HomeOpiniMerenungi Pesantren dan Kekerasan...

Merenungi Pesantren dan Kekerasan di Dalamnya

Oleh: Septian Pribadi,
peneliti di Badan Litbang dan Inovasi Tebuireng Media Group; tertarik pada fenomena sosial, kebudayaan, keislaman, dan pendidikan

Kasus viral kematian santri di Pesantren Al-Hanifiyyah, Kediri karena dianiaya oleh temannya adalah perkara yang menampar wajah pendidikan pesantren.

Sebagai alumni pesantren, saya cukup banyak tahu bagaimana pesantren mendidik santri-santrinya. Sebagai informasi, saya mengenyam pendidikan pesantren sejak 2003, pada usia 11 tahun. Ketika itu saya menginjak pendidikan kelas 5 SD.

Saat itu saya dipondokkan oleh orangtua di Mojokerto, di pesantren khusus anak kecil (usia sekolah dasar). Lalu berlanjut hingga jenjang pendidikan setingkat SMP-SMA. Bahkan ketika kuliah saya masih mondok di Pesantren Tebuireng, Jombang. Dan, sekarang saya juga masih aktif belajar dan bekerja di lingkungan pesantren.

Baca juga Menekan Perilaku Bullying

Setidaknya selama 20 tahun mengenyam bangku pendidikan di institusi pesantren, sekalipun saya tak pernah merasakan kekerasan fisik yang dikemas dalam pengajaran di pesantren. Apalagi instruksi langsung untuk melakukan kekerasan pada santri yang melanggar aturan, sama sekali tidak.

Bagi pesantren, melakukan kekerasan dengan memukul atau semacamnya adalah laku yang melanggar aturan sekaligus melanggar norma agama yang setiap hari diajarkan oleh kiai dan tenaga pengajar di dalamnya.

Pesantren hadir di bumi Nusantara sebelum Indonesia merdeka. Bahkan dianggap sebagai lembaga pendidikan tertua. Selain menjadi lembaga pendidikan dan syiar agama Islam, pesantren juga turut andil dalam proses panjang meraih kemerdekaan Indonesia.

Baca juga Kiat Menuju Hidup Bahagia

Pesantren terus berkembang sepanjang abad ke-18 sampai abad ke-20. Dalam perkembangannya pesantren tidak sendiri, bahkan dalam pengembangan pesantren banyak dibantu oleh masyarakat sekitar seperti pembangunan surau, masjid, asrama, dan lain sebagainya.

Bantuan yang diberikan masyarakat tentu tidak cuma-cuma, itu menunjukkan tanda bahwa masyarakat punya harapan besar bahwa pesantren akan mampu mendidik anak-anak penerus bangsa dengan baik dan benar. Tidak hanya berorientasi pada keterampilan meraih dunia, tapi juga sekaligus meraih kebahagiaan akhirat.

Selain masyarakat, pemerintah juga turut memperhatikan perkembangan pesantren. Pada awal 1949, pemerintah mendorong pembangunan sekolah umum seluas-luasnya dan membuka peluang besar jabatan-jabatan mereka yang terdidik dalam sekolah-sekolah umum. Hal tersebut membuat kekuatan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam di Indonesia menurun.

Baca juga Idul Fitri dan Moralitas Bernegara

Lalu pesantren menemukan momentum kebangkitan ketika KH. A. Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama. Yakni, melalui Peraturan Menteri Agama No.3 tahun 1950 yang menginstruksikan pemberian pelajaran umum di madrasah dan memberi pelajaran agama di sekolah umum negeri/swasta. Hal ini membuka peluang pesantren untuk membuat fasilitas-fasilitas pendidikan untuk kepentingan pendidikan umum.

Pesantren-pesantren turut mendirikan sekolah-sekolah umum. Zamakhsyari Dhofier dalam buku Tradisi Pesantren: Memadu Modernitas untuk Kemajuan menyebut Pesantren Tebuireng adalah pesantren pertama yang mendirikan SMP/SMA. Pesantren pun semakin mendapat perhatian masyarakat setelah Reformasi. Tepatnya pada 1988 hingga 2004 pesantren bertambah rata-rata 500 setiap tahunnya. Pada 2004 – 2008 bertambah 1.000 pesantren.

Salah Persepsi

Dulu ada stigma bahwa pesantren itu identik dengan kumuh dan ketinggalan zaman. Sehingga tidak banyak masyarakat yang memilih memondokkan anaknya ke pesantren. Lalu pesantren berbenah dan stigma itu hilang seiring berkembanganya waktu. Ya, tentu tidak hilang sepenuhnya, masih saja ada orang yang beranggapan begitu.

Stigma lain yang menempel di pesantren adalah bengkel untuk anak nakal. Dulu, ketika saya masih kecil, beberapa kawan yang punya perilaku nakal seringkali diancam oleh orangtuanya akan dipondokkan jika tetap nakal. Sehingga anak kemudian takut dan tidak nakal lagi.

Baca juga Berkah Idul Fitri dan Perubahan Sosial

Namun tidak sedikit pula oran tua yang tidak sanggup dengan tingkah laku anaknya yang nakal lalu memondokkan anaknya di pesantren, dengan harapan anaknya menjadi baik. Stigma semacam ini menyebar luas di pemahaman masyarakat awam tentang pesantren.

Tentu saja tidak semua pesantren mampu mengubah tabiat nakal seorang anak. Ada yang bisa diubah, ada yang tidak. Yang repot adalah yang tidak bisa diubah ini. Kita tahu, kenakalan atau sikap negatif itu lebih mudah menyebar daripada kebaikan. Bisa jadi anak yang nakal ini kemudian mempengaruhi kawan sekitarnya yang awalnya baik menjadi ikutan nakal.

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang multidimensi, tujuannya kompleks. Mereka yang belajar di pesantren tidak hanya diajari ilmu agama tetapi juga mendapat tempaan yang alami berupa kemandirian, kesederhanaan, ketekunan, kebersamaan, kesetaraan, dan nilai positif lainnya.

Baca juga Merindukan Kebiasaan Membaca Buku di Mana Saja

Perlu diingat, pesantren tak ubahnya lembaga pendidikan lainnya. Tidak ada jaminan 100% mereka yang nakal berubah menjadi baik. Tetapi dengan piranti-piranti pendidikan yang kompleks berupa ilmu agama dan umum, juga tempaan alami yang membentuk karakter, pesantren adalah wadah yang punya potensi besar untuk membentuk karakter seorang anak menjadi lebih baik.

Perlu Berbenah

Saya ingat betul ketika menjadi santri di Pesantren Tebuireng. Ketika itu pengasuh pesantren, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah), memberikan instruksi dengan amat jelas dan tegas bahwa dalam proses pendidikan para santri, para pengurus atau civitas pesantren dilarang keras melakukan kekerasan fisik. Instruksi Gus Sholah itu memberikan pemahaman kepada saya bahwa pengurus saja dilarang melakukan kekerasan apalagi yang diurus alias santri.

Adanya larangan itu kemudian memunculkan semacam teladan yang mewujud dalam budaya di Pesantren Tebuireng. Yakni, keteladanan anti kekerasan yang mula-mula dilakukan oleh pengurus pesantren lalu menjalar ke para santri. Sehingga kekerasan bisa diminimalisasi bahkan dihilangkan sama sekali.

Baca juga Selepas Ramadhan Berlalu

Kita perlu membuat garis yang jelas antara kekerasan dan ketegasan dalam konteks pendidikan pesantren. Bahwa kekerasan bukan bagian dari sikap tegas. Dan, ketegasan tidak akan pernah mewujud dalam kekerasan. Sehingga semua pesantren mampu bertindak tegas bagi siap saja yang melakukan kekerasan. Jika tidak, kepercayaan masyarakat akan semakin memudar kepada pesantren.

Perlu diingat, pesantren tumbuh bersama dengan masyarakat yang percaya bahwa pesantren adalah lembaga yang tepat untuk pendidikan karakter anak-anak mereka. Jangan khianati mereka! Selain itu, akan banyak nilai-nilai agama dan pendiri pesantren (para ulama dan kiai) yang kita khianati apabila civitas pesantren tidak mampu membenahi sistem dan metode pendidikan mereka.

Kekerasan di pesantren harus berhenti, titik. Tidak boleh ada toleransi jika ingin pesantren tetap dianggap lembaga pendidikan yang tepat untuk membentuk karakter baik penerus bangsa. Terakhir, sebagai civitas pesantren kita perlu kembali merenung tentang kenapa pesantren lahir. Yaitu, sebagai respons pada kondisi sosial masyarakat yang tengah dihadapkan pada runtuhnya sendi-sendi moral, melalui transformasi nilai yang ditawarkan yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar.

Baca juga Publikasi Ilmiah dan Pematangan Intelektual

Tujuan pendidikan pesantren tidak serta merta hanya memperkaya pikiran murid dengan penjelasan-penjelasan, tetapi untuk meningkatkan moral, melatih, dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan. Pendidikan akhlak adalah jiwa dari pendidikan pesantren. Mencapai akhlak yang mulia adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan pesantren.

Pesantren memang tempat membentuk karakter dan moral. Tapi, apakah betul seperti yang kita harapkan?

*Artikel ini terbit di detik.com, Sabtu 2 Maret 2024

Baca juga Memimpikan Kurikulum Inklusif

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...