HomeBeritaSemangat Perdamaian SMA Al-Faqih...

Semangat Perdamaian SMA Al-Faqih Tasikmalaya

Aliansi Indonesia Damai- Paham yang mengarah kepada kekerasan harus ditolak, terutama oleh kalangan pelajar sebagai generasi penerus pembangunan bangsa. Kisah mereka yang pernah terlibat dalam paham dan aksi kekerasan terorisme bisa diambil hikmah oleh kalangan muda.

Hal ini dikemukakan oleh Syam Fauzan, Wakil Kepala Sekolah SMA Islam Terpadu Al-Faqih Tasikmalaya Jawa Barat, saat memberikan sambutan dalam Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” beberapa waktu silam. Kegiatan tersebut digelar oleh AIDA dalam rangka mengampanyekan perdamaian di kalangan pelajar. Kegiatan menghadirkan Sumarno, mantan pelaku terorisme, dan Susi Afitriyani, korban bom Kampung Melayu tahun 2017.

Baca juga Pesan Damai Guru Tasikmalaya

Syam Fauzan mengapresiasi kegiatan tersebut karena sesuai dengan semangat pendirian sekolahnya. Semangat perdamaian harus dipraktikkan dan dijiwai oleh setiap siswa. “Pondok Pesantren Al-Faqih ini didirikan oleh pendirinya dengan semangat dakwah melalui jalur pendidikan,” ujarnya.

Ia meminta agar para murid SMA IT Al-Faqih tidak menyiakan-nyiakan kesempatan untuk belajar dari pengalaman hidup narasumber yang dihadirkan oleh AIDA. “Kita harus bisa belajar dari mana pun dan sekarang kita bisa ambil hikmah dan ilmunya sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga bisa lebih damai lagi,” tutur Syam.

Baca juga Berbagi Kisah Inspiratif di SMAN 3 Serang

Dalam sesi inti, Susi Afitriyani atau akrab disapa Pipit berbagi kisah tentang jalan hidup yang harus ditempuhnya usai terkena ledakan bom. Ia menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya karena harus mengalami luka secara fisik dan psikis. Pipit adalah tulang punggung bagi keluarganya karena sang ayah meninggal dunia. Ia kuliah dengan biaya mandiri sembari bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

Pipit mengalami trauma akibat peristiwa yang terjadi 3 tahun silam itu. Namun seiring perjalanan waktu, dengan dukungan teman-teman kuliah dan sesama penyintas, perlahan dirinya bisa bangkit dari keterpurukan. “Alhamdulillah saya terasa terlahir kembali. Meski fisik saya tidak sempurna, saya mencoba melampaui rasa sedih dan menjadi lebih baik,” ungkap Pipit.

Baca juga Berdamai dengan Masa Lalu

Sementara Sumarno berbagi kisah tentang keterlibatannya di dunia kekerasan. Ia terlibat sebagai penyuplai senjata dalam konflik Poso-Ambon tahun 1999-2000. Atas keterlibatan tersebut, Sumarno dihukum penjara selama 3 tahun. Kesadaran dan perubahan sikap Sumarno dimulai ketika berada di penjara. Dirinya menyadari bahwa banyak kemudaratan dari perbuatan yang dahulu ia yakini benar.

Pengalaman kelam itu mendorongnya untuk berbagi kisah agar tidak ada siswa yang terjebak dalam kelompok terorisme. Ia mengaku semakin yakin untuk terlibat dalam kampanye perdamaian setelah bertemu para korban yang dengan jiwa besar memaafkan kesalahannya. “Hati saya tersayat mendengar kisah para korban. Saya meminta maaf. Alhamdulillah beliau-beliau ini memaafkan,” ucap pria yang punya nama alias Asadullah itu.

Baca juga Ada Kemudahan di Balik Kesulitan

Di akhir kegiatan, salah seorang siswa mengaku terkesan dengan kisah hidup korban bom yang dengan ikhlas memaafkan perbuatan pelakunya. Ia mengaku terinspirasi dari korban untuk menyebarkan perdamaian di lingkungannya. “Saya terkesan dengan kisah korban. Berbagai cobaan hidup yang dijalani, tidak mungkin melampaui batas kemampuan seseorang. Kita bisa melampaui cobaan hidup,” ucapnya.[FS]

Baca juga Pembelajaran dari Penyintas dan Mantan Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....