HomeBeritaMeningkatkan Pengetahuan dan Profesionalisme...

Meningkatkan Pengetahuan dan Profesionalisme Petugas Lapas

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Bina Narapidana dan Anak Binaan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS), Erwedi Supriyatno menyatakan petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) sangat memerlukan pengetahuan dan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya. Pasalnya, menurut dia, lapas berperan dalam melaksanakan rehabilitasi, reedukasi, resosialisasi dan integrasi terhadap warga binaan.

“Termasuk petugas lapas perempuan. Masalah utama warga binaan pemasyarakatan (WBP) perempuan kasus terorisme adalah sudah bebas namun belum berubah pemikirannya,” ujarnya dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan di Yogyakarta pada 11-12 Juni lalu.

Pelatihan yang bekerja sama dengan Ditjen PAS tersebut diikuti 25 petugas lapas dari 9 lapas perempuan dan 4 lapas laki-laki di wilayah Jabodetabek, Bandung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, dan Makassar. Ahli jaringan terorisme, Solahudin, mantan pelaku terorisme, Mukhtar Khairi, korban terorisme, Nanda Olivia Daniel, Andi Dina Noviana dan Budijono dihadirkan sebagai narasumber untuk memberikan materinya.

Menurut Erwedi, WBP perempuan kasus terorisme yang bebas berikrar NKRI jumlahnya sedikit, salah satu penyebabnya mungkin vonis hukum yang rendah. Saat ini, kata dia, jumlah WBP perempuan kasus terorisme yang masih di dalam lapas ada sembilan orang. “WBP perempuan banyak ditempatkan di lapas umum termasuk yang masih merah. Maka perlu kerja keras untuk menghijaukan mereka,” tuturnya.

Erwedi mengatakan pandangan radikalisme yang dimiliki perempuan sangat mengakar kuat dan dikhawatirkan akan terjadi ekstremisme kekerasan. Sebab karakter perempuan sangat kuat dalam memegang teguh pendirian atau ideologinya. Karena itu, kata dia, Ditjen PAS penting mempelajari hal tersebut agar tidak berdampak buruk dalam penanganan WBP perempuan kasus terorisme.

“Tren kenaikan bisa saja terjadi sehingga perlu diantisipasi, maka perlu peningkatan kapasitas terhadap petugas lapas perempuan,” ucapnya.

Erwedi mengungkapkan petugas lapas menghadapi kesulitan dalam menangani WBP perempuan kasus terorisme bahkan sangat sulit untuk diajak berkomunikasi. Meski begitu, petugas lapas tidak diperkenankan menggunakan kekerasan dalam pembinaan WBP.

Erwedi berpesan kepada para petugas lapas agar memanfaatkan pelatihan dengan baik untuk mendapatkan informasi dari mantan pelaku terorisme. Menurut dia, sebelum melaksanakan tugas sejatinya petugas lapas wajib melakukan profiling WBP dengan baik. “Profiling sebagai dasar menggali sedalam-dalamnya terhadap WBP, bagaimana kehidupan sosial, keterlibatan, keluarga, dan teman-temannya, termasuk perannya, jangan hanya sekedar meraba-raba,” jelas Erwedi.

Pentingnya profiling, lanjut dia, agar jika WBP berbohong, maka petugas akan mudah mendeteksi dan tepat dalam mengambil tindakan. [F]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair)...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...