HomePilihan RedaksiSudjarwo Bangkit Kembali Merajut...

Sudjarwo Bangkit Kembali Merajut Mimpi

“Jangan pernah takut untuk bermimpi. Saya pernah punya mimpi dan mimpi itu hilang, namun saya bisa bangkit lagi dan bisa melewati masa-masa sulit itu. Apapun yang terjadi dengan kita, percayalah, itulah suratan takdir yang terbaik.”

Aliansi Indonesia Damai– Hari itu, 11 September 2004, meskipun sedang dihinggapi rasa lelah, Sudjarwo tetap berangkat bekerja ke Kantor Kedutaan Besar Australia di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Sudjarwo bekerja sebagai staf keamanan di kantor tersebut. Hari itu, ia mendapatkan giliran shift pagi.

Seperti biasa, sebelum melakukan tugas di bagian keamanan, Sudjarwo mengikuti apel pagi. Saat apel pagi, pimpinan apel sempat memperingatkan bahwa harus ada peningkatan keamanan karena terjadi ancaman teror. Apalagi dalam 2 tahun sebelumnya, beberapa aksi pengeboman menggemparkan Indonesia, seperti Bom Bali 2002 dan Bom JW Marriot tahun 2003. Bukan tidak mungkin Kedubes Australia juga menjadi sasaran dari aksi pengeboman.

Setelah apel pagi, Sudjarwo ditugaskan di bagian pengecekan kendaraan. Dia bertugas mengatur dan memberikan akses untuk kendaraan yang masuk. Segala sesuatu berjalan baik-baik saja, hingga jam menunjukkan pukul 10.30. Suara ledakan yang dahsyat mengagetkan dan memekakkan telinganya. Sudjarwo sempat bertanya-tanya pada temannya perihal suara apa yang baru saja terdengar. Namun belum sempat mendapatkan jawaban, Sudjarwo sudah tidak bisa lagi melihat apapun. Sudjarwo hanya bisa melihat kepulan asap putih dan mendengar gemuruh suara reruntuhan kaca di gedung sekitar.

Baca juga Tiga Kisah Kebangkitan Penyintas

Sudjarwo belum menyadari bahwa dirinya baru saja menjadi korban aksi pengeboman. Bahkan dia juga tidak tahu bahwa jaraknya sangat dekat dari titik pengeboman. Sesaat kemudian, Sudjarwo sempat melihat rekannya yang lain. Ia berusaha mengikuti rekannya yang tengah mencoba menyelamatkan diri. Sudjarwo mencoba berjalan namun kemudian terjatuh. Saat itulah Sudjarwo menyadari bahwa dirinya sedang terluka berat. Ia tidak pernah membayangkan akan berada di kondisi yang demikian. Segalanya hancur di depan matanya. 

Ketika terjatuh, tidak ada satu orang pun yang menolong Sudjarwo. Ia sempat terkatung-katung di tengah jalan sambil menahan rasa sakit. Orang-orang sibuk menyelamatkan diri masing-masing, sebagian lainnya mungkin takut untuk menolong. Beberapa waktu berselang barulah salah seorang menolong dan meletakkannya di trotoar. Sudjarwo ditinggal di bawah pohon bersama satu orang lainnya dengan luka yang parah di bagian kaki.

“Ada cerita yang lucu tapi menyedihkan. Ketika saya ditolong dan diletakkan di bawah pohon, banyak sekali semut merah yang datang mengerubungi saya. Saya mencoba untuk menyingkirkannya tapi tidak bisa. Semakin lama semakin banyak. Kami seperti bangkai yang dikerubungi semut. Itu sakitnya luar biasa,” ungkap Sudjarwo saat berbagi kisahnya di salah satu kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA).

Baca juga Memaafkan, Hilangkan Dendam

Setelah itu barulah datang pertolongan dan Sudjarwo dibawa ke RS Metropolitan Medical Centre (MMC). Ia mengalami luka parah, terutama di bagian tangan kirinya. “Kondisi yang paling parah adalah tangan kiri saya hancur. Jari manis, tengah, dan kelingking saya hancur. Hingga saat ini saya tidak bisa mengepalkan tangan sebab sendi-sendinya sudah tidak ada,” tutur Sudjarwo.

Awalnya, dokter yang menangani Sudjarwo menyarankan agar tangan kirinya diamputasi karena dianggap sudah tidak mugkin terselamatkan. Saat itu pihak keluarga menolak. Akhirnya diputuskan untuk  mengambil tindakan memotong tulang panggul dan dibentuk seperti tulang jari. Jadi ruas-ruas tulang jari yang sekarang adalah potongan dari tulang panggul Sudjarwo. Tentu tidak bisa dibayangkan rasa sakit yang dirasakannya ketika tulang panggulnya harus dipotong. Bahkan hingga kini masih terdapat proyektil yang bersarang di tubuhnya yang tidak bisa diambil karena alasan keselamatan. Proyektil tersebut di antaranya ada di bagian gigi dan tulang rusuknya.

Sudjarwo juga menjalani masa pengobatan di Singapura karena alat medis di Indonesia belum cukup lengkap. Selama satu tahun Sudjarwo harus menjalani terapi khusus untuk kakinya yang juga terkena dampak ledakan. “Ini adalah hasil uji terapi selama setahun. Alhamdulillah normal, meskipun tidak sempurna tapi ini adalah hasil terbaik yang Tuhan kasih sama saya,” ungkap Sudjarwo dengan tegar. 

Berdamai dengan Diri Sendiri

Tidak mudah bagi Sudjarwo menghadapi masa-masa sulit pasca ledakan Bom. Di usianya yang saat itu baru menginjak 21 tahun, ia merasa mimpi-mimpinya terenggut. “Ada kekecewaan yang sangat mendalam. Jiwa saya bergejolak, marah, sedih. Semuanya bercampur aduk. Dalam pandangan saya ledakan itu telah merenggut hidup saya. Saya seperti ditelanjangi, cita-cita saya dipangkas oleh mereka,” kenangnya.

Baca juga Setiap Ujian Pasti Ada Jalan Keluar

Sudjarwo banyak merenung. Ia bertanya-tanya pada diri sendiri, apa sesungguhnya rencana Yang Maha Kuasa di balik apa yang ia alami. Namun, Sudjarwo bersyukur, selama masa-masa sulit itu, keluarganya selalu ada untuk mendukung. Pada tahun 2007, ia memutuskan untuk menikah. Setelah menikah, istrinya pun selalu setia mendampinginya.

Sudjarwo juga sampat mengikuti konseling dengan Yayasan Pulih selama satu tahun untuk menyembuhkan traumanya. Selain itu, ia juga bergabung dengan Yayasan Penyintas Indonesia (YPI). Di sanalah, ia bertemu dengan banyak teman sesama penyintas untuk saling menguatkan. Di sana pula ia banyak menemukan inspirasi untuk bangkit. Itulah obat terbaik yang pernah ia dapatkan.

Seiring berjalannya waktu, Sudjarwo mulai memahami bahwa apapun yang terjadi bukanlah sesuatu yang harus disesali. Ia sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri meskipun itu bukanlah hal yang mudah. Sudjarwo pun sudah bisa memaafkan mantan pelaku. Bersama AIDA kini ia telah bergabung menjadi Duta Perdamaian.

Baca juga Mulailah Berdamai Dengan Diri Sendiri

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...