HomeBeritaPendekatan Kisah Menuju Perdamaian...

Pendekatan Kisah Menuju Perdamaian Mantan Pelaku dan Korban Teror

Buku “Jangan Putus Asa: Ibroh dari Kehidupan Teroris & Korbannya”. (GATRA/Hidayat Adiningrat/FT02

 

Jakarta – Beragam kisah selalu muncul dalam kitab suci. Kitab suci berbagai agama kerap mencantumkan kisah-kisah di dalamnya, bukan hanya larangan dan anjuran. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia pun, pendekatan kisah menjadi salah satu ciri kebudayaan yang mengakar kuat. Keunggulan pendekatan kisah dibanding pendekatan lain adalah adanya kemampuan mendekatkan hubungan komunikator dengan pendengar.

Hal itulah yang mendasari Hasibullah Satrawi menulis buku berjudul “Jangan Putus Asa: Ibroh dari Kehidupan Teroris & Korbannya”. Buku yang diluncurkan di Hotel Akmani, Jakarta Pusat (24/2/2018) tersebut menuturkan banyak kisah kehidupan korban-korban aksi terorisme dan mantan pelaku teror. “Kenapa berisi kisah? Karena dengan tidak adanya jarak antara keduanya, empati dan simpati akan lebih mudah terbangun,” ucap Hasbullah.

Acara peluncurkan buku menghadirkan pembicara yaitu mantan teroris Ali fauzi Manzi, keluarga korban Bom Bali I Ni luh Erniati, guru besar UIN Prof. Azyumardi Azra, CBE dan Redaktur Pelaksana Harian Kompas Mohammad Bakir.

Ni luh Erniati menceritakan kisahnya ketika kehilangan suami akibat Bom Bali I pada 2012. Suami Erni bekerja sebagai kepala pelayan di Sari Club yang adalah lokasi kejadian bom. Saat itu, usia kedua putranya 9 dan 1.5 tahun.

Erni mengisahkan pengalamannya dengan perlahan. Sesekali ia menunda ceritanya. Mendengar kisah itu, beberapa peserta terlihat menundukan kepalanya. Seorang pria, yang juga salah satu dari keluarga korban, menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Saat ini, Erni bersama AIDA ke sekolah-sekolah untuk menceritakan kisah yang inspiratif dan memotivasi.

“Saya ceritakan kisah saya bukan mencari dikasihani tapi bagaimana cerita saya bisa motivasi anak-anak sekolah agar tumbuh rasa kasih sayang sehingga tercapai perdamaian. Kekerasan tidak harus dibalas kekerasan. Kebencian juga. Kemarahan bisa dibalas kasih sayang,” kata Erni.

Dalam buku tersebut juga tercantum kisah korban bernama Didik Hariyono. Pada wawancara yang dilakukan dengan Majalah Gatra beberapa waktu yang lalu, Didik bercerita, dia seharusnya tak masuk kerja pada Selasa 5 Agustus 2003 itu. Ia terserang alergi cukup parah hingga dokter menyuruhnya istirahat dua hari.

Namun karena merasa tidak betah, ia memutuskan untuk masuk kantornya di PT SHIELDS Indonesia yang terletak di Menara Rajawali, kawasan Mega Kuningan. Dalam perjalanan kembali ke kantor, usai makan siang, Didik melihat sebuah Toyota Kijang sedang dihentikan satpam di depan gedung Hotel JW Marriott.

Hanya berselang detik, mobil itu kemudian meledak, membakar, dan menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Termasuk tubuh Didik, yang terbakar, kemudian melayang, dan terempas dengan keras di sekitar Plasa Mutiara.

Namun, Didik mencoba untuk tidak menyerah. Keinginan untuk cepat sembuh itu pula yang membuat dia menahan rasa sakit yang teramat sangat. Setahun terbaring di rumah sakit dengan tubuh mengalami kerusakan yang cukup parah membuatnya kehilangan beberapa kemampuan dasarnya.

Kisah-kisah semacam itulah yang dimunculkan Hasibullah dalam bukunya ini. Dengan memunculkan kisah para korban, dia berharap kedamaian antara korban dan mantan pelaku terorisme bisa terjalin. “Lebih jauh lagi, saya berharap dengan membaca kisah ini tidak akan ada lagi aksi-aksi terorisme di negara ini,” kata Hasbullah.


Reporter : Hidayat Adhiningrat P

editor : Bernadetta Febriana

 

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Gatra.com 24 Februari 2018.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...