HomeBeritaMembina Kebersamaan, Memperkukuh Organisasi

Membina Kebersamaan, Memperkukuh Organisasi

Beberapa saat forum terasa hening, hanya dua orang yang berbincang interaktif. Seorang yang duduk membeberkan beberapa permasalahannya, dari persoalan pribadi dalam keluarga atau pekerjaan, hingga permasalahan dalam organisasi Yayasan Penyintas Indonesia (YPI). Orang yang berdiri mendengarkan dan mencoba menawarkan solusi yang tepat.

Suasana tersebut muncul dalam kegiatanWorkshop Penguatan Psikososial Penyintas Terorisme yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Sabtu (7/5/2016). Sosok yang berdiri ialah pakar psikologi dari Yayasan Pulih, Kristi Poerwandari. Sementara yang duduk adalah peserta workshop, pengurus YPI dari Jakarta dan Bali.

Dalam kegiatan bertema “Menuju Hidup yang Lebih Bahagia dan Berdaya” itu, Kristi berulang kali membuka kesempatan kepada 12 orang peserta untuk terbuka mencurahkan segala permasalahannya. Menurutnya, mengungkapkan masalah dapat mengurangi beban dalam pikiran dan batin seseorang secara signifikan.

Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu menyampaikan dua materi dalam kegiatan tersebut, yaitu Masalah Sehari-hari dan Pengelolaannya, dan Bekerja Sama dengan Orang Lain. Materi pertama dimaksudkan untuk mengurangi beban permasalahan para penyintas yang bersifat pribadi. Di dalamnya, Kristi menjelaskan teknik menghadapi beragam permasalahan harian, khususnya di keluarga, yang acap kali mengakibatkan seseorang tertekan.

Secara umum Kristi menyarankan agar para peserta merespons secara positif segala permasalahan yang dihadapi. “Kunci hidup bahagia antara lain positive thinking, meluangkan waktu untuk beristirahat dan bersantai, serta memiliki hubungan sosial yang baik,” ujarnya.

Sementara itu, materi kedua difokuskan pada upaya menyelesaikan persoalan yang bersifat komunal, khususnya yang kerap muncul dalam sebuah organisasi. Psikolog senior itu mengajak peserta untuk mencurahkan segala permasalahannya yang bersifat sosial, terutama terkait dengan kerjasama antar pengurus YPI.

Saat proses curhat social ini, seluruh ganjalan yang menyumbat roda organisasi mulai terbuka dan ditemukan solusinya. Para peserta lantas diminta berdiskusi kelompok untuk menjawab pertanyaan tentang “Hal-hal yang harus dilakukan dan larangan dalam berorganisasi.”

Beberapa kata kunci yang muncul dari hasil diskusi antara lain kejujuran, menciptakan rasa kebersamaan, saling percaya, berpikiran positif dalam segala hal, saling menghargai, mendengar pendapat orang lain, gotong royong, menjalin komunikasi dan bersilaturahmi secara fisik, musyawarah, memahami dan menerima perbedaan, serta komitmen dan bertanggung jawab atas keputusan organisasi.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari program mental supportyang dikhususkan bagi pengurus YPI. Dalam hematnya, pengurus YPI di satu sisi adalah penyintas terorisme, pada saat bersamaan mereka juga harus mendampingi para penyintas lain sebagai anggota YPI. Karena itu, kegiatan ini berusaha memperkuat aspek-aspek psikis mereka, baik yang bersifat personal maupun komunal.

Hasib berharap, penguatan tersebut mampu memberikan solusi atas tantangan yang akan dihadapi baik secara pribadi maupun keorganisasian. “Sehingga terbentuk sinergi yang kukuh antar pengurus dan lebih menggairahkan gerak YPI sebagai wadah para penyintas dalam misi membangun Indonesia yang lebih damai tanpa kekerasan,” ujarnya.

Ia menerangkan bahwa saat ini hak-hak korban terorisme mulai ramai diperbincangkan di ruang publik, terutama terkait revisi UU No. 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang sedang dibahas di parlemen. Ia mengajak YPI sebagai wadah korban terorisme terlibat aktif dalam proses revisi tersebut demi memperjuangkan hak-hak korban yang selama ini belum terpenuhi oleh negara.

Sementara itu Ketua YPI, Sucipto Hari Wibowo, berterima kasih kepada AIDA karena telah memberi kesempatan para pengurus untuk mengikuti kegiatan ini. “Semoga setelah acara ini, kita dapat menjalani hidup lebih bahagia dan berdaya. Soliditas internal sangat penting, supaya roda organisasi YPI bisa berjalan mulus,” kata dia dalam kegiatan.

Sebelum materi utama dari pakar psikologi, Deputi Direktur AIDA, LaodeArham, memandu peserta menjalani sesi menggali harapan. Dalam sesi tersebut para peserta menyatakan bahwa niat mereka hadir dalam kegiatan ini adalah bersilaturahmi sesama pengurus, membangun kerja sama dan kekompakan, serta memperkuat organisasi YPI.

Proses kegiatan selama sehari penuh dihiasi dengan dinamika keterbukaan dan keakraban antar peserta. Para penyintas berupaya menyatukan hati dan pikiran untuk memajukan organisasi yang mewadahi seluruh korban terorisme demi mewujudkan Indonesia yang lebih damai. (MSY)[SWD]

 

 

*Artikel ini pernah di muat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi IX Juli 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....