HomeBeritaKomitmen Damai Pelajar SMK...

Komitmen Damai Pelajar SMK PGRI Wajak Malang

Aliansi Indonesia Damai- SMK PGRI Wajak merupakan satu dari sejumlah sekolah di Kabupaten Malang yang dikunjungi AIDA beberapa waktu lalu. Puluhan peserta dari pelbagai kelas belajar ketangguhan dari kisah para korban dan mantan pelaku terorisme.

Kegiatan diawali dengan pembagian kelompok sebagai simulasi untuk membentuk karakter kepemimpinan dan semangat kerja sama di kalangan siswa. Dalam kelompok tersebut, para siswa mendiskusikan berbagai hal yang disukai dan membayangkan apa jadinya jika hal-hal yang disukai tersebut terkena ledakan bom.

Baca juga Penyintas Bom Menginspirasi Siswa SMK Turen Malang

Setelah itu para siswa diajak mendengarkan kisah dari para korban yang terdampak dari peristiwa pengeboman. Para korban bercerita masa-masa kritis dan dampak yang ditimbulkan akibat terkena bom, mulai dari dampak fisik, psikologis, hingga ekonomi. Sebagai wujud dari ketangguhan, para korban mengaku telah bangkit dari rasa sakit, bahkan ikhlas memaafkan pelaku.

AIDA juga menghadirkan mantan pelaku terorisme untuk berbagi kisah perjalanan kehidupannya. Mereka berbagi pengalaman keterlibatannya dalam kelompok ekstremisme kekerasan, sekaligus membentengi generasi muda agar tidak terperangkap ke dalam jurang yang sama. Dengan penuh penyesalan, mantan pelaku menyampaikan permintaan maaf kepada korban dan berjanji tidak akan kembali melakukan tindak kekerasan.

Baca juga Gema Perdamaian dari SMK Sunan Ampel Malang

Salah seorang siswa menyampaikan kesan-kesannya setelah mendengar kisah-kisah korban dan mantan pelaku. Ia mengaku mendapatkan wawasan baru tentang gelapnya dunia terorisme. Meskipun demikian, ia mengapresiasi sikap mantan pelaku yang menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada korban dan keluarganya. 

Siswi Menyampaikan Kesan Dalam Kegiatan Kampanye Perdamaian.

Ia juga terinspirasi dengan kebesaran hati korban yang berkenan memaafkan. “Sebagai sesama makhluk hidup, sesama manusia, kita harus bisa saling memaafkan, seperti korban yang memaafkan mantan teroris,” ucapnya. 

Siswa lainnya mengaku bersyukur diberi kesempatan mengikuti kegiatan AIDA. “Saya merasa bangga AIDA bisa datang ke sini. Setelah kegiatan ini saya semakin semangat untuk berjuang menjadi (lebih) tangguh lagi,” tuturnya. Ke depannya, ia berkomitmen untuk terus belajar agar terhindar dari doktrin-doktrin kekerasan. (FAH)

Baca juga Cerdas Bermedia Sosial

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan...

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...