HomeOpiniKiat Menuju Hidup Bahagia

Kiat Menuju Hidup Bahagia

Oleh: KH. Agoes Ali Masyhuri,
Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, Jawa Timur

Jika kita menghendaki perubahan dalam hidup dan mendambakan hidup bahagia, maka yang kali pertama harus kita lakukan adalah mengubah pikiran. Pikiran melahirkan kenyataan. Kenyataan itu akan meluas dan menyebar. Apa yang Anda pikirkan akan menjadi kenyataan dalam diri Anda pada waktu yang sama. Maka, belajarlah berpikir positif.

Beberapa langkah cerdas untuk mencapai hidup bahagia. Pertama, perbanyak bersyukur. Meski manusia merupakan ciptaan Allah yang paling sempurna, faktanya tidak ada kehidupan yang sempurna bagi manusia. Pasti ada kekurangan. Justru karena memiliki kekurangan itulah, sebagai manusia kita perlu memperbanyak rasa bersyukur.

Dengan bersyukur, kita akan selalu merasa cukup. Tidak akan dibebani rasa ingin yang berlebihan. Akan dijauhkan pula dari keinginan untuk serakah.

Baca juga Idul Fitri dan Moralitas Bernegara

Sejalan dengan pesan suci Alquran, ”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ’Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7)

Kedua, selalu berpikir positif. Allah SWT telah berfirman, ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al-Baqarah: 216)

Seberapa besar dan rumit masalah yang kita hadapi, tetap hadapi dengan pikiran positif. Bahwa tidak ada yang salah dalam kejadian buruk di hidup kita. Semuanya selalu menyimpan hikmah. Tinggal bagaimana cara kita menyikapi makna dan hikmah dari setiap kejadian secara positif.

Baca juga Berkah Idul Fitri dan Perubahan Sosial

Ingatlah, orang yang menjaga pikirannya selalu positif akan jauh lebih bahagia dibanding mereka yang sibuk memikirkan keburukan dalam hidup.

Ketiga, banyak berbagi. Allah SWT berfirman, ”Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Baqarah: 263)

Berbagi terhadap sesama merupakan tindakan yang sederhana tapi punya dampak besar dalam menciptakan rasa bahagia. Mulailah dari hal-hal kecil di rumah seperti membantu membereskan rumah atau ikut memasak di dapur.

Baca juga Merindukan Kebiasaan Membaca Buku di Mana Saja

Keempat, cukup beristirahat. Allah SWT berfirman, ”Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS An-Naba: 10-11).

Kiat hidup bahagia yang tak kalah penting adalah cukup tidur dan istirahat. Kenapa bisa begitu? Tubuh yang lelah setelah menjalani aktivitas seharian harus diistirahatkan. Waktu ideal yang dibutuhkan untuk tidur bagi orang dewasa adalah antara 7–8 jam. Kurang dari itu, artinya kita bakal cenderung tidak bahagia.

Dengan tidur yang cukup, maka tubuh punya waktu untuk pemulihan (recovery). Coba rasakan perbedaan ketika terbangun dari tidur yang cukup dengan kurang tidur karena habis begadang. Pasti lebih nyaman terbangun usai tidur cukup, bukan?

Baca juga Selepas Ramadhan Berlalu

Kelima, perbanyak tersenyum. Rasulullah SAW bersabda, ”Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR Tirmidzi). Tersenyum menjadi obat mujarab yang bisa langsung membuat hidup kita bahagia. Ini merupakan terapi yang dianjurkan ketika kita selalu diselimuti kegalauan dan kegelisahan. Perbanyak bertemu teman-teman yang bisa membuat kita tertawa. Dengan tertawa, secara otomatis keruwetan dalam hidup akan menghilang.

Menurut hasil penelitian, ketika kita tertawa, maka tubuh akan memproduksi hormon endorfin yang memicu rasa bahagia. Tertawa akan membuat sistem kekebalan tubuh bekerja 87 persen lebih efektif. Jadi, dengan tertawa, kita tidak hanya akan bahagia, tapi juga hidup yang lebih sehat.

Baca juga Publikasi Ilmiah dan Pematangan Intelektual

Keenam, bangun lebih pagi. Allah SWT berfirman, ”Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS At-Takwir: 18). Rutin bangun pagi selain akan membuat badan lebih sehat juga pikiran yang lebih segar. Dengan kondisi pikiran segar dan penuh optimisme, kita bakal mampu menghadapi semua tantangan kehidupan.

Pasalnya, dengan optimisme yang ada di dalam dada, orang akan lebih tenang dalam menjalani hidup. Mereka selalu yakin bahwa setiap aktivitas yang diliputi aura positif akan memberikan hasil yang baik. Salah satunya adalah bisa merasakan hidup bahagia. Dan, itu dimulai dengan rutin bangun pagi.

Baca juga Memimpikan Kurikulum Inklusif

Ketujuh, rutin berolahraga. Rasulullah SAW bersabda, ”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR Muslim) Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Maka itu, berolahragalah secara teratur. Tidak perlu harus menjadi anggota klub fitnes yang mahal. Olahraga ringan seperti joging di pagi hari akan membantu hidup kita menjadi lebih bahagia.

Kenapa orang yang rutin olahraga bisa bahagia? Olahraga merupakan aktivitas yang bisa meningkatkan jumlah hormon serotonin di dalam tubuh. Hormon ini memicu rasa bahagia dalam pikiran dan jiwa kita. Semakin rutin kita berolahraga, maka kita akan terus merasakan bahagia.

Baca juga Meraih Kemenangan Hakiki Berbasis Ekologi

Kedelapan, berlibur ke tempat yang tenang. Salah satu hal yang membuat hidup tidak bahagia adalah kondisi pikiran yang tidak tenang. Nah, kiat hidup bahagia selanjutnya adalah coba berlibur ke tempat yang tenang.

Kesembilan, perbanyak investasi akhirat. Allah SWT berfirman, ”Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS Al-A’la: 17). Percaya atau tidak, hidup di dunia ini sementara, yang kekal itu di akhirat. Oleh karena itu, perbanyaklah investasi akhirat kita. Dengan begitu, kita memiliki modal untuk kebahagiaan hakiki kelak.

Baca juga ”Toxic Masculinity”: Epidemik Perundungan di Kalangan Remaja

Investasi akhirat kita dapat berupa menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Melaksanakan salat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan Ramadan, menunaikan haji/umrah, menyantuni anak yatim, dan lain sebagiannya.

*Artikel ini terbit di jawapos.com, Jumat 17 November 2023

Baca juga Hijrah dalam Berkomunikasi Menuju Harmoni

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id,...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama,...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...

Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI

Aliansi Indonesia Damai - Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah KH Saefudin Zuhri mengingatkan santri-santriwatinya untuk tidak menjadi pemberontak maupun teroris. Menurut dia, akidah ahli sunnah wal jamaah melarang menjadi pemberontak dan teroris kepada pemerintah yang sah.“Haram ya jangankan menjadi teroris, memberontak kepada pemerintah yang sah...

Membangun Semangat Perdamaian di Kalangan Santri

Aliansi Indonesia Damai - Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustazah menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah pada Sabtu (31/01/2026). Sebanyak 60 santri...

Menebar Benih Perdamaian di Jepara

Aliansi Indonesia Damai- Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustaz Hery Huzaery menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Muhammadiyah Blimbingrejo Jepara, Jawa Tengah pada Sabtu (17/01/2026). Sebanyak 56 asatidz/asatidzah...