HomeOpiniLompat Lari Arab Saudi

Lompat Lari Arab Saudi

Oleh: Hasibullah Satrawi

Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam

Ibarat lomba lari, posisi Arab Saudi selama ini bisa dibilang cukup “tertinggal” terkait dengan perannya dalam persoalan regional Timur Tengah maupun global, mulai dari persoalan Perang Gaza hingga Peran Ukraina. Padahal Arab Saudi sudah melakukan beberapa inisiatif sebagai cerminan dari peran dan tanggung jawab yang dilakukan selama ini (seperti pertemuan OKI dan pertemuan negara-negara Arab pada November 2023). Namun, insiatif-inisiatif yang ada belum mampu mendorong dan memperbaiki posisi Arab Saudi untuk mengejar ketertinggalannya.

Baca juga Strategi “Dua Tangan” Trump di Timur Tengah

Keberhasilan pertemuan petinggi Rusia dengan petinggi Amerika Serikat (AS) di Arab Saudi tidak lama ini (18/02) berdampak signifikan atas perbaikan posisi Negeri Dua Tanah Suci itu. Perbaikan posisi yang ada bisa terus memuncak bahkan bisa menjadi nomor satu bila pertemuan antara Donald Trump sebagai Presiden AS dengan Vladimir Putin sebagai Presiden Rusia benar-benar terlaksana di negara itu, terlebih lagi bila perdamaian antara Ukraina dan Rusia benar-benar tercapai.

Persamaan karakter

Dalam hemat penulis, keberhasilan pertemuan antara petinggi AS di bawah kepemimpinan Trump dan petinggi Rusia di bawah kepemimpinan Putin tidak terlepas dari persamaan karakter dari pucuk pimpinan tiga negara AS, Rusia dan Arab Saudi (khususnya Muhammad Bin Salman yang dikenal dengan sebutan MBS). Paling tidak karakter perlawanan terhadap “nilai-nilai Barat” yang selama ini kerap diterapkan oleh para pemimpin AS dari partai Demokrat seperti Presiden Joe Biden.

Bahkan karena nilai-nilai yang ada, tak jarang AS di bawah kepemimpinan presiden AS “yang ideolog” bersitegang dengan negara yang selama ini memiliki hubungan strategis seperti Arab Saudi terkait dengan persoalan pembunuhan Jamal Kashoggi yang membuat hubungan AS-Arab Saudi di bawah kepemimpinan Joe Bden terlihat sangat canggung. Pendekatan yang sempat dilakukan Arab Saudi dengan para pesaing AS seperti Tiongkok dan tentu saja Rusia bisa dipahami sebagai upaya perlawanan dan juga perimbangan yang coba dilakukan oleh Arab Saudi selama ini.

Baca juga Menyambut Gencatan Senjata Israel-Hamas

Pada tahap tertentu, perang Rusia terhadap Ukraina yang dikobarkan oleh Putin bisa dibaca sebagai perlawanan Rusia terhadap nilai-nilai yang coba “dipaksakan” oleh negara-negara Barat di bawah pimpinan AS. Terlebih lagi terkait dengan kemungkinan Ukraina bergabung dengan NATO yang menjadi garis merah bagi Putin.

Sementara dari AS sendiri, Trump selama ini melakukan perlawanan yang sempurna terhadap “nilai-nilai Barat” yang ditampakkan oleh Joe Biden. Terlebih lagi AS di bawah kepemimpinan Joe Biden mendukung Ukraina dalam melawan perang yang dikobarkan oleh Putin. Terutama juga karena AS di bawah kepemimpinan Joe Biden mendukung Israel yang diserang oleh Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023, di satu sisi, dan mendukung gencatan senjata antara Israel dengan Hamas, di sisi yang lain. 

Baca juga Timur Tengah 2025

Terkait kedua perang besar ini, Joe Biden mencoba untuk menerapkan “nilai-nilai Barat” yang selama ini lebih mendukung perdamaian global ketimbang kebijakan perang seperti yang pernah dilakukan AS di bawah kepemimpinan mantan Presiden Bush Junior dari partai Republik. 

Tapi sikap Putin yang terus menyerang Ukraina dan Israel yang terus membombardir Gaza membuat citra Biden seakan mendukung kedua perang yang ada sekaligus dianggap tidak konsisten dengan nilai-nilai Barat yang selama ini dikampanyekan.  Bahkan pada tahap tertentu, perang Gaza tak ubahnya “pasir isap” bagi Joe Biden dan Kamala Harris yang didukungnya; semakin bergerak maka semakin dalam Joe Biden dan Harris tersedot ke dalam jurang inkonsistensi. Hingga akhirnya Kamala Harris benar-benar kalah dan Trump menjadi pemenang Pilpres AS 2024.

Di samping persamaan karakter perlawanan terhadap nilai-nilai Barat, ketiga pemimpin Trump, Putin dan MBS sama-sama memiliki karakter “pebisnis” dengan logika saling menguntungkan dan membahagiakan. Dan pertemuan di Arab Saudi hampir pasti diyakini menguntungkan bagi tiga pihak sekaligus, baik pertemuan antar-Menlu yang telah dilakukan Selasa (18/2/2025) ataupun pertemuan antara kepala negara yang diperkirakan akan berlangsung akhir bulan Februari ini.

Penyelesaian dua perang

Pada bagian tertentu, pertemuan antara petinggi Rusia dan petinggi AS di Arab Saudi tak hanya berpotensi menyelesaikan perang yang berkobar antara Rusia melawan Ukraina. Lebih jauh, pertemuan tersebut juga berpotensi menyelesaikan perang yang terjadi antara Israel dengan Hamas di Gaza.

Baca juga Urgensi Pendidikan Perdamaian

Hal ini bisa terjadi melalui peran Arab Saudi yang sangat strategis di Timur Tengah secara umum dan dunia Arab secara khusus, terlebih apa bila Arab Saudi benar-benar berhasil mendamaikan antara AS, Rusia dan Ukraina. Sementara di sisi lain Rusia yang juga mulai didekati oleh Hamas bisa menggunakan pengaruhnya untuk mendorong faksi perlawanan tersebut agar menerima solusi yang ditawarkan.

Di sinilah terlihat sisi “strategis lain” di balik persetujuan dan kesepakatan pertemuan antara petinggi AS dan petinggi Rusia di Arab Saudi, khususnya dari perspektif Trump dan MBS. Dari perspektif Trump, pertemuan di Arab Saudi bisa digunakan untuk meyakinkan negara kaya minyak tersebut terkait “solusi perdamaian” ala Trump dalam perang Israel-Hamas, yaitu mengusir warga Gaza keluar dan menjadikan Gaza sebagai Riviera Timur Tengah.

Sejauh ini Arab Saudi sudah menyetujui separuh dari pemikiran Trump, yaitu menjadikan Gaza sebagai Riviera Timur Tengah. Terkait dengan pengusiran warga Gaza, Arab Saudi sejauh ini bersikeras menolaknya.

Baca juga Di Balik Ambruknya Rezim Al-Assad di Suriah

Di luar yang telah disampaikan, pertemuan di Arab Saudi bisa digunakan oleh Trump untuk meyakinkan negara kerajaan itu untuk segera menormalisasi hubungan dengan Israel. Isu normalisasi hubungan antara Arab Saudi (dan beberapa negara Arab Teluk lain) dengan Israel sempat berhembus kencang pada masa pemerintahan Trump periode pertama, walaupun yang melakukan normalisasi dengan Israel ternyata baru Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA).

Isu normalisasi hubungan antara Arab Saudi dengan Israel semakin hilang setelah terjadinya serangan 7 Oktober 2023 oleh Hamas yang dilanjutkan dengan perang membabi buta di Gaza oleh Israel. Sejauh ini Arab Saudi menegaskan bahwa tak akan ada normalisasi tanpa kemerdekaan Palestina.

Saat ini, ide pembangunan Gaza pascaperang berada pada fase yang sangat menentukan. Isu ini bisa menentukan apakah gencatan senjata sementara akan berubah menjadi perdamaian permanen atau justru memicu perang pecah kembali?  Pun demikian, isu ini bisa semakin menguatkan hubungan antarnegara seperti antara AS-Israel dengan Mesir-Yordania atau justru membuka krisis bahkan perang baru antara Israel dengan Mesir-Yordania.

Baca juga Narasi Sebuah Bangsa Hebat

Sejauh ini ada dua gagasan besar terkait pembangunan Gaza pascaperang. Pertama, gagasan Trump yang meminta warga Gaza dikeluarkan ke Mesir dan Yordania. Kedua, gagasan Mesir (dan dunia Arab secara umum) yang ingin merekonstruksi Gaza tanpa mengusir warganya.

Nah, di sinilah letak posisi dan peran strategis Arab Saudi ke depan. Saat ini Arab Saudi sangat berpengaruh di dunia Arab secara umum, khususnya dalam konteks Mesir dan Yordania.

Dalam perkembangan terbaru, Negara-negara Arab Teluk menggelar Pertemuan Persaudaraan di Riyadh pada hari Jumat kemarin (21/02) yang juga mengundang Presiden Mesir dan Raja Yordania.  Pada waktu yang bersamaan, Arab Saudi kembali mendapatkan pengaruhnya di jajaran pemerintahan AS yang bisa dibuktikan dengan pertemuan antara petinggi AS dan Rusia. Inilah posisi istimewa Arab Saudi saat ini yang tak dapat dilakukan oleh negara lain, baik dalam konteks Timur Tengah secara umum maupun dunia Arab secara khusus.

Inilah lompatan jauh Arab Saudi yang dilakukan sambil berlari dan membuatnya berada dalam posisi terdepan terkait upaya negara-negara global dan regional untuk mendamaikan Rusia-Ukraina dan juga Israel-Hamas.

* Artikel ini telah tayang di nu.or.id edisi Rabu, 26 Februari 2025.

Baca juga Menguatkan Komitmen Dunia Digital Ramah Anak

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...