itu semakin lama semakin besar dan semakin terbiasa sehingga menjadi peristiwa biasa sehari-hari. Padahal jika dipahami, itu ialah mata rantai kekejaman moral.

Baca juga Memimpikan Kurikulum Inklusif

Problem semacam itu tentu saja tidak hanya ada di negeri kita. Akan tetapi, itu juga merupakan problem global yang menerpa umat manusia di belahan bumi yang lain. Kemiskinan parah melanda banyak negara di Afrika dan Asia, yang selama puluhan tahun dilanda perang saudara dan pemberontakan, memunculkan gelombang pengungsian yang tiada henti, dengan risiko banyak sekali kapal imigran yang tenggelam.

Penderitaan seabadi bangsa Palestina di bawah penjajahan sistem apartheid pemerintah Israel, tingginya penderita penyakit Tb dan HIV/AIDS, tersendatnya peta jalan pengurangan emisi dunia karena perang Eropa-AS melawan Rusia di palagan Ukraina, dan kelaparan yang melanda berbagai kamp pengungsi yang banyak dikelola PBB. Juga, membengkaknya utang negara-negara miskin karena kebijakan fiskal negara-negara kaya dan maju, meroketnya harga pangan dan energi, dan di sisi lain para industrialis produsen senjata semakin makmur memanen keuntungan akibat peperangan. Tentu saja, masih banyak problem umat manusia lainnya. Bagaimana kita merenungkan kemelut umat manusia ini pada saat menjelang akhir Ramadan?

Ramadan dan perubahan sosial

Semua itu menjadikan kita bertanya: ibadah berpuasa dan ibadah lainnya selama Ramadan, ketika kita lebih banyak menahan diri, mengendalikan nafsu, dan tafakur dalam sepi bermunajat pada Tuhan, apakah punya dampak untuk memperbaiki berbagai problem manusia seperti disebutkan di atas?

Setelah sebulan berjihad mengendalikan hawa nafsu pada Ramadan, apakah kita bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik? Di sinilah kemudian inti sari Ramadan dipertanyakan: sejauh manakah ibadah Ramadan ini bisa memengaruhi perubahan sosial? Apakah ibadah Ramadan kita berhasil menahan godaan untuk melanggar etika dan hukum?

Baca juga Meraih Kemenangan Hakiki Berbasis Ekologi

Inilah problem klasik kita, yakni ibadah lebih banyak dijalankan sebagai aktivitas ritual semata, belum sampai menyentuh ke substansi misi atau hakikat. Menjalankan ibadah berpuasa Ramadan sebagai pemenuhan kewajiban dan menjalankan amalan pendukungnya tentu saja merupakan hal yang positif.

Akan tetapi, akan jauh lebih sempurna atau kaffah jika ibadah puasa Ramadan ini juga membawa perubahan pada perilaku, dari yang kurang baik menjadi lebih baik, dan dari yang baik menjadi lebih unggul, dan seterusnya, sesuai dengan kalimat bijak ‘Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini, hingga bisa mendekati kesempurnaan’. Dari yang sebelumnya berlaku tidak adil menjadi lebih adil, dari yang sebelumnya egoistis mementingkan diri sediri menjadi lebih perhatian pada masyarakat sekitar yang kekurangan, dari yang sebelumnya berencana untuk korup menjadi membatalkan rencananya, dan seterusnya.

Baca juga ”Toxic Masculinity”: Epidemik Perundungan di Kalangan Remaja

Jika berpuasanya seluruh umat Islam Indonesia berhasil dengan baik dan sempurna, tentulah akan berdampak pada perbaikan kondisi sosial negeri ini. Korupsi akan semakin menurun, perekonomian semakin membaik, aparat penegak hukum akan semakin adil, dan pada akhirnya rakyat akan semakin aman dan sejahtera. Dengan demikian, puasa Ramadan akan membawa efek perubahan sosial yang lebih baik, memberi manfaat dan kebaikan pada seluruh umat.

Jika bisa demikian, kita akan menutup Ramadan dengan penuh rasa syukur ke hadirat Allah dan kita akan merindukan kedatangan Ramadan berikutnya. Kita menyambut Idul Fitri dengan penuh kegembiraan karena yakin dan optimistis bisa membawa perubahan ke arah yang lebih positif, baik perubahan pada level individu maupun perubahan sosial.

Kita bisa istigfar, meminta maaf atas kesalahan yang pernah kita perbuat, sekaligus bisa memaafkan kesalahan orang lain, dengan hati yang ikhlas. Demikianlah yang kita harapkan, semoga Allah menerima ibadah Ramadan kita, melimpahkan rahmatnya, dan kita sambut Idul Fitri dengan penuh syukur Alhamdulillah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.

*Artikel ini terbit di mediaindonesia.com, Senin 17 April 2024

Baca juga Hijrah dalam Berkomunikasi Menuju Harmoni

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di ...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI),...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...