HomeBeritaMenghindari Doktrin Kekerasan

Menghindari Doktrin Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai-“Usia kami usia remaja yang masih labil sehingga mudah terdoktrin. Lalu bagaimana agar kita tidak mudah terdoktrin?” Pertanyaan tersebut disampaikan seorang peserta kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama menjadi Generasi Tangguh” yang dilaksanakan AIDA secara daring di MAN 2 Klaten, Jawa Tengah, sepekan silam.

Pertanyaan tersebut terlontar setelah menyimak penuturan mantan pelaku ekstremisme kekerasan, Sumarno. Menanggapi pertanyaan itu, Sumarno, mewanti-wanti agar generasi remaja belajar agama secara serius dengan bimbingan guru yang mu’tabar (otoritatif) dan memahami betul kandungan Al-Qur’an dan Sunnah, tidak sekadar mengikuti tren.

Baca juga Kepala SMKN 1 Klaten Dorong Siswanya Terlibat Perdamaian

“Untuk menghindari doktrin-doktrin yang menyeleweng dan menyesatkan, maka kita harus memilih guru yang jelas keilmuannya, seperti para ulama yang ada di MUI, Muhammadiyah, atau NU (Nahdlatul Ulama: red),” ujarnya.

Lebih dari itu, remaja harus menghindari kelompok/organisasi yang menghalalkan segala cara  untuk mencapai tujuannya, termasuk kekerasan. Ia juga mengimbau agar remaja bijak dalam menggunakan media social, karena kini tak sedikit orang memutuskan bergabung dengan kelompok ekstrem setelah belajar dari dunia maya.

Baca juga Tak Cacat Ilmu

Dalam kesempatan yang sama, Hasibullah Satrawi, Ketua Pengurus AIDA, meminta para pelajar dapat mengidentifikasi doktrin-doktrin kelompok ekstremis. Menurut dia, pada umumnya ajaran ekstremisme berbeda dengan ilmu yang disampaikan oleh para guru di sekolah dan kebanyakan tokoh agama di Indonesia.

“Misalnya, silakan hormat kepada orang tua, asal masih satu keyakinan dengan kita. Itu sudah nyeleneh. Karena orang tua harus dihormati meskipun beda keyakinan dengan kita. Kita harus memerlakukannya dengan baik, muamalah hasanah,” katanya memisalkan.

Hasibullah menyatakan, apabila para pelajar mempunyai teman yang sudah terjerumus ataupun tertarik dengan ajaran ekstrem, para pelajar dapat menghubungi AIDA. Supaya dapat dicarikan solusi bersama dengan tokoh-tokoh yang otoritatif terhadap ideologi serta dampak ideologi kekerasan tersebut.

Baca juga Semangat Damai dalam Perbedaan

“Kita tidak cukup hanya dengan menyalahkan, tetapi juga harus ‘mensalehkan’ untuk membuat seseorang sadar bahwa aksi kekerasan dari doktrin ekstrem tersebut hanya akan menimbulkan dampak yang merugikan saudaranya sendiri,” tuturnya.

Ia berpesan agar para pelajar tak usah mengikuti tren tanpa memahami persoalan secara mendalam. Contohnya, hari-hari ini tengah marak seruan untuk mengikuti unjuk rasa yang sebagian berujung kerusuhan. “Usia kalian adalah usia pembelajar. Belajar yang benar dan mengukir prestasi adalah cara yang tepat agar kelak dapat menjadi orang yang berkeadilan.” ucapnya memungkasi. [FL]

Baca juga Meneladani Kisah Korban Bom Bali

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...