HomeInspirasiAspirasi DamaiMemaafkan, Melampaui Derita

Memaafkan, Melampaui Derita

Memaafkan adalah proses yang rumit dan mendalam. Tidak sekadar ucapan “aku maafkan” atau membiarkan peristiwa yang menyiksa berlalu seiring waktu. Memaafkan melibatkan banyak aspek psikologis yang mendalam dan beragam. Masing-masing dari elemen tersebut memiliki kemampuan untuk membuat seseorang merasa lebih nyaman dan bebas dari beban emosional yang dipicu rasa sakit yang dialaminya.

Secara psikologis, memaafkan memiliki kemampuan untuk mengubah emosi negatif seperti kemarahan, dendam, dan kebencian menjadi emosi yang lebih positif seperti pengertian, perdamaian, dan empati terhadap orang yang menyakiti kita.

Baca juga Menjaga Keharmonisan di Tengah Masyarakat

Memaafkan, menurut Enright (2001), adalah proses. Dalam laporan penelitiannya bertajuk Forgiveness is a Choice:  Step-by-Step Process for Resolving Anger and Restoring Hope, memaafkan mencakup beberapa proses, seperti merasakan dan mengidentifikasi rasa sakit, membuat keputusan untuk memaafkan, berjuang melalui emosi negatif, dan akhirnya mencapai penerimaan dan transformasi.

Riset Enright ini menunjukkan bahwa seseorang harus tahu mengapa dia marah, dendam, dan benci terhadap seseorang. Ini berarti bahwa seseorang harus dapat memahami alasan atau perilaku apa yang membuatnya marah, dendam, dan benci terhadap orang lain dengan begitu mendalam. Setelah menentukan alasan dan perilaku yang menyakiti, orang harus menemukan alasan kuat mengapa harus memaafkan orang yang menyakiti dan membulatkan tekad menerima apa yang terjadi.

Baca juga Hari Internasional bagi Korban Terorisme: Mengenang dan Menguatkan Semangat Kemanusiaan

Rangkaian proses ini tentu membutuhkan refleksi mendalam sehingga menemukan sumber masalah dan solusi yang tepat, baik masalah tersebut berasal dari konflik internal maupun eksternal diri seseorang. Bisa dipastikan ada rasa sakit yang akan dialami seseorang dalam proses penggalian akar masalah, karena nyaris sama dengan mengorek luka dalam yang telah tertutupi kulit baru.   

Manfaat memaafkan

Berbagai ahli telah menemukan bahwa proses memaafkan berdampak pada kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh McCullough, Pargament, dan Thoresen (2000), yang berjudul Forgiveness: Theory, Research, and Practice, menemukan bahwa memaafkan dapat berkontribusi secara signifikan pada kesejahteraan psikologis (kesehatan) seseorang.

Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa orang yang mampu memaafkan cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan kualitas hidup yang lebih baik meskipun mereka telah mengalami kekerasan fisik yang parah.

Baca juga Cyberbullying

Kendati memiliki banyak manfaat, prosesnya juga merupakan tantangan yang besar karena tidak mudah melampaui trauma, ketakutan, dan derita yang telah dialami. Namun sulit tidak berarti tak bisa sama sekali. Memaafkan tidak hanya melepaskan kemarahan dan kebencian yang mengikat, tetapi juga melepaskan beban penderitaan sekaligus membuka ruang bagi ketenangan dan kebahagiaan dalam diri seseorang.

Selain baik untuk diri pribadi, memaafkan dapat memperbaiki hubungan dengan orang lain dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis. Tindakan ini tidak hanya menunjukkan kekuatan dan kedewasaan emosional, tetapi lebih dari itu memberikan kesempatan untuk tumbuh dan melanjutkan hidup tanpa beban berat masa lalu.

Singkat kata, memaafkan itu menyembuhkan!

Baca juga Perjumpaan dengan Korban Mengubah Pemikiran Mantan Pelaku Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...