HomeOpiniPuasa sebagai Terapi dan...

Puasa sebagai Terapi dan Ragam Perspektifnya di Benua Eropa

Oleh dr. Mohammad Qoimam Bilqisthi Zulfikar

(Wakil Ketua PCINU Belgia 2023-2025, Mahasiswa Magister European Public Health Université de Liège Belgia dan EHESP Prancis)

Artikel ini terbit di mediaindonesia.com edisi 10/3/2025

Setiap tahun, ketika bulan suci Ramadan tiba, jutaan umat Muslim di seluruh dunia memasuki fase transformasi spiritual dan fisik melalui ibadah puasa. Lebih dari sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, puasa adalah sebuah latihan disiplin diri yang telah diwariskan selama berabad-abad.

Dalam ajaran Islam, ibadah ini berfungsi sebagai pengendali diri, sebuah “rem” terhadap hawa nafsu, amarah, serta perbuatan buruk lainnya. Lebih dari itu, puasa menjadi manifestasi ketakwaan kepada Allah SWT sebagaimana tertuang dalam firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah ayat 183.

Baca juga Puasa dan Kemenangan Bangsa

Profesor Andreas Michalsen dari Rumah sakit Charité Berlin, satu dari enam rumah sakit milik pemerintah Jerman yang menawarkan terapi puasa, menjelaskan bahwa metode ini terbukti efektif dalam memperbaiki kualitas hidup pasien yang menderita sindrom metabolik serta penyakit sendi seperti osteoatritis.

Untuk mengoptimalkan manfaat puasa, rumah sakit menyediakan pula berbagai terapi penunjang, seperti pijat, terapi beku, dan latihan fisik. Hal tersebut bertujuan untuk menstimulasi dan meregulasi lebih baik proses autofagi, yakni mekanisme alamiah tubuh di “mode ¬hemat” melalui pemecahan protein dan komponen sel lainnya dalam mempertahankan homeostasis, yakni keseimbangan tubuh.

Menariknya, selain diresepkan langsung oleh dokter, terapi puasa ini di-reimburse oleh asuransi kesehatan. Popularitas terapi ini begitu tinggi, sehingga pasien harus menunggu antrean kurang lebih 6 bulan untuk bisa mengakses layanan ini. Bahkan, peminatnya tidak hanya berasal dari Jerman, namun juga dari berbagai negara lain di Eropa.

Di sisi lain, dalam perspektif evolusi biologis, Eric M. Verdin seorang peneliti biology of aging asal Belgia, mengungkapkan bahwa pada dasarnya, manusia tidak didesain untuk makan terus-menerus dan tanpa henti. Selama puluhan ribu tahun sebelum era modern, makanan tidak selalu tersedia dengan mudah. Manusia harus menanam, beternak, mengumpulkan atau berburu untuk mendapatkan makanan.

Baca juga Puasa; Kedamaian Diri untuk Perdamaian Bumi

Perubahan ini bertentangan dengan warisan genetik fisiologis manusia. Profesor Andreas Michalsen menambahkan bahwa manusia secara genetik memiliki performa lebih baik ketika ada jeda yang cukup antara siklus makan dan puasa.

Baca juga Mengulik Hikmah Puasa (Bag. 1)

Sementara itu, dalam perspektif psikologis, Christophe André, psikiater Prancis, dalam bukunya Méditer, jour après jour (Meditasi hari demi hari), menggambarkan bahwa obesitas adalah penyakit modern yang muncul akibat pletora, yakni segala sesuatu yang berlebihan.

Hal ini karena manusia modern hidup dengan serba “terlalu”, salah satunya terlalu banyak makan dan terlalu sering makan dengan jarak yang terlalu dekat. Segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan secara paralel juga akan menimbulkan konsekuensi yang besar pula, termasuk dalam konteks ini kesehatan manusia.

Baca juga Mengulik Hikmah Puasa (Bag. 2-terakhir)

Puasa berperan sebagai obat dan “rem” alami serta sebuah bentuk resistensi terhadap budaya konsumsi berlebihan yang mendominasi kehidupan manusia modern. Nyatanya, praktik ini telah “diresepkan” secara ilahi sejak 10 Sya’ban tahun kedua Hijriyah, melalui perintah Allah kepada Rasulullah dan umatnya, berabad-abad sebelum ilmu pengetahuan modern membuktikan.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...