HomeBeritaNiat Mungkin Baik Aksinya...

Niat Mungkin Baik Aksinya Salah

“Di dunia mantan pelaku (terorisme), sesungguhnya sama dengan kita. Mereka sebenarnya punya keinginan dan cita-cita yang luhur. Ingin membantu yang lain. Hanya saja karena cara yang digunakan, keluhuran cita-cita itu tertutupi oleh ketidakluhuran cara yang mereka lakukan.”

Aliansi Indonesia Damai- Pernyataan itu disampaikan Hasibullah Satrawi, penulis buku Jangan Putus Asa, Ibroh dari Kehidupan Mantan Teroris dan Korbannya dalam acara bedah buku karyanya yang diikuti oleh mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis (23/07/2020). Kegiatan tersebut digelar AIDA secara daring bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Unesa.

Baca juga Virus Ekstremisme Tak Kenal Sasaran

Selama beberapa tahun terakhir, Hasibullah mendampingi jalan pertobatan sejumlah mantan pelaku terorisme di Indonesia. Berdasarkan pengalamannya, ia memandang bahwa tidak semua pelaku terorisme memiliki niatan jahat untuk melukai orang lain.

Hanya saja menurut dia, karena tidak mendapatkan informasi dan pengetahuan yang benar, pelaku terorisme melakukan tindakan-tindakan yang justru merusak kehidupan orang lain. “Kita harus bijaksana dan fair, mengatakan apa yang benar dari mereka. Hanya tidak semua pelaku ini diberikan informasi yang cukup apa yang harus dilakukan,” ujarnya.

Baca juga Rentan Menjadi Ekstremis

Pelaku terorisme mulanya memiliki cita-cita luhur untuk membantu saudara-saudara muslim yang tengah terzalimi. Namun niat baik mereka kemudian tertutupi oleh tindakan-tindakan merusak yang mereka lakukan sendiri. Hal itu disebabkan oleh ideologi paham kekerasan yang menjadi faktor pendorong perbuatan teror itu sendiri.

Sebagai bukti keluhuran niat, para pelaku terorisme selalu melandaskan perbuatan-perbuatannya untuk membantu atau membela umat muslim yang tengah tertindas, baik itu yang terjadi di wilayah-wilayah konflik di tanah air maupun di luar negeri.

Baca juga Mewaspadai Penganut Takfiri Kekerasan

Hasibullah lantas mengajak mahasiswa untuk mengambil pembelajaran dari kehidupan mantan pelaku terorisme yang telah insaf. Bahwa sebesar apa pun kesalahan seseorang, selalu ada waktu untuk bertobat dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

“Belajar dari mantan pelaku, seberapa besar pun dosa kita, masih ada kesempatan untuk memperbaiki. Kalau kita mau berubah selalu ada harapan,” kata lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir itu. [AH]

Baca juga Mahasiswa Unesa Belajar Pemaafan Penyintas Bom

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...