HomeBeritaBersama Mengampanyekan Indonesia Damai

Bersama Mengampanyekan Indonesia Damai

Aliansi Indonesia Damai- AIDA bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung (FISIP Unila) menyelenggarakan Diskusi Indonesia Tangguh: “Belajar dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” pada Desember 2023 lalu. Kegiatan diselenggarakan dalam rangka menguatkan gairah mahasiswa untuk berjiwa tangguh dalam membina perdamaian.

Sebanyak 91 mahasiswa Universitas Lampung mengikuti kegiatan dengan tertib. Mereka menyimak penuturan kisah penyintas dan mantan pelaku terorisme yang dikemas dalam karya dokumenter. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama FISIP Unila, Dedy Hermawan, dan Hasibullah Satrawi, Ketua Pengurus AIDA, menjadi narasumber kegiatan.

Baca juga Dosen Unila: “Anak Muda Harus Bisa Memfilter Informasi”

Dedy menerangkan, kegiatan hasil kerja sama FISIP Unila dan AIDA bisa memperkuat literasi mahasiswa tentang isu perdamaian berikut tantangan-tantangannya. Pada dasarnya, katanya, mahasiswa memiliki idealisme dan jiwa kepedulian yang tinggi. Jika emosi mereka disulut, bisa membara. Akan menjadi sangat membahayakan, lanjutnya, jika yang masuk ke pikiran mereka bahkan sampai berkembang di kampus adalah gerakan-gerakan terorisme.

Ia pun menjelaskan bahwa FISIP Unila menggandeng AIDA untuk mengenalkan mahasiswa tentang perspektif korban dan mantan pelaku dalam memandang isu terorisme. Kisah korban dan mantan pelaku, menurutnya, bisa menumbuhkan nalar kritis di kalangan mahasiswa bila dihadapkan pada doktrin radikalisme berbasis kekerasan, yang secara luar biasa mampu membuat seseorang mau mengorbankan dirinya demi merusak kedamaian.

Baca juga Menggugah Semangat Perdamaian Kaum Aktivis di Unmal

Oleh sebab itu, dalam hematnya, sinergi banyak pihak diperlukan untuk menghadirkan perdamaian. “Jadi, mari kita sama-sama mengampanyekan Indonesia damai dan bisa menyebar ke daerah lain, bahkan mungkin ke negara-negara lain,” ujarnya.

Dedy bercerita pengalamannya sempat hampir terekrut masuk ke dalam kelompok ekstremis saat belajar di bangku SMA. Dalam kelompok tersebut, katanya, ia dicekoki materi keagamaan yang tidak lazim diajarkan di lembaga pendidikan, ideologi berbasis kebencian pada kelompok lain, juga kebencian terhadap pemerintah. Khas gerakan kelompok tersebut, katanya, bersifat bawah tanah.

Baca juga Menumbuhkan Budaya Memaafkan di Kalangan Generasi Muda

“Fenomena ini adalah realita. Banyak gerakan ideologis, ada juga gerakan yang bersifat hedonisme. Maka, payung Tridarma Pendidikan menjadi penting sebagai panduan bersikap, serta harus banyak kajian tentang hal tersebut untuk mendalami fenomena ini,” terangnya.

Potensi kekerasan dan konflik di Indonesia, khususnya di Lampung, menurut Dedy, sangat tinggi munculnya. Ia melanjutkan, peran masyarakat sipil (civil society) seperti AIDA, layak diapresiasi. Karena, inisiatif baik seperti AIDA hanya sedikit, sedangkan gerakan kekerasan dan kelompok ekstrem cukup banyak jumlahnya, bahkan masuk ke pelosok masyarakat. Dia berharap mahasiswa memainkan peran sebagai duta perubahan (agent of change) yang cukup aktif guna menghadirkan kedamaian di masyarakat.

Baca juga Perdamaian Wajib Diperjuangkan

“Kita harus mengawal negara ini. Program dan kebijakan harus untuk kesejahteraan masyarakat, sehingga peluang-peluang terjadinya terorisme itu bisa dicegah. Kita masih punya harapan bahwa jalan ke depan masih terbuka,” ujar Dedy memungkasi. [MSH]

Baca juga Mahasiswa Unila: “Kisah Korban dan Mantan Pelaku Penuh Wawasan”

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....