HomePilihan RedaksiKorban Bom Kuningan Berdamai...

Korban Bom Kuningan Berdamai dengan Kenyataan

Untung tak diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah kehidupan manusia. Keberuntungan maupun kemalangan seringkali datang tiba-tiba tanpa dinyana. Firasat acapkali menghampiri, namun manusia sering gagal memahami maknanya sampai tiba masanya. Hal demikian dialami oleh Josuwa Ramos, korban bom Kedutaan besar Australia (Bom Kuningan) 2004.

Kala itu ia adalah pemuda yang sedang bersemangat bekerja menafkahi keluarga yang baru dibinanya selama beberapa bulan. Namun musibah 9 September 2004 sempat meredupkan semangatnya. Pagi itu Jo, sapaan akrab Josuwa, merasa tidak enak badan sehingga merasa malas berangkat kerja. Padahal biasanya selepas bangun tidur pada jam 5 pagi, ia lekas bersiap berangkat kerja.

Baca juga Ketegaran Korban Bom Kuningan

Karena harus menandatangani kontrak kerja sebagai petugas keamanan di Kedubes Australia, Jo memutuskan tetap berangkat bekerja. Dalam perjalanan, sepeda motornya sempat mogok. Jo bisa tiba di kantor atas bantuan temannya yang kebetulan melintas.

Sesampainya di tempat kerja, Jo langsung menempatkan diri di pintu gerbang utama yang bertugas memeriksa kendaraan yang hendak memasuki kompleks Kedubes Australia. Namun lantaran kondisi fisiknya yang kurang bugar, ia bertukar posisi tugas ke bagian dalam gerbang.

Baca juga Berjuang untuk Sesama Korban Bom

Sekira pukul 10.15 WIB, Jo mendengar suara seperti drum besar terjatuh. Dirinya terpental. Pandangannya terhalang asap putih pekat yang mengepul tak jauh posisinya berada. Saat asap menipis, Jo melihat rekan-rekannya tergeletak di tanah dengan luka di sekujur tubuh. Ada pula yang sudah tak bernafas lagi.

Jo bergegas mengevakuasi seorang temannya ke rumah sakit terdekat dengan berjalan kaki. Usai berhasil mengantarkan temannya, Jo hendak balik ke lokasi ledakan untuk membantu temannya yang lain. “Tiba-tiba saya terjatuh. Ternyata celana saya basah kuyup oleh darah yang mengucur dari kaki,” katanya mengenang.

Baca juga Korban Bom Kuningan Merasa Beruntung Meski Cidera

Jo lantas dirawat di ruang IGD rumah sakit. Saat itulah ia melihat sejumlah rekan kerjanya juga berada di situ dengan luka yang jauh lebih parah ketimbang dirinya. Usai mendapatkan sejumlah jahitan di beberapa bagian tubuhnya, Jo diperbolehkan pulang. Saat itu rumah sakit memprioritaskan perawatan bagi korban-korban yang mengalami cedera parah.

Tiga hari usai peristiwa, sendi kaki dan tangannya membengkak sehingga tidak bisa digerakkan. Jo merasakan sakit yang teramat sangat hingga tidak bisa berjalan. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan: serpihan logam sebesar ibu jari masuk di tulang keringnya, proyektil menancap di tempurung lututnya, dan beberapa serpihan lainnya menancap di beberapa organ tubuhnya.

Baca juga Memahami Rencana Tuhan

Serpihan di tulang keringnya berhasil diangkat, tetapi proyektil kecil di tempurung lututnya dibiarkan karena sangat berisiko jika dilakukan pembedahan. Beruntung pada tahun 2007, ia mendapatkan referensi untuk melakukan operasi di Singapura. Proyektil kecil di lututnya berhasil diambil, namun jaringan sarafnya ada yang terputus sehingga harus dilakukan perawatan rutin.

Baca juga Meluaskan Jiwa Merangkul Luka

“Sampai sekarang saya harusnya masih melakukan penyuntikan botox untuk melunakkan otot di lutut saya. Tetapi karena terlalu lama, saya mengambil cara lain, yaitu mencoba bertahan apa adanya dengan obat-obatan untuk meringankan sakit saya,” ujar Josuwa.

Masih ada serpihan-serpihan kecil yang bersarang di beberapa bagian tubuhnya yang tidak bisa diangkat. Namun ia berusaha berdamai dengan kenyataan dan memilih menyesuaikan diri dengan kondisi tubuhnya.

Baca juga Tafakur Menyembuhkan Lukanya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berempati kala Kritis

Aliansi Indonesia Damai- Pagi menjelang siang, 9 September 2004, di dalam Bus...

‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

Usai melaksanakan shalat idulfitri, warga Desa Genito, Windusari, Magelang, Jawa Tengah...

Kala Penyintas Bom Memerjuangkan Hak Asuh

Aliansi Indonesia Damai- “Setelah kejadian itu, Ibu tidak bisa melukiskan perasaan...

Pemaafan Penyintas Bom Thamrin untuk Perdamaian

Marah adalah sifat manusiawi ketika seseorang merasa tidak nyaman atau merasa...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...